Perjalanan menuju Piala Dunia sering kali dimulai jauh sebelum pertandingan pertama dimainkan.
Diawali ketika seseorang menyisihkan sebagian tabungannya untuk membeli tiket pesawat, membayar hotel, akomodasi, dan lainnya, demi menyaksikan tim nasional yang didukungnya. Ya, ketika seorang penggemar sepakbola memutuskan berangkat ke Piala Dunia, hampir selalu ada rencana lain yang harus ditunda.
Bagi sebagian orang, Piala Dunia hanyalah sebuah pertandingan. Namun bagi sebagian lainnya, Piala Dunia adalah perjalanan yang mesti direncanakan.
Pada Jumat dini hari WIB, perjalanan itu akan sampai pada salah satu tujuannya di Estadio Azteca, Mexico City. Upacara pembukaan Piala Dunia 2026 digelar, lalu Meksiko dan Afrika Selatan memainkan pertandingan pertama. Turnamen yang untuk pertama kalinya dalam sejarah diselenggarakan oleh tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Banyak hal membuat Piala Dunia kali ini terasa berbeda. Jumlah pesertanya bertambah menjadi 48 negara. Pertandingannya meningkat menjadi 104 laga. Namun yang paling menarik adalah kenyataan bahwa turnamen ini dimainkan di tiga negara yang berbeda, dengan puluhan kota yang tersebar ribuan kilometer satu sama lain.
Jarak yang membentang antarkota dan antarnegara itu bukan sekadar tantangan bagi penyelenggara. Ini juga yang menjadi alasan mengapa Piala Dunia kali ini akan memicu pergerakan manusia dalam skala yang lebih besar dari biasanya.
Pergerakan itu dimulai jauh sebelum peluit pertama dibunyikan. Sebelum bola pertama ditendang, dunia sudah lebih dulu bergerak.
Di berbagai bandara, orang-orang datang dengan mengenakan jersey tim nasionalnya. Reservasi hotel meningkat. Di stasiun kereta, terminal, restoran, dan jalan-jalan kota, berbagai bahasa mulai terdengar bersahutan. Jutaan orang bergerak menuju tempat yang sama, meskipun mereka datang dari arah yang berbeda.
Ada yang mendarat di Toronto, Vancouver, Los Angeles, New York, Dallas, atau Mexico City. Mereka membawa paspor, bahasa, dan kebiasaan yang berbeda. Namun selama beberapa minggu mereka berbagi tujuan yang sama: menyaksikan Piala Dunia.
Dalam bukunya Mobilities, sosiolog Inggris John Urry menjelaskan bahwa dunia modern semakin dibentuk oleh mobilitas. Orang bergerak lebih jauh dan lebih sering dibanding generasi-generasi sebelumnya. Mereka bepergian untuk bekerja, belajar, berdagang, berlibur, atau mencari pengalaman baru. Dalam dunia yang semakin terhubung, perpindahan manusia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Piala Dunia adalah salah satu gambaran paling menarik dari mobilitas tersebut. Jutaan orang melakukan perjalanan bukan karena tuntutan pekerjaan. Mereka bergerak karena sebuah pertandingan yang bahkan hasilnya tidak dapat mereka pastikan. Tim yang mereka dukung bisa kalah pada pertandingan pertama. Pemain idola mereka bisa cedera. Namun semua kemungkinan itu tidak mengurangi keinginan mereka untuk datang.
Sebab kenangan tentang Piala Dunia sering kali tidak berhenti pada pertandingan itu sendiri. Orang mungkin lupa hasil beberapa laga fase grup, tetapi mereka akan mengingat kota yang dikunjungi, jalan yang dilewati, tempat wisata yang didatangi, atau warga negara lain yang mereka temui selama perjalanan.
Di situlah Piala Dunia menciptakan sesuatu yang jarang dicatat dalam statistik: perjumpaan. Dan tidak banyak turnamen yang memiliki panggung perjumpaan sebesar Piala Dunia 2026. Kota-kota yang menjadi tuan rumah kali ini sendiri telah lama tumbuh dari pertemuan berbagai bangsa, bahasa, dan kebudayaan.
Toronto sering disebut sebagai salah satu kota paling multikultural di dunia. Data Sensus Kanada 2021 menunjukkan lebih dari separuh penduduk kota tersebut berasal dari kelompok etnokultural yang beragam, sementara hampir separuhnya lahir di luar Kanada.
Los Angeles tumbuh dari gelombang migrasi yang datang silih berganti selama lebih dari satu abad.
Sementara New York sejak lama menjadi salah satu gerbang utama kedatangan para pendatang ke Amerika Utara. Menurut catatan Ellis Island dan National Park Service, lebih dari 12 juta imigran memasuki Amerika Serikat melalui pulau tersebut antara 1892 hingga 1954.
Kota-kota tersebut menjadi besar bukan karena keseragaman, melainkan karena percampuran. Selama puluhan bahkan ratusan tahun, kota-kota itu menjadi tempat bertemunya manusia dari berbagai latar belakang, bahasa, dan kebudayaan.
Dalam arti tertentu, kota-kota itu bukan sekadar tuan rumah. Mereka adalah cerminan dari cerita besar yang juga menyertai Piala Dunia: bertemunya manusia dari berbagai penjuru dunia.
Banyak orang mungkin tidak akan mengingat siapa pencetak gol pertama Piala Dunia 2026. Namun pertandingan pembuka menandai jutaan rencana perjalanan, penantian, dan harapan yang telah disusun sejak lama akhirnya menjadi kenyataan.
Ketika turnamen berakhir, para pemain akan pulang membawa hasil pertandingan. Namun bagi banyak suporter, yang tertinggal bukan hanya soal menang atau kalah, melainkan pengalaman perjalanan yang mereka jalani sepanjang Piala Dunia.
Mungkin itulah alasan mengapa perjalanan menuju Piala Dunia selalu dimulai jauh sebelum pertandingan pertama dimainkan.
Wibowo Prasetyo
Penulis adalah Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, penikmat sepak bola





Comments are closed.