Bincangperempuan.com- B-Pers, pernahkah kamu ngerasa “kayaknya aku belum sepintar itu” atau “takut salah kalau terlalu percaya diri”, padahal kerjaan beres, tugas kelar, dan kemampuan jelas ada? Tenang, kamu tak sendirian.
Fenomena ini dikenal sebagai confidence gap. Katty Kay dan Claire Shipman, dalam tulisannya di The Atlantic, menjelaskan bahwa banyak perempuan merasa perlu “siap sempurna” sebelum memulai sesuatu. Sementara itu, laki-laki cenderung lebih berani mencoba meski belum sepenuhnya yakin. Bukan karena laki-laki lebih hebat—tapi karena ada yang salah dengan lingkungan kita.
Pola confidence gap ini mudah ditemukan di sekitar kita. Coba lihat forum kepemimpinan, diskusi agama, atau ruang organisasi kampus. Yang cepat angkat tangan dan adu argumen biasanya laki-laki. Perempuan? Banyak yang sebenarnya siap bicara, tapi sebagian besar menunggu dipanggil dulu.
Lalu muncul candaan seperti, “Kalau cowok nggak ada yang mau ngomong, sudah pakai rok saja,” seolah diamnya perempuan itu wajar. Padahal, kebiasaan ini bukan soal siapa lebih pintar, tapi siapa yang sejak awal dianggap lebih pantas bersuara. Dari situ, kepercayaan diri perempuan digerus perlahan.
Karena itu, percaya diri tidak bisa hanya menjadi urusan afirmasi positif atau mantra motivasi sebelum tidur. Kepercayaan harus ditumbuhkan dari kebiasaan kecil yang dijalani sehari-hari, yang perlahan memberi perempuan kendali atas tubuh, suara, emosi, dan pilihan hidupnya sendiri. Lalu, apa yang bisa lakukan agar bisa membantu perempuan merasa lebih percaya diri, di tengah lingkungan yang belum sepenuhnya berpihak kepada perempuan?
Baca juga: Apa Itu Emotional Labor dan Kenapa Bikin Perempuan Lebih Mudah Capek?
Menulis dan Membuat Jurnal Reflektif
Menulis sering dianggap kegiatan sepele, padahal dampaknya jauh dari remeh. Psikolog James W. Pennebaker lewat risetnya tentang expressive writing menunjukkan bahwa menuliskan pengalaman dan emosi secara reflektif—bahkan hanya 15–20 menit selama beberapa hari—dapat membantu mengelola stres, memperbaiki kesehatan mental, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Menulis menjadi semacam katarsis: ruang aman untuk mengeluarkan emosi yang selama ini tertahan, tanpa perlu menjelaskannya ke siapa pun.
Bagi perempuan, jurnal reflektif punya fungsi yang lebih personal. Ia bisa menjadi tempat mencatat pencapaian kecil yang sering luput diapresiasi, baik oleh orang lain maupun oleh diri sendiri. Menulis juga membantu memproses kritik dengan lebih jernih, tanpa langsung menelannya sebagai bukti “aku memang kurang”. Dari kebiasaan ini, perempuan belajar membedakan mana evaluasi yang membangun, dan mana suara internal yang sebenarnya lahir dari tekanan sosial.
Membatasi Paparan Negatif di Media Sosial
Media sosial sering kali menjadi ruang perbandingan tanpa jeda. Penelitian dalam Psychology of Popular Media Culturemenunjukkan bahwa semakin sering seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial, semakin rendah tingkat self-esteem yang dirasakan. Bagi perempuan, efek ini bisa terasa lebih kuat karena standar kesuksesan dan tubuh yang ditampilkan sering kali tidak realistis.
Membatasi paparan konten yang memicu rasa tidak cukup, memilih akun yang lebih jujur dan inspiratif, serta memberi jarak dari budaya performatif bukan berarti anti media sosial. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk perawatan diri yang sadar. Dengan mengatur apa yang dikonsumsi setiap hari, perempuan bisa membangun standar nilai diri yang lebih personal, manusiawi, dan realistis.
Baca juga: Fragile Masculinity dan Impian Perempuan yang Terus Dikoreksi
Mempraktikkan Self-Advocacy
Self-advocacy adalah kemampuan untuk memperjuangkan hak, kebutuhan, dan kepentingan diri secara sadar. Bentuknya tidak selalu besar: bisa sesederhana berani menyampaikan pendapat dalam rapat, meminta upah yang layak, atau menegosiasikan peran dalam relasi personal. Riset menunjukkan bahwa individu yang terbiasa melakukan self-advocacymemiliki rasa kompetensi dan kepercayaan diri yang lebih kuat.
Bagi perempuan, kebiasaan ini penting karena masih banyak struktur sosial yang memandang sikap vokal sebagai sesuatu yang “terlalu ambisius” atau “tidak feminin”. Dengan melatih self-advocacy, perempuan perlahan merebut kembali ruang suara yang selama ini dipersempit. Bukan untuk mendominasi, tetapi untuk diakui setara.
Mencari Mentor dan berkomunitas
Kepercayaan diri jarang tumbuh sendirian. Bagi perempuan, komunitas yang suportif memiliki arti yang sangat spesifik. Ruang aman seperti lingkar diskusi atau support group memungkinkan perempuan berbagi cerita tanpa takut dianggap berlebihan, lemah, atau “terlalu emosional”. Di ruang semacam ini, pengalaman personal tidak dipatahkan, tetapi divalidasi. Perempuan belajar bahwa keraguan yang mereka alami bukan kegagalan pribadi, melainkan respons yang wajar terhadap tekanan struktural.
Peggy Thoits sosiolog di Indiana University dalam artikelnya mengatakan bahwa dukungan paling berpengaruh justru datang dari orang-orang yang punya pengalaman serupa. Perempuan tak hanya bisa saling berempati, tetapi dari mereka. juga bisa bisa bertahan, bersuara, dan berkembang. Bincang Perempuan Circle di Bengkulu salah satunya. Ruang ini jadi tempat perempuan saling belajar, saling menguatkan, dan merasa tak sendirian. Dari situ, percaya diri bukan lagi kerasa beban yang harus dibangun sendiri.
Kepercayaan diri perempuan bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba, apalagi sekadar hasil afirmasi kosong. Tetapi dibentuk oleh kebiasaan sehari-hari, relasi sosial yang suportif, serta keberanian untuk merebut kembali kendali atas tubuh, suara, dan pilihan hidup.
Di tengah sistem sosial yang masih kerap meragukan perempuan, kebiasaan-kebiasaan ini menjadi bentuk perlawanan yang sunyi namun berdampak. Percaya diri, pada akhirnya, bukan tentang menjadi sempurna—melainkan tentang merasa cukup untuk hadir, berbicara, dan mengambil ruang.
Referensi:
- Kay, K., & Shipman, C. (2014). The confidence gap. The Atlantic. https://www.theatlantic.com/magazine/archive/2014/05/the-confidence-gap/359815/
- American Psychological Association. (n.d.). Expressive writing. Speaking of Psychology Podcast. https://www.apa.org/news/podcasts/speaking-of-psychology/expressive-writing
- Thoits, P. A. (2011). Mechanisms Linking Social Ties and Support to Physical and Mental Health. Journal of Health and Social Behavior, 52 (2), 145-161.https://doi.org/10.1177/0022146510395592 (Original work published 2011)
- Vogel, E. A., Rose, J. P., Roberts, L. R., & Eckles, K. (2014). Social comparison, social media, and self-esteem. Psychology of Popular Media Culture, 3(4), 206–222. https://doi.org/10.1037/ppm0000047





Comments are closed.