Bincangperempuan.com- Karya pelukis Bengkulu, Yuni Daud akan dipamerkan dalam ajang ARTe Kunstmesse Wiesbaden 2026, salah satu pameran seni kontemporer yang digelar di RheinMain CongressCenter (RMCC), Wiesbaden, Jerman, pada 11–13 September 2026.
Keikutsertaan Yuni menjadi bagian dari Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP), sebuah inisiatif yang membuka akses bagi seniman Indonesia untuk menembus pasar seni Eropa.
Karya Yuni yang akan diperkenalkan adalah When You Love Lilies (2023), lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 50 x 60 sentimeter. Melalui bunga lili, Yuni menghadirkan simbol keanggunan, ketenangan, dan kebahagiaan yang sederhana.
“Bunga lili memancarkan keanggunan, ketenangan, dan keindahan alami. Kehadirannya menghadirkan rasa damai serta pesona lembut. Lewat karya ini saya ingin menangkap kebahagiaan yang hening yang bisa dihadirkan bunga dalam kehidupan sehari-hari,” kata Yuni.
Yuni Daud merupakan pelukis asal Bengkulu yang telah berkarya selama bertahun-tahun dengan menjadikan seni sebagai ruang untuk bangkit dari keterbatasan. Penyandang disabilitas fisik ini mulai kembali menekuni dunia lukis setelah mengalami kelumpuhan akibat infeksi tulang belakang. Dengan semangat belajar secara mandiri dan terus mengasah kemampuan, Yuni memilih aliran naturalis yang banyak menghadirkan lanskap alam, air, serta potret kehidupan manusia yang sarat emosi.
Bagi Yuni, melukis bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga menyampaikan harapan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya dan berprestasi. Lewat setiap sapuan kuasnya, ia ingin memperlihatkan bahwa seni mampu menjadi bahasa universal yang melampaui batas ruang, budaya, dan kondisi fisik.
Baca juga: Anggrek Merah Yuni Daud, Hadir dalam Rima Rupa

Dari Bali ke Jerman, Membangun Jembatan bagi Seniman Indonesia
Di balik program ini adalah Niluh Swati, pelukis asal Bali yang menetap di Jerman sejak 2019. Pengalamannya memasuki pasar seni Eropa tidak selalu mudah. Ia mengaku sempat mengalami penolakan sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan bertemu pemilik galeri saat berkunjung ke Paris. Pertemuan itu menjadi titik balik perjalanan kariernya di Eropa.
Pengalaman tersebut mendorong Niluh aktif membagikan informasi melalui media sosial mengenai cara seniman Indonesia dapat memasuki pasar seni internasional. Pada Februari 2026, salah satu kontennya bahkan viral dengan lebih dari 13 juta tayangan. Banyak seniman menghubunginya karena menghadapi persoalan yang sama: minimnya akses, jaringan, dan informasi untuk berpameran di luar negeri.
Dari situ lahirlah Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP).
“Visi NSIAP lahir dari pengalaman saya sebagai seniman Indonesia yang membangun karier di Jerman sejak 2019. Saya merasakan sendiri tantangan memasuki dunia seni di Eropa, mulai dari membangun jaringan hingga memahami sistem galerinya,” kata Niluh kepada Bincang Perempuan
Menurutnya, Indonesia memiliki banyak seniman berkualitas, namun tidak sedikit yang kesulitan menembus pasar internasional karena keterbatasan akses, informasi, jaringan, maupun biaya.
“Melalui NSIAP, saya ingin menjadi jembatan yang membuka peluang bagi seniman Indonesia untuk berpameran, membangun relasi, dan berkembang di dunia seni internasional,” ujarnya.

Diikuti 27 Perupa Indonesia
Sebanyak 27 perupa Indonesia akan berpartisipasi dalam pameran perdana NSIAP di ARTe Kunstmesse Wiesbaden 2026. Mereka berasal dari beragam latar belakang dan menghadirkan karya seni kontemporer yang mengangkat identitas, budaya, hingga cerita tentang Indonesia.
Tidak hanya lukisan, pameran juga menghadirkan berbagai medium seperti digital art dan doodle art. Hingga menjelang pembukaan pameran, sekitar 40 persen karya telah terjual, meski seluruh karya tetap akan dipamerkan selama penyelenggaraan berlangsung.
Tantangan Bukan Sekadar Mengirim Lukisan
Bagi Niluh, tantangan terbesar bukan hanya mengirim karya ke Eropa, tetapi juga mempersiapkan para seniman agar siap memasuki ekosistem seni internasional secara profesional.
“Banyak seniman Indonesia memiliki karya yang sangat baik, tetapi masih membutuhkan pendampingan dalam hal administrasi internasional, seperti membuat Certificate of Authenticity, invoice profesional, memahami kontrak, hingga penggunaan tanda tangan elektronik,” jelasnya.
Selain itu, proses logistik pengiriman karya seni ke Jerman juga tidak sederhana. Mulai dari pengurusan bea cukai hingga pengiriman internasional menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi penyelenggara.
Melalui NSIAP, para seniman mendapatkan pendampingan agar tidak hanya tampil dalam pameran, tetapi juga memahami standar profesional yang berlaku di pasar seni global.

Membawa Identitas Indonesia ke Panggung Dunia
Niluh mengatakan karya yang dipilih dalam pameran bukan semata-mata menonjolkan estetika, tetapi juga memperkenalkan budaya, nilai, dan identitas Indonesia kepada publik internasional.
Dari pengalaman mengikuti berbagai pameran di Jerman, ia melihat minat masyarakat Eropa terhadap karya seniman Indonesia cukup tinggi.
“Mereka tertarik pada kualitas karya, cerita, dan identitas budaya Indonesia,” katanya.
Program NSIAP juga mendapat dukungan dari sejumlah kolektor seni yang membeli karya para seniman sebagai bentuk investasi sekaligus dukungan terhadap keberlanjutan program. Selain menjadi sponsor utama, Niluh mengaku telah menerima sejumlah tawaran kerja sama dari galeri dan pelaku seni di Jerman yang akan ditindaklanjuti setelah pameran berakhir.
Baca juga: Yuni Daud, Wakili Bengkulu di Pameran Daring Galnasonline.id
Membuka Jalan bagi Seniman Indonesia
Niluh berharap NSIAP menjadi awal terbukanya lebih banyak kesempatan bagi seniman Indonesia untuk dikenal di tingkat internasional.
“Pameran ini bukan tentang satu seniman. Ini adalah tentang menciptakan sebuah platform agar seniman Indonesia dapat dikenal, membangun koneksi yang bermakna, dan menjadi bagian dari percakapan seni internasional. Saya berharap NSIAP dapat menjadi jembatan yang terus membuka pintu bagi semakin banyak seniman Indonesia di masa depan,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada para perupa Indonesia untuk tidak berhenti berkarya meski menghadapi berbagai keterbatasan.
“Jangan menunggu semuanya sempurna atau punya biaya besar untuk mulai. Berkaryalah dengan apa yang ada, lalu terus belajar dan berkembang. Jangan hanya mengandalkan bakat, tetapi bangun juga portofolio, jaringan, dan sikap profesional. Kesempatan akan datang bagi mereka yang konsisten, mau belajar, dan berani mencoba,” tutupnya.





Comments are closed.