Tue,21 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Ketika “Salam” Jadi Larangan: Kearifan Lokal di Dusun Malandang, Sumedang

Ketika “Salam” Jadi Larangan: Kearifan Lokal di Dusun Malandang, Sumedang

ketika-“salam”-jadi-larangan:-kearifan-lokal-di-dusun-malandang,-sumedang
Ketika “Salam” Jadi Larangan: Kearifan Lokal di Dusun Malandang, Sumedang
service

Ketika “Salam” Jadi Larangan: Kearifan Lokal di Dusun Malandang, Sumedang


Di balik perbukitan hijau Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, terdapat sebuah dusun kecil bernamaDusun Malandang. Masyarakat di dusun ini dikenal karena memegang teguh kearifan lokal yang langka—larangan mengucapkan kata Salam.

Sekilas terdengar sederhana, namun pantangan ini bukan sekadar takhayul. Ia adalah simbol penghormatan mendalam kepada leluhur pendiri kampung, Raden Agus Salam, tokoh yang membuka dan membangun wilayah ini sejak masa kerajaan Sumedang Larang.

Layaknya “benteng tradisi” di tengah arus modernisasi, masyarakat Malandang, dari generasi tua hingga muda, masih menjunjung tinggi etika dan unggah-ungguh Sunda dalam kehidupan sehari-hari.


Asal Usul Larangan Mengucapkan “Salam” di Dusun Malandang

Pantangan ini berakar pada sejarah panjang berdirinya Dusun Malandang. Di wilayah ini bersemayam makamRaden Agus Salam, sosok yang dihormati karena jasanya membuka lahan dan membangun pemukiman.

Menurut tokoh adat setempat, Komar, larangan mengucapkan “Salam” muncul dari rasa hormat terhadap nama sang pendiri. Dalam tradisi Sunda, menyebut langsung nama tokoh sepuh dianggap tidak sopan.

“Kan Salam itu nama orang tua kita, yang harus dihormati,” terang Komar.

Larangan itu kemudian diwariskan lintas generasi dan menjadi bagian sakral dari kehidupan warga. Pelanggaran terhadapnya dipercaya bisa mendatangkan musibah, seperti angin kencang, petir, atau pohon tumbang.

Selain kata “Salam”, masyarakat juga tidak boleh menyebut daun salam, bahan dapur yang umum di Indonesia. Sebagai gantinya, mereka menyebutnya daun kopo, demi menjaga kesakralan nama leluhur.


Raden Agus Salam dan Hubungannya dengan Kerajaan Sumedang Larang

Kisah Raden Agus Salam tak lepas dari masa kejayaan Kerajaan Sumedang Larang, penerus Pajajaran yang berdiri di Jawa Barat pada abad ke-16 hingga 17.

Raden Agus Salam, yang disebut masih memiliki darah bangsawan Sumedang Larang, dipercaya berperan penting saat Kerajaan Mataram Islam di bawah pimpinanSultan Agung Hanyokrokusumo mengirim pasukan ke Batavia pada abad ke-17.

Kala itu, wilayah Sumedang menjadi titik persinggahan pasukan Mataram. Raden Agus Salam dipercaya menyiapkan tempat peristirahatan dan jamuan bagi ribuan prajurit. Sikap hormat dan keramahan yang ia tunjukkan membuat Sultan Agung kagum dan memberikan kehormatan kepadanya.

Sejak saat itu, nama Raden Agus Salam disegani, bukan hanya di Sumedang, tetapi juga di kalangan bangsawan Mataram. Warisan moral dan keteladanan beliau masih hidup di Dusun Malandang hingga kini.


Kearifan Lokal dan Tradisi Ngikis di Dusun Malandang

Lebih dari sekadar larangan, kehidupan di Dusun Malandang diwarnai oleh tradisi Ngikis, yaitu kegiatan gotong royong membersihkan area makam leluhur dan menjaga kelestarian alam sekitar. Tradisi ini menjadi bentuk nyata rasa syukur dan penghormatan kepada alam serta para pendahulu.

Bagi masyarakat Malandang, menjaga kebersihan makam sama pentingnya dengan menjaga kehormatan leluhur. Inilah yang membuat dusun kecil ini dikenal sebagai salah satukampung adat di Sumedang yang masih aktif melestarikan nilai-nilai lama.

Selain itu, terdapat pamali (tabu) lain yang dipercaya harus dipatuhi. Salah satunya, jumlah kepala keluarga di dusun ini tidak boleh lebih dari40 KK. Jika jumlahnya melebihi batas, sebagian warga akan pindah ke daerah lain untuk menghindari hal buruk.

Nilai-nilai ini memiliki kemiripan dengan ajaran Sunda Wiwitan dan kearifan Suku Baduy di Kanekes, Lebak, yang juga menolak eksploitasi alam dan menjunjung kesederhanaan hidup. Menurut sesepuh Malandang, Aki Dako, hal ini adalah wujud dari “urang Sunda asli” yang menjadikan etika, alam, dan spiritualitas sebagai satu kesatuan.


Warisan Budaya yang Hidup di Tengah Zaman

Kini, Dusun Malandang tak hanya dikenal karena pantangan uniknya, tetapi juga karena daya tarik budayanya. Banyak peziarah datang ke makam Raden Agus Salam, baik untuk berdoa maupun sekadar menyaksikan kehidupan masyarakat adat yang masih lestari di tengah modernisasi.

Bagi para peneliti dan wisatawan budaya, Dusun Malandang adalah contoh nyata bagaimanaSumedang mempertahankan jati dirinya sebagai peuser budaya—pusat nilai-nilai kearifan lokal Sunda yang hidup hingga kini.

Kisah Raden Agus Salam dan tradisi pantangan “Salam” menjadi pengingat bahwa menghormati leluhur bukan hanya soal masa lalu, tetapi juga tentang menjaga harmoni antara manusia, sejarah, dan alam.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.