Tue,11 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. ‘My Crazy Feminist Girlfriend’ Menantang Male Gaze Asia Timur dan Panik Maskulin Atas Feminisme

‘My Crazy Feminist Girlfriend’ Menantang Male Gaze Asia Timur dan Panik Maskulin Atas Feminisme

‘my-crazy-feminist-girlfriend’-menantang-male-gaze-asia-timur-dan-panik-maskulin-atas-feminisme
‘My Crazy Feminist Girlfriend’ Menantang Male Gaze Asia Timur dan Panik Maskulin Atas Feminisme
service

Keputusan Netflix Jepang mengadaptasi novel populer Korea Selatan ‘My Crazy Feminist Girlfriend’ menjadi film, menandai babak baru dalam sinema komersial yang berani menyentuh isu sensitif. Dari Seoul ke Tokyo, perjalanan kisah ini seperti cermin. Ia menunjukkan bahwa ketakutan kelompok maskulin atas kesetaraan gender adalah fenomena sistemik yang nyata di Asia Timur dan berakar pada urat saraf yang sama.

Dalam novel ‘My Crazy Feminist Girlfriend‘, cerita berpusat pada hubungan yang mendadak canggung. Alkisah, seorang laki-laki konservatif—yang merasa dirinya nice guy—bertemu kembali dengan mantan kekasihnya yang telah bertransformasi menjadi feminis vokal.

Melalui kacamata narator laki-laki yang defensif, kagok, sekaligus kagum dan takut menghadapi gagasan kesetaraan, kita disuguhi benturan ideologi dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari standar kencan, pembagian peran, hingga perlawanan terhadap ekspektasi atas tubuh perempuan.

Maka adaptasi ‘My Crazy Feminist Girlfriend‘ menjadi film versi Jepang ini menjadi momen menarik yang ditunggu-tunggu. Ini untuk membaca ulang transformasi narasi perlawanan tersebut. Misalnya, ketika berpindah dari satu budaya pop Asia Timur ke budaya lainnya.

Baca Juga: Gerakan Tuli Indonesia Tidak Bisa Berjalan Sendiri dan Feminisme Menjelaskan Alasannya

Menyambut rilis adaptasi sinematik ini, kita diajak menyelami ketegangan intim antara laki-laki dan perempuan yang tidak pernah berdiri di ruang hampa yang steril dari politik gender. Perfilman Jepang selama ini kerap menghadirkan tropes perempuan submisif dalam bingkai romansa komersial. Kini mereka ditantang untuk menghadirkan narasi yang lebih kritis, tajam, dan penuh introspeksi terhadap ketimpangan relasi kuasa yang selama ini dianggap biasa.

Dalam novel ‘My Crazy Feminist Girlfriend‘, penulis Min Ji-hyung dengan cermat menggambarkan sosok perempuan feminis dalam novel ini bukan sebagai pahlawan super yang sempurna. Melainkan sebagai manusia berdaya yang mengambil keputusan sadar atas tubuh dan hidupnya.

Tokoh perempuan utamanya, Dah-eum, tidak ragu meruntuhkan ekspektasi male gaze. Ia memotong pendek rambutnya, menanggalkan riasan wajah, hingga menolak memakai bra demi kenyamanan tubuhnya sendiri. Bagi tokoh laki-laki sebagai narator, pilihan-pilihan fisik tersebut dipersepsikan sebagai bentuk “ancaman” atau perubahan drastis yang radikal. Namun bagi Dah-eum, semuanya merupakan langkah paling mendasar untuk merebut kembali otonomi atas dirinya dari kungkungan standar kecantikan patriarkal.

Salah satu contoh benturan ideologi yang paling menarik dalam plot justru muncul dari hal-hal kecil sehari-hari yang acap kali dianggap sepele. Seperti persoalan split bill dan etika di ruang publik.

Baca Juga: Kamu Menertawakan Feminisme di Indonesia? Padahal Hasil Kontribusinya Kamu Nikmati Hari Ini

Seung-jae merasa dirinya sudah menjadi “laki-laki progresif” hanya karena mau membagi tagihan atau bersikap sopan. Tapi Dah-eum justru membongkar standar ganda tersebut ketika Seung-jae tertawa atau memilih diam atas lelucon seksis teman-teman prianya.

Bagi Seung-jae, menjaga harmoni sosial sesama laki-laki adalah hal utama. Namun bagi Dah-eum, berdiam diri di hadapan perilaku seksis adalah bentuk kompromi terhadap penindasan. Momen ini memperlihatkan betapa dalamnya jurang antara laki-laki yang merasa dirinya “lelaki baik-baik” dengan perempuan yang hidup dengan kesadaran gender kritis.

Ketegangan dalam alur cerita pun dibangun melalui gesekan ideologis, bukan sekadar melodrama picisan. Mulai dari negosiasi standar kecantikan hingga ekspektasi peran gender yang telah terinternalisasi.

Melalui perdebatan yang intens dan sering kali bernada satir, pembaca diajak menyadari beberapa hal. Misalnya, bahwa cinta romantis yang kerap diagungkan budaya pop sejatinya juga menyimpan struktur kekuasaan yang timpang. Dalam relasi heteronormatif konvensional, kenyamanan dan ketenangan pihak laki-laki kerap dibayar mahal dengan pembungkaman suara serta kompromi terhadap otonomi perempuan.

Secara ekstrinsik, karya ini lahir dari rahim perlawanan perempuan atas ketidakadilan sistemik di Korea Selatan. Ini dipicu berbagai rentetan kekerasan berbasis gender serta menguatnya gerakan Escape the Corset (Tal-korset).

Pilihan tokoh utama perempuan untuk memotong pendek rambutnya, membuang kosmetik, hingga menolak penggunaan bra bukan sekadar pilihan estetika personal. Semua itu merupakan aksi politik. Sebuah pembangkangan fisik untuk merebut kembali kontrol atas tubuh dari standar kecantikan ketat yang dipaksakan oleh male gaze dan industri patriarkal.

Baca Juga: Kamus Feminis: Feminisme Postmodern, Melawan Narasi Seksis dan Bias Gender di Media

Lahirnya novel Korea hingga adaptasinya di Jepang juga tidak bisa dilepaskan dari menguatnya iklim anti-feminism backlash di kedua negara Asia Timur tersebut. Meningkatnya kesadaran gender perempuan kerap direspons dengan kepanikan moral oleh kelompok laki-laki muda. Mereka merasa posisi dan privilese sosial mereka terancam.

Melalui novel ‘My Crazy Feminist Girlfriend‘, Min Ji-hyung dengan cerdas meminjam sudut pandang narator laki-laki untuk mengupas fenomena male victimhood. Yakni kecenderungan laki-laki memosisikan diri sebagai “korban baru” dan bersikap defensif hanya karena perempuan menuntut hak serta kesetaraan yang paling mendasar.

Fenomena “panik maskulin” ini semakin terlihat ketika wacana feminisme ditarik ke ranah politik praktis di kedua negara. Retorika anti-feminisme kerap dimanfaatkan untuk meraup suara pemilih laki-laki muda yang merasa tersisih. Ketakutan akan hilangnya dominasi dalam ranah domestik maupun profesional kemudian melahirkan narasi bahwa “feminisme merusak tatanan keluarga”. Ini terus diproduksi melalui forum daring maupun panggung politik.

Padahal, di balik sentimen anti-feminisme tersebut, terdapat realitas yang jauh lebih mendesak untuk dibenahi. Diskriminasi struktural di tempat kerja, kesenjangan upah gender (gender pay gap), ketimpangan beban kerja domestik, kekerasan dalam hubungan (dating violence), hingga maraknya kejahatan kamera tersembunyi (molka) di Korea Selatan. Juga pelecehan seksual di transportasi umum (chikan), serta pelecehan seksual di tempat kerja (seku-hara) di Jepang.

Baca Juga: Membaca Aksi Berani Luna Maya dan Maxime Bouttier dalam Perspektif Feminisme

Semua persoalan tersebut justru menunjukkan bahwa feminisme telah melampaui sekadar pilihan gaya hidup. Bagi banyak perempuan, feminisme merupakan kebutuhan mendesak untuk bertahan hidup.

Penyematan kata “gila” pada judul karya ini dapat dibaca sebagai taktik dekonstruksi terhadap gaslighting dan pembingkaian peyoratif yang kerap dialamatkan kepada perempuan sepanjang sejarah patriarki.

Perempuan yang menolak menjadi objek pasif dan berani menuntut hak dasarnya sering kali dengan cepat dilabeli histeris, tidak rasional, atau terlalu radikal. Label “gila” menjadi senjata yang mudah digunakan untuk mendiskreditkan argumen kritis perempuan. Tanpa perlu repot-repot merefleksikan privilese maupun ketimpangan sistemik yang selama ini menguntungkan laki-laki.

Stigma itulah yang kemudian ditampar balik oleh cerita ini melalui perlawanan terhadap kenyamanan male privilege. Hal yang dianggap sebagai “kegilaan” oleh narator laki-laki sejatinya merupakan respons yang sangat rasional atas ketidakadilan yang dialami perempuan sehari-hari.

Baca Juga: Seperti Menemukan “Rumah” yang Hilang, Ketika Saya Hidup sebagai Feminis dan Menemukan Feminisme Islam

Narasi ini menyindir sikap egois laki-laki yang kerap menuntut pasangannya untuk tetap manis, submisif, dan “menyenangkan” demi menjaga kenyamanan emosional sekaligus status quo posisi mereka.

Kesadaran kritis semacam inilah yang membuat kehadiran adaptasi film ‘My Crazy Feminist Girlfriend‘ menarik untuk dibaca dalam konteks sinema populer Asia. Sebuah alur cerita tidak lagi harus berkompromi dengan ego patriarki demi sekadar menyenangkan pasar.

Pada akhirnya, kisah ini mengajak penonton dan pembaca bercermin secara jujur. Apakah kita benar-benar mencintai pasangan sebagai manusia yang utuh dan setara? Atau sebenarnya hanya mencintai kenyamanan dari proyeksi ideal tentang perempuan yang tidak pernah mempertanyakan privilese kita?

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.