PERINGATAN: Artikel ini memuat konten yang berkaitan dengan bunuh diri, melukai diri sendiri, dan kekerasan terhadap orang lain.
● Cedera moral merupakan gangguan fungsi individu akibat situasi berulang yang bertentangan dengan keyakinan pribadi.
● Tenaga kesehatan, guru, hingga karyawan perusahaan rentan mengalami cedera moral.
● Cedera moral tidak boleh dianggap remeh karena bisa memicu gangguan mental dan perilaku berbahaya.
Apakah kamu pernah merasa tidak nyaman karena diminta melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan keyakinan pribadi? Misalnya, atasan meminta kamu menyebarkan informasi yang menyesatkan demi kepentingan promosi produk.
Jika berlangsung terus-menerus, situasi ini berisiko menyebabkan moral injury (cedera moral).
Cedera moral merupakan kondisi terganggunya fungsi individu (baik emosi, sosial, maupun persepsi terhadap diri dan orang lain) akibat situasi berulang yang bertentangan dengan etika, nilai moral, dan keyakinan yang kita miliki.
Berbeda dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD), situasi pemicu cedera moral tidak harus peristiwa yang mengancam nyawa. Namun, bisa berasal dari pekerjaan sehari-hari, seperti aturan di lingkungan kerja, model bisnis, ataupun perintah atasan.
Apa penyebab cedera moral?
Dalam konteks pekerjaan, kita berisiko mengalami cedera moral ketika melakukan aktivitas pekerjaan yang memicu pertentangan batin secara mendalam (act of commission). Akibatnya, timbul perasaan sangat tidak nyaman, malu, bersalah, marah, jijik, dan tidak berdaya.
Cedera moral juga bisa terjadi ketika kita tidak melakukan tindakan yang seharusnya sesuai dengan keyakinan pribadi (act of omission).
Selain itu, cedera moral bisa muncul ketika kita merasa dikhianati oleh atasan atau orang yang lebih berkuasa. Misalnya, saat mereka melakukan atau membiarkan hal yang salah, bahkan memaksa kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai dan keyakinan pribadi (act of betrayal).

Cedera moral di pekerjaan
Cedera moral berisiko dialami oleh siapa pun. Namun, individu dengan jenis pekerjaan tertentu, seperti tenaga kesehatan, petugas layanan gawat darurat, jurnalis, guru, pekerja sosial, dan karyawan perusahaan, lebih rentan mengalaminya.
1. Tenaga kesehatan
Tenaga kesehatan berisiko mengalami cedera moral karena faktor sistem dan intensitas pekerjaan.
Etika pelayanan pasien dengan model bisnis dalam layanan kesehatan, misalnya, bisa menimbulkan pertentangan batin yang memicu cedera moral.
Selain itu, ketidakberdayaan dalam menghadapi situasi hidup dan mati di rumah sakit bisa memicu cedera moral, seperti saat menangani kasus COVID-19.
Penelitian di Cina (2022) menunjukkan bahwa 41,3% tenaga kesehatan mengalami gejala-gejala terkait cedera moral, dengan prevalensi tertinggi saat pandemi COVID-19.
Read more: Studi di Jawa Barat: pandemi berimbas pada kesehatan mental para tenaga kesehatan
Studi literatur (2023) menunjukkan bahwa cedera moral rentan dialami oleh tenaga kesehatan perempuan, berusia lebih muda, bekerja dengan jam kerja lebih panjang, dan kurang berpengalaman.
2. Guru
Guru berisiko mengalami cedera moral akibat moral trap, yaitu situasi berhadapan dengan tekanan dan konflik.
Hal ini ditimbulkan oleh tuntutan sekolah, kewajiban dalam memenuhi kebutuhan siswa, memerhatikan keluarga sendiri, dan memperjuangkan kesejahteraannya.
Contohnya, guru dipaksa pemerintah daerah untuk mencicipi Makan Bergizi Gratis (MBG) sebelum diberikan kepada para siswa. Padahal, mereka tahu bahwa program problematis ini berisiko membahayakan kesehatan dan menyebabkan keracunan.
3. Karyawan
Riset dalam Journal of Business Ethics (2023) menunjukkan bahwa karyawan berisiko mengalami cedera moral ketika melihat pelanggaran sebagai bagian dari kegiatan bisnis harian perusahaan.
Pelanggaran terkait tanggung jawab, hak, dan peran pekerja, juga bisa membuat mereka merasa tertekan dalam bekerja sehingga mengalami cedera moral.
Misalnya, seorang akuntan diminta atasannya untuk memanipulasi laporan keuangan agar karyawan tidak menuntut kenaikan gaji.
Picu gangguan mental dan perilaku berbahaya
Cedera moral memang tidak diklasifikasi sebagai gangguan mental berdasarkan buku panduan untuk tenaga psikologis The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) maupun panduan kesehatan menyeluruh International Classification of Diseases 11th Revision (ICD-11).
Namun, studi dalam Clinical Psychology & Psychotherapy (2021) menunjukkan bahwa cedera moral bisa mendorong seseorang mengalami gangguan mental maupun perilaku berbahaya, mulai dari gangguan tidur, depresi, PTSD, penyalahgunaan obat, hingga bunuh diri.
Read more: 4 hal yang bisa mencegah dan mengurangi risiko bunuh diri
Karena itu, pekerja yang mengalami cedera moral biasanya secara alamiah berusaha melakukan berbagai strategi coping untuk mengatasi masalah dan meminimalkan dampaknya.
Tidak sedikit pekerja memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan atau mengubah karier demi mengurangi dampak cedera moral yang dialami.
Cara mencegah cedera moral
Dampak buruk cedera moral berpotensi menjadi hidden cost (konsekuensi tersembunyi) yang sering kali tidak disadari oleh pekerja maupun perusahaan yang mempekerjakan.
Untuk mencegahnya, sebagai pekerja kita perlu senantiasa merefleksikan makna tanggung jawab pekerjaan sehari-hari, nilai, prinsip, serta keyakinan hidup yang dimiliki.
Apabila kita merasakan kesulitan melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan keyakinan pribadi, diskusikan secara terbuka dengan rekan kerja yang dipercaya, atau pimpinan. Identifikasi dan ungkapkan emosi yang dialami terkait kesulitan tersebut.
Jika menimbulkan dampak psikologis yang lebih signifikan, hingga mengganggu kesejahteraan pribadi maupun pekerjaan, hubungi psikolog atau psikiater agar kita dibantu dalam memetakan situasi dan menemukan alternatif pemecahan masalah.

Perusahaan juga perlu mendukung pekerja dengan mendorong pemimpin berperilaku etis dan memastikan standar etika di tempat kerja secara jelas.
Perusahaan perlu menciptakan lingkungan aman bagi pekerja untuk melakukan dialog secara terbuka maupun mengungkapkan tantangan etis yang mereka alami. Hal ini termasuk konflik, nilai, dan integritas yang mereka pertanyakan.
Sistem dukungan sosial dan psikologis perlu difasilitasi pula oleh perusahaan, bisa melalui employee assitance program, peer support, dan ethical hotline. Dengan begitu, tempat kerja tidak hanya sekadar mendukung profit dan kepentingan perusahaan, melainkan juga kenyamanan nilai pribadi.
Jika artikel ini membuatmu khawatir, atau jika kamu khawatir tentang seseorang yang kamu kenal, bicarakanlah dengan orang tepercaya atau profesional kesehatan.




Comments are closed.