Menjelang senja pada 30 Juni 2026, Keisha Sapondoro menggulung adonan tepung sagu dengan lembaran daun sagu. Gulungan sepanjang sekitar 40 sentimeter itu diberi sedikit garam, lalu disusun di atas tungku kayu bakar.
Sekitar 30 menit kemudian, aroma daun terbakar memenuhi dapur rumahnya di Dusun Sirilanggai, Desa Malancan, Siberut Utara, Kepulauan Mentawai. Malam itu, sekitar 20 batang kapurut tersaji bersama lauk. Rasanya gurih dengan aroma khas daun sagu.
Kapurut merupakan makanan tradisional Mentawai berbahan sagu. Di tengah dominasi nasi sebagai makanan pokok, sebagian keluarga di pedalaman Mentawai masih menyantap kapurut dalam keseharian.
Bagi Keisha, kapurut adalah makanan yang membesarkannya. Sebelum beras menjadi santapan utama di kampungnya, masyarakat mengandalkan sagu, keladi, dan ubi. Hingga sekarang, ia masih memasak kapurut, terutama jika ada ikan sebagai lauk. Menurutnya, sagu juga membuat kenyang lebih lama dibandingkan nasi.
Bahan bakunya mudah diperoleh karena pohon sagu masih tumbuh di hutan dan lahan warga. Dari segi harga, tepung sagu juga lebih terjangkau. Satu karung berukuran sekitar 10 kilogram dijual rata-rata Rp60.000, sedangkan beras dengan berat sama dapat berharga dua kali lipat.
Namun, perubahan mulai terlihat di meja makan keluarga. Generasi muda lebih memilih nasi dan mulai meninggalkan sagu. Pergeseran ini telah berlangsung sejak dekade 1970-an, ketika program pembangunan memperkenalkan sawah dan distribusi beras. Beras kemudian dipandang sebagai simbol kemajuan dan kesejahteraan, sedangkan sagu perlahan dianggap sebagai pangan tradisional yang identik dengan kehidupan belum maju.
Padahal, bagi masyarakat Mentawai, sagu bukan sekadar sumber karbohidrat. Sagu memiliki kedudukan penting dalam Arat Sabulungan, sistem kepercayaan masyarakat Mentawai. Tumbuhan ini hadir dalam ritual adat dan upacara perkawinan. Ketika sagu ditinggalkan, bukan hanya isi piring yang berubah, tetapi juga praktik budaya yang diwariskan antargenerasi.
Hampir seluruh bagian pohon sagu dapat dimanfaatkan. Empulur batangnya diolah menjadi tepung, daunnya digunakan untuk membungkus kapurut dan membuat atap rumah, sedangkan pelepahnya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.
Sagu juga menjadi sumber penghasilan. Rolan T. Satanduk, warga Desa Malancan, masih mengolah batang sagu secara manual. Satu pohon sagu tua dapat menghasilkan sekitar 15–17 karung tepung. Sebagian disimpan untuk konsumsi keluarga, sementara sisanya dijual kepada warga.
Namun, keberlangsungan sagu bergantung pada kelestarian hutan Mentawai. Kebun sagu mulai berubah menjadi sawah atau lahan tanaman komoditas. Aktivitas penebangan juga mengubah hutan yang selama ini menyediakan pangan, bahan bangunan, obat-obatan, serta berbagai kebutuhan adat.
Kondisi Mentawai yang didominasi rawa, tanah gambut, dan curah hujan tinggi juga tidak sepenuhnya sesuai untuk pertanian padi sawah seperti di Jawa atau daratan Sumatera. Karena itu, meninggalkan sagu dapat berpengaruh terhadap ketahanan pangan lokal.
Kapurut mungkin terlihat sederhana. Namun, di dalam gulungan sagu dan daun yang dibakar itu tersimpan hubungan antara pangan, hutan, ekonomi, dan identitas masyarakat Mentawai. Menjaga kapurut berarti menjaga pengetahuan serta cara hidup yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
Foto utama: Keisha sedang membakar kapurut di rumahnya Desa Malancan, Siberut Utara Kepulauan Mentawai. Novia Harlina/Mongabay Indonesia.





Comments are closed.