Thu,16 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Kemarau Panjang Ancam Pertanian, Hama Baru Bermunculan dan Risiko Gagal Panen Kian Nyata

Kemarau Panjang Ancam Pertanian, Hama Baru Bermunculan dan Risiko Gagal Panen Kian Nyata

kemarau-panjang-ancam-pertanian,-hama-baru-bermunculan-dan-risiko-gagal-panen-kian-nyata
Kemarau Panjang Ancam Pertanian, Hama Baru Bermunculan dan Risiko Gagal Panen Kian Nyata
service

Lebak, NU Online

Kemarau panjang yang dipicu pemanasan global dan fenomena El Nino tidak hanya menyebabkan lahan pertanian mengalami kekeringan, tetapi juga memunculkan ancaman baru berupa lonjakan hama yang berpotensi memperparah gagal panen.

Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa krisis iklim kini telah mengubah pola ancaman terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.

Sekretaris Lembaga Pengembangan Pertanian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPP PBNU) Candra Apriyanto mengatakan bahwa dampak pemanasan global dan El Nino telah memicu kemunculan hama-hama baru di lahan pertanian Indonesia.

“Dampak pemanasan global dan El Nino di Indonesia ini melahirkan hama-hama baru,” ujarnya saat ditemui NU Online di sela-sela panen perdana Beras NU di Desa Sukamanah, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, pada Senin (6/7/2026).

Candra mengungkapkan bahwa banyak kalangan, termasuk para ahli pertanian, memperkirakan musim panen tahun ini akan diwarnai tingginya angka kegagalan panen.

“Banyak yang memprediksi, termasuk ahli pertanian juga memprediksi bahwa tahun ini, pada periode panen ini, banyak sekali mengalami kegagalan panen,” katanya.

Menurutnya, salah satu penyebabnya ialah perubahan pola penyebaran organisme pengganggu tanaman akibat El Nino. “Kenapa? Karena tadi El Nino itu membawa pestisida dari luar melalui serangga kemudian kawin dengan serangga atau hama lokal, kemudian melahirkan hama-hama yang baru,” jelasnya.

Dia menilai petani harus segera memperkuat upaya pencegahan agar serangan hama tidak semakin meluas. “Penting bagi petani untuk mengantisipasi lonjakan hama-hama itu dengan memberikan pupuk organik,” tegasnya.

Candra mendorong pemerintah mengambil langkah nyata untuk mengantisipasi lonjakan hama yang semakin meningkat selama musim kemarau. “Saya berharap pemerintah, dinas dan kementerian pertanian segera ya mengatasi ini (lonjakan hama). Sehingga bisa meningkatkan ketahanan pangan,” katanya.

Dampak kemarau panjang tersebut telah dirasakan langsung oleh para buruh tani. Darsinah, buruh tani di Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, mengatakan suhu panas yang berlangsung lama membuat tanaman padi cepat mengering dan hasil panen menurun.

“Musim panas ini bikin tanaman padi cepet kering,” ungkap Darsinah.

Ia mengaku sering menemukan bulir padi yang kosong saat membantu proses panen di sawah milik warga. “Saya kalau lagi manenin sawahnya orang, ngeliat banyak yang tidak ada isi berasnya,” tuturnya.

Selain menyebabkan tanaman mengering, cuaca panas juga memicu meningkatnya populasi berbagai hama yang menyerang padi. Darsinah mengatakan wereng kini menjadi ancaman paling sering ditemui di sawah. “Wereng sekarang lebih banyak,” katanya.

Menurutnya, keong juga masih menjadi hama yang merusak tanaman padi pada fase awal pertumbuhan. “Keong juga masih menyerang tanaman yang baru ditanam,” imbuhnya.

Ia menambahkan, kemunculan capung dan berbagai serangga lain juga semakin sering terlihat dibandingkan musim-musim sebelumnya. “Bahkan capung dan serangga lainnya juga semakin banyak terlihat di sawah,” ujar Darsinah.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.