Jaringan masyarakat peduli Pegunungan Kendeng setiap tahun mensyukuri perlawanan dan perawatan kolektif lewat Kupatan Kendeng.
SEJAK SIANG banyak orang berkumpul di pendopo rumah Joko Prianto. Mereka sedang menyiapkan acara untuk sore nanti. Di pelataran, Ngatiban mengisi minyak tanah ke ratusan obor. Di dapur, Rini, istri Prianto, dan sejumlah ibu memasak untuk brokohan.
Hari itu, 24 Maret 2026, warga Tegaldowo bakal melangsungkan temon banyu geni, ritual yang mempertemukan beras dan air, kemudian dimasak jadi ketupat. Secara filosofis, ia mengingatkan ada proses panjang melibatkan kemurahan alam dan usaha petani dalam setiap ketupat atau hidangan yang kita santap.
“Ini merupakan simbol dari kekuatan,” ujar Prin, panggilan akrab Joko Prianto. “Karena melalui ritual ini, kita jadi tahu bagaimana makanan tersedia. Bagaimana menanam padi, dari mana sumber airnya, dan prosesnya.”
Sesudah Isya, prosesi temon banyu geni pun berlangsung. Banyak orang sudah bersiap-siap di pelataran pendopo. Tak cuma warga Tegaldowo dan Rembang, tapi banyak juga yang datang dari kota-kota lain seperti Pati, Semarang, Blora, Yogyakarta, Jakarta, bahkan dari Berlin. Mereka berdatangan sejak siang hari.

Sukinah memimpin rombongan. Mereka beriringan menuju Sumur Gowak, berjarak 500an meter dari rumah Prianto. Untuk menuju ke sana, rombongan membawa obor atau arak-arakan lamporan, sambil menembangkan doa-doa dalam bahasa Jawa. Lamporan merupakan tradisi masyarakat petani mengusir hama dan pagebluk yang mengganggu sawah dan kehidupan desa.
Desa Tegaldowo terdiri dari enam pedukuhan dan memiliki sejumlah sumber mata air. Setiap tahun, prosesi temon banyu geni menggunakan air dari sumber berbeda-beda. “Penggunaan air langsung dari sumber merupakan salah satu cara kita menghormati sumber mata air sebagai salah satu sumber kehidupan,” kata Prin.
Sesampai di Sumur Gowak, Sukinah bermonolog.
“Beras, boga paringane Ibu Pertiwi. Dikosek, dimen resik. Ginawe kupat. Srana pikuat. Tetep nylametke Ibu Bumi.”

Sebagai petani, Sukinah mengajak semua hadirin untuk memahami bahwa beras adalah pemberian dari alam. Dan beras yang akan dibersihkan dan dibuat ketupat, tuturnya, seharusnya bisa menjadi sumber kekuatan untuk menjaga alam.
Setelah itu ia menimba air dari sumur dan mencuci beras, diiring tembang pangkur. Liriknya mengucap syukur atas kebaikan Ibu Bumi dan komitmen melestarikan alam yang telah mencukupi kebutuhan harian manusia. Secara filosofis, macapat pangkur menggambarkan nilai-nilai keberanian dan kebesaran hati untuk meninggalkan perbuatan buruk.
“Anak putu, kupat iku tanda tuhu. Lamun sira lepat, enggal nyuwun pangaksami. Lakonana aturan kang wis ana.”
Sukinah menutup sesi pencucian beras dengan tembang pucung berisi nasihat kepada anak cucu untuk bersungguh meminta maaf dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang akan merusak ibu bumi.

Masih diiringi barisan pembawa obor, rombongan kembali ke pendopo. Sesi pulang dipimpin tiga sesepuh laki-laki yang bersahut-sahutan memanjatkan doa dalam bahasa Jawa.
Menurut Mbah Sarutomo, tetua yang memimpin rombongan balik dari sumur, mantra-mantra yang diucapkan merupakan rapalan penolak hama dan bencana yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi.
Meski sama-sama sebagai upaya mencegah hama merusak tanaman di sawah atau penyakit yang menjangkiti hewan ternak, tradisi lamporan dulu dan sekarang memang berbeda.
Dari ingatan Mbah Sarutomo, saat ia berusaha 12 tahun, tradisi lamporan berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. “Setiap malam, warga berjaga-jaga di sawah untuk mengejar hama-hama tanaman dan rajakaya yang biasanya tikus atau serangga.” Di malam terakhir, ritual ditutup dengan makan bersama serabi atau klepon.
Bersatu Menolak Bencana
Prosesi Temon banyu geni dan lamporan itu merupakan rangkaian acara Kupatan Kendeng, sebuah festival warga Kendeng yang berusaha merefleksikan dan memaknai ulang tradisi kupatan.
Sejak konflik warga Tegaldowo dan PT Semen Indonesia memuncak pada 2015, tradisi-tradisi itu diisi makna baru sesuai perjuangan warga menolak musibah yang diakibatkan pabrik semen.
“Lamporan kini jadi simbol pengusiran hama, yang hari ini berwujud tambang. Kupatan menjadi ruang konsolidasi. Arak-arakan menjadi cara mengumumkan kepada seluruh kampung bahwa perlawanan masih hidup,” ujar Prin.
Rencana penambangan batu kapur telah memengaruhi pertanian di sekitar, terutama peran karst sebagai resapan air tanah. Sehingga banyak petani menolak industri ekstraktif itu. Perlawanan intens melibatkan banyak cara sejak 2014. Kupatan Kendeng merupakan salah satu praktik budaya yang diaktivasi guna membangun kesadaran publik atas lingkungan hidup di sekitar mereka, terutama yang belum memahami dampak pertambangan.

Memang tradisinya kupatan diadakan setelah satu minggu Lebaran. Tapi, sejak para petani Kendeng menolak pabrik semen, digagaslah tradisi ini dengan konteks perlawanan, tak cuma untuk merayakan momen bersama keluarga tapi sekaligus sebagai media kampanye, cerita Sukinah.
“Kupatan Kendeng itu sebagai cara menyampaikan kepada sedulur yang belum paham bahwa ada ancaman nyata di kampung,” tambahnya.
Puncak acara Kupatan Kendeng adalah arak-arakan gunungan ketupat pada esok harinya. Selain gunungan dari ketupat, ada juga dari lepat, olahan beras ketan dibungkus janur.
Dengan iringan barongan dan barongsai, gunungan diarak keliling desa untuk disantap bersama kemudian. Pada dono weweh ini setiap yang datang diwajibkan untuk makan, sebagai simbol bahwa pertanian di Pegunungan Kendeng mampu mencukupi kebutuhan pangan banyak orang.
Prosesi ini adalah wujud pengakuan kesalahan sekaligus uluran permintaan maaf.
Kata kupat dianggap berasal dari ngaku lepat, yang berarti mengakui kesalahan kepada semua makhluk. Permintaan maaf tak hanya kepada sesama manusia, tapi juga kepada alam yang kelestariannya seringkali masih diabaikan. Pada nomen ini pula komitmen untuk menjaga alam kembali diperbarui.
Meski Kupatan Kendeng muncul pada 2015, kegiatan ini berangkat dari praktik-praktik yang telah mengakar di masyarakat Gunem. Tradisi kupatan adalah salah satu ritual tahunan dalam budaya Jawa di banyak tempat khususnya kawasan Pantura. Sesuai namanya, tradisi yang berlangsung di minggu pertama bulan Syawal ini identik dengan memasak dan makan bersama ketupat. Olahan beras ini biasanya disajikan bersama masakan bersantan dan sambal.
Di beberapa daerah, tradisi kupatan memiliki bentuk beragam. Ada yang menggelar syukuran, membuang sesaji, hingga pesta adat. Namun, ada juga yang hanya membuat ketupat untuk dikonsumsi di rumah masing-masing keluarga.


Di Tegaldowo, Kupatan Kendeng tak hanya dilakukan sebagai pengulangan tradisi tapi juga diupayakan sebagai laku kritik atas problem sosial dan lingkungan hidup yang dihadapi masyarakat.
Setiap tahun Kupatan Kendeng memiliki tema khusus, hasil perenungan dan refleksi warga atas situasi terkini. Tahun ini temanya Nyawiji Nolak Molo, yang berarti bersatu menolak bencana. Bencana yang dimaksud adalah kerusakan lingkungan diakibatkan tambang di Rembang.
“Mulai kekeringan kalau kemarau. Hujan sedikit, kebanjiran,” ungkap Prin.
Infeksi saluran pernapasan kini juga jadi ancaman wabah yang ditimbulkan dari debu-debu peledakan batu karst hingga hilir mudik truk pengangkut.
Keinginan untuk mendorong keterlibatan lebih banyak orang dalam melestarikan alam merupakan situasi yang direfleksikan dalam Kupatan Kendeng kali ini.
Nyawiji dalam bahasa Jawa bukan sekadar bersatu. Istilah ini punya arti menyatukan diri, menjadi satu, meleburkan kepentingan pribadi ke dalam kepentingan bersama. “Karena penolakan (pabrik semen) yang sendirian mudah dipatahkan,” ucap Prin.
Selain itu, warga Tegaldowo sering mengungkapkan kata sedulur atau saudara. Dalam gerakan tolak pabrik semen, kata sedulur mencerminkan hubungan, ikatan, tanggung jawab timbal balik. Bisa berarti hubungan sesama manusia, bisa juga penghormatan kepada pohon-pohon di tepi sawah, sumber mata air di kaki bukit, atau batu kapur sumber resapan air hujan.

Selama bertahun-tahun, Sukinah dan warga Tegaldowo menolak izin tambang. Dari demonstrasi sampai mengajukan petisi, dari gugatan ke pengadilan hingga mereka menang di Mahkamah Agung.
Putusan peninjauan kembali pada 2016 melarang penambangan dan pengeboran di atas cekungan air tanah di wilayah Pegunungan Kendeng. Putusan ini mengabulkan gugatan warga Kendeng untuk membatalkan izin pabrik semen.
Tapi, di negara yang aturan hukumnya bisa diterabas semau penguasa, kemenangan hukum itu tidak menjamin perlindungan bagi rakyat.
“Situasi di desa yang tadinya rukun, tadinya damai, karena berbeda prinsip, akhirnya ada yang pro-tambang, ada yang kontra-tambang. Tidak rukun sama sedulur, tidak rukun sama tetangga,” ungkap Sukinah.
Melawan Tambang lewat Tembang
Dalam rangkaian Kupatan Kendeng, tembang tidak hadir sebagai pelengkap, melainkan medium utama penyampai pesan. Tembang-tembang yang dilantunkan warga muncul dari relasi sehari-hari warga dengan tanah dan air.
Misalnya, dalam monolog tentang beras yang dibersihkan sebelum diolah jadi ketupat, terkandung pemahaman bahwa pangan berasal dari Ibu Bumi dan karena itu harus diperlakukan dengan hormat.
Makan bersama, dalam konteks ini, adalah tindakan politis. Sukinah mengingatkan bahwa manusia dan alam adalah satu sistem. Merusak satu berarti merusak semuanya. Dari situ, praktik domestik seperti membersihkan beras atau memasak tak cuma dilihat sebagai kerja rumah tangga, tapi juga bagian dari upaya menjaga kehidupan.

“Tembang-tembang ini bagian dari doa. Di Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPK), setiap kegiatan selalu ada tembang,” kata Sunikah. “Orasi kami lewat tembang, bukan dengan marah-marah atau menghujat.”
Ia menyebut metode ini mencerminkan sikap “memanusiakan” dan menjaga hubungan, bahkan dalam situasi konflik.
Sukinah pernah distigma sebagai “PKI” atau “pemberontak negara” hingga ancaman akan diperkosa. “Jadi, aku bilang takut itu boleh, tapi kalau salah. Kalau kita benar, jangan takut!”
Ketika kita memilih diam terhadap sesuatu yang kita tahu keliru, ujar Sukinah, maka kita turut membiarkan kesalahan itu.

Di sinilah kerusakan paling berbahaya dari dampak tambang batu kapur di Tegaldowo, yaitu mengikis jaringan sosial yang jadi pondasi ekosistem warga. Tambang tak hanya melubangi gunung, tapi merusak jaringan trust antarwarga, memecah keluarga, dan mengikis perawatan komunal.
Di tengah krisis, perempuan seringkali harus menghadapi beban berlipat. “Kalau lingkungan rusak, perempuan yang paling terdampak, termasuk saat anak sakit,” ujar Sukinah.
Bagi Sukinah, tembang dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyuarakan persoalan yang dihadapi sebagai seorang istri dan ibu. Lebih dari itu, tembang-tembang yang dilantunkan juga sekaligus upaya membangun kesadaran bersama, tambahnya.

Kerja-kerja merawat lingkungan bukanlah pekerjaan seorang diri, melainkan pekerjaan yang harus dilakukan orang banyak. Saat tembang pangkur dinyanyikan di tepi sumur, bukan hanya Ibu Bumi yang diajak bicara. Semua yang hadir, termasuk yang pro-pabrik diundang untuk belajar bersama merawat lingkungan. Tembang menjadi bahasa yang mampu menyatukan orang banyak, atau dalam kata-kata yang sering diulang malam itu adalah nyawiji.
“Kita tetap merangkul,” kata Sukinah, “kita kasih edukasi.”
Salah satu kerja perawatan terberat yang dilakukan Sukinah bukan kepada alam, melainkan kepada sesama warga yang dulu berdiri di seberang. Merangkul orang yang pernah diprovokasi untuk memusuhimu adalah kerja yang membutuhkan kesabaran, ujarnya.
Toh, bagi Sukinah, merawat komunitas tak pernah selesai dalam satu aksi, apalagi dalam waktu singkat. “Capek pasti. Namanya juga manusia,” ujarnya.
Dan, sampai hari ini, ia tetap bertahan, dengan memaknai ulang kemenangan.
Ketika pabrik semen tetap berdiri, tapi warga yang dulu mendukung mulai menyaksikan sendiri dampaknya, di situlah letak kemenangan lain. “Kalah pun kita menang,” katanya.
Sebab, kebenaran pada akhirnya tidak membutuhkan izin siapa pun untuk menemukan jalannya sendiri.




Comments are closed.