Kemerdekaan Republik Indonesia adalah karunia Allah Ta’ala yang diraih melalui pengorbanan besar para pahlawan. Mereka rela mempertaruhkan jiwa, raga, bahkan meninggalkan keluarga demi tegaknya ibu pertiwi. Maka, mari kita renungkan: apakah pengorbanan mereka akan kita sia-siakan, atau kita syukuri dengan melanjutkan perjuangan melalui kontribusi terbaik bagi bangsa?
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمُتَفَرِّدِ بِنُعُوتِ الْكَمَالِ . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْعَالِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ وَأَعْدَادِ الرِّمَالِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي هُوَ لِلْعَالَمِينَ عِصْمَةٌ وَثِمَالٌ. صَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِينَ بِهِمْ يُقْتَدَى فِي الْأَعْمَالِ، صَلَاةً تُنَجِّي مِنَ
الْأَوْزَارِ إِذَا ثَقُلَتْ مِنْهَا الْأَحْمَالُ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا مَا هَبَّتِ الْجَنُوبُ وَالشَّمَالُ، وَتَفَيَّأَتِ الظِّلَالُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشِّمَالِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: بِسْمِ اللّٰهِ الرّٰحْمَنِ الرّٰحِيْمِ، وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِِلَّا الَّذِینَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.
Ma’asyiral muslimin yang berbahagia
Hari ini kita hidup di negeri yang merdeka. Kita dapat melaksanakan shalat dengan tenang, mengaji dengan bebas, dan menyekolahkan anak-anak kita. Namun, tahukah kita bahwa kemerdekaan ini tidak datang begitu saja?
Ada sejarah panjang di balik kemerdekaan ini. Ada darah para pejuang yang tumpah. Ada air mata seorang ibu yang harus melepas anaknya ke medan laga. Ada para ulama yang mengobarkan semangat jihad melalui fatwa dan doa. Semua itu merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa kita.
Sejarah tersebut menjadi kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia. Sejarah tentang bagaimana rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dengan beragam suku, agama, dan bahasa, bersatu melawan penjajahan.
Ma’asyiral muslimin yang berbahagia
Kemerdekaan ini adalah karunia Allah Ta’ala yang istimewa. Mari kita syukuri karunia tersebut dengan membuktikan bahwa kita layak menjadi pewaris sejarah. Kita harus menunjukkan bahwa pengorbanan jiwa dan raga para pahlawan tidak sia-sia serta bahwa kita mampu mewarisi kebanggaan sebagai bangsa yang besar.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’” (QS. Ibrahim: 7)
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Marah Labid Jilid 1 halaman 566 menegaskan hakikat syukur:
وَحَقِيقَةُ الشُّكْرِ هِيَ الْإِعْتِرَافُ بِنِعْمَةِ الْمُنْعِمِ مَعَ تَعْظِيمِهِ
Artinya, “Hakikat syukur adalah pengakuan atas nikmat dari Sang Pemberi Nikmat disertai dengan mengagungkan-Nya.”
Maka, mari kita syukuri kemerdekaan ini dengan sebenar-benarnya. Syukur tidak cukup diwujudkan melalui upacara atau mengheningkan cipta semata, tetapi juga harus tercermin dalam setiap langkah dan perilaku seluruh rakyat Indonesia.
Jangan sampai karunia Allah Ta’ala yang istimewa ini kita sia-siakan dengan menjadi orang-orang yang berkhianat terhadap bangsa dan mengingkari pengorbanan para pahlawan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Selanjutnya, apa saja bentuk syukur kita dalam melanjutkan perjuangan para pahlawan? Setidaknya ada tiga prinsip yang perlu kita perhatikan dan amalkan dengan sungguh-sungguh dalam melanjutkan perjuangan para pahlawan.
Pertama, menjaga amanah kemerdekaan.
Kemerdekaan yang kita rasakan hari ini bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah. Kemerdekaan diperoleh melalui perjuangan panjang dan pengorbanan yang besar. Karena itu, kemerdekaan bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga merupakan amanah yang harus kita jaga dan isi dengan kebaikan.
Menjaga amanah kemerdekaan dapat dimulai dari hal-hal yang nyata dalam kehidupan
sehari-hari. Kita menjaga persatuan di tengah perbedaan, menaati aturan yang berlaku, bekerja dengan jujur, menjaga fasilitas umum, tidak merusak lingkungan, serta menjalankan kewajiban kita sebagai warga negara dengan penuh tanggung jawab.
Jangan sampai kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata justru kita rusak dengan perpecahan, korupsi, ketidakjujuran, kebencian, dan sikap mementingkan diri sendiri.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga amanah. Kemerdekaan yang diwariskan oleh para pahlawan juga merupakan amanah yang harus kita jaga bersama. Amanah itu bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau para pemimpin, tetapi juga tanggung jawab setiap warga negara.
Karena itu, mari kita isi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat. Orang tua menjalankan tanggung jawabnya dalam mendidik keluarga. Guru mendidik dengan penuh keikhlasan. Pelajar belajar dengan sungguh-sungguh.
Para pekerja bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab. Para pemimpin menjalankan kekuasaan dengan adil. Dan setiap warga masyarakat menjaga kerukunan serta tidak merugikan orang lain.
Inilah salah satu bentuk nyata syukur kita atas kemerdekaan: bukan sekadar mengenang jasa para pahlawan, tetapi menjaga hasil perjuangan mereka dengan menjadi warga negara yang baik, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi sesama.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Kedua, menguatkan aspek pendidikan.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang berdiri di atas fondasi ilmu pengetahuan. Pendidikan membuka gerbang menuju masa depan yang lebih cerah, membebaskan manusia dari jerat kebodohan, kehinaan, dan kemiskinan, serta mengantarkan bangsa menuju peradaban yang lebih adil dan sejahtera.
Pendidikan bagaikan fondasi yang kokoh bagi kemajuan bangsa. Perannya sangat penting dalam membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.
Sejatinya, melalui pendidikan, potensi manusia Indonesia dapat dikembangkan, dibekali dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan, serta ditanamkan nilai-nilai luhur yang akan mengantarkan mereka menjadi individu yang unggul dan berdaya saing.
Imam Syafi’i RA dalam Manakib Syafi’i, Jilid 2, halaman 139, menjelaskan:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Artinya, “Barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan dunia, maka hendaknya ia menempuhnya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan akhirat, maka hendaknya ia menempuhnya dengan ilmu.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Ketiga, membangun kerukunan.
Kerukunan adalah salah satu kunci utama bagi kokohnya sebuah bangsa. Kemerdekaan tidak akan bermakna jika kita terus-menerus berselisih. Tidak akan ada kemajuan jika bangsa ini retak akibat ego pribadi dan kepentingan kelompok.
Mari kita bersatu dalam bingkai “Bhinneka Tunggal Ika”, hidup rukun dalam perbedaan, dan bekerja sama demi masa depan anak cucu kita.
Imam al-Ghazali dalam Iḥya ‘Ulumuddin Juz II halaman 224 berkata:
لَا يَسْتَقِيمُ أَمْرُ الدُّنْيَا إِلَّا بِالتَّعَاوُنِ وَالتَّوَافُقِ وَتَرْكِ التَّنَازُعِ
Artinya: “Urusan dunia tidak akan tegak kecuali dengan kerja sama, saling mendukung, dan meninggalkan pertengkaran.”
Bung Karno pernah berpesan: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Oleh karena itu, mari kita amalkan dengan sungguh-sungguh tiga prinsip dalam melanjutkan perjuangan para pahlawan kemerdekaan tersebut.
Demikian sedikit ulasan untuk kita renungkan. Semoga bermanfaat dan dapat kita amalkan dengan sungguh-sungguh, sehingga mengantarkan kita menjadi pewaris keluhuran bangsa Indonesia.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah II
الحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ. وَلَكَ الحَمْدُ بِالقُرْآنِ، وَلَكَ الحَمْدُ بِالإِسْلَامِ، وَلَكَ الحَمْدُ بِإِرْسَالِكَ مُحَمَّدًا. وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي بَعَثَهُ بِالهُدَى وَدِينِ الحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ، وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ تَعَالَى أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ، فَقَالَ: “إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا”. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَقِيَّةِ الصَّالِحِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ الإِسْلَامِ وَالمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، اِشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَلَا تُخَيِّبْ رَجَاءَنَا، وَاخْتِمْ بِالبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ أَعْمَالَنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا البَلَدَ آمِنًا مُّطْمَئِنًّا. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالفَحْشَاءَ وَالمُنْكَرَ وَالشَّدَائِدَ وَالمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا إِنْدُونِيسَا خَاصَّةً، وَسَائِرِ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ. رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ.
عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ
————
Abdul Karim Malik, alumni Al-Falah Ploso Kediri, pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi, dan pengajar di Pondok Pesantren PINK03 Kampung Rukem, Tambun Selatan, Bekasi.





Comments are closed.