Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ١١
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam ibadah lahiriah, tetapi juga dalam kebersihan hati dan akhlak kepada sesama manusia. Tidak sedikit manusia yang rajin beribadah, namun masih menyimpan penyakit hati berupa iri, dengki, dan merasa senang ketika melihat orang lain susah tertimpa musibah. Padahal sifat seperti ini sangat dibenci oleh Allah dan Rasulullah.
Dalam kehidupan hari ini, kita sering menyaksikan orang yang gagal dijadikan bahan ejekan, musibah dijadikan hiburan, dan penderitaan sesama malah menghadirkan kepuasan di hati sebagian manusia. Inilah yang dalam Islam disebut syamatah, yaitu bergembira di atas kesusahan orang lain. Karena itu pada khutbah Jumat kali ini, marilah kita bersama-sama merenungi bahaya syamatah sebagai penyakit hati yang dapat merusak persaudaraan dan menghapus keberkahan hidup kita.
Rasulullah SAW telah mengingatkan kita agar berlindung dari sifat senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari, Nabi bersabda:
تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ
Artinya: “Berlindunglah kalian kepada Allah dari beratnya cobaan, keterpurukan celaka, buruknya takdir, dan syamatah musuh.” (HR. Bukhari)
Mari kita pahami dan perhatikan, jamaah sekalian.
Rasulullah menyandingkan syamatah dengan beratnya cobaan dan buruknya musibah. Ini menunjukkan bahwa syamatah bukan perkara ringan. Bahkan seseorang bisa sangat terluka ketika musibahnya justru menjadi bahan kegembiraan orang lain.
Karena itu Nabi Muhammad SAW memberikan peringatan keras dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi:
لَا تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لِأَخِيكَ، فَيُعَافِيَهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيَكَ
Artinya: “Janganlah engkau menunjukkan kegembiraan atas musibah saudaramu. Bisa jadi Allah menyembuhkannya dan justru mengujimu.”
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Kehidupan manusia itu berputar. Hari ini seseorang diuji, besok bisa jadi Allah angkat derajatnya. Hari ini seseorang terlihat kuat dan bahagia, belum tentu esok tetap demikian. Maka jangan pernah sombong terhadap keadaan diri sendiri dan jangan pernah bahagia di atas penderitaan orang lain. Ingat, setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya.
Kadang ada orang gagal dalam usaha, lalu menjadi bahan tertawaan. Ada yang jatuh dalam masalah rumah tangga, lalu dijadikan bahan gunjingan. Ada yang kehilangan jabatan, lalu banyak orang diam-diam bersyukur. Bahkan di zaman media sosial sekarang, tidak sedikit orang menikmati aib dan kesedihan orang lain sebagai hiburan. Inilah bentuk syamatah yang sangat berbahaya.
Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok.”
Ayat ini mengajarkan kepada kita agar menjaga lisan dan hati. Sebab boleh jadi orang yang hari ini kita remehkan justru lebih mulia di sisi Allah dibanding diri kita.
Jamaah rahimakumullah,
Imam Al-Ghazali dalam kitab Mizanul ‘Amal menjelaskan bahwa syamatah adalah tanda rusaknya hati dan lemahnya empati. Beliau mengatakan:
الشَّماتةُ: الفَرَحُ بالشَّرِّ الواصِلِ إلى غيرِ المُستَحِقِّ
Artinya: “Syamatah adalah rasa senang atas keburukan atau musibah yang menimpa orang lain yang sebenarnya tidak pantas mendapatkannya.”
Sementara Imam Al-Qurthubi menegaskan:
وَالشَّمَاتَةُ السُّرُورُ بِمَا يُصِيبُ أَخَاكَ مِنَ الْمَصَائِبِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَهِيَ مُحَرَّمَةٌ مَنْهِيٌّ عَنْهَا.
Artinya: “Syamatah adalah rasa senang atas musibah yang menimpa saudaramu, baik dalam urusan agama maupun dunia, dan perbuatan ini diharamkan.”
Berarti ketika ada saudara kita jatuh sakit, rugi, gagal, atau mengalami kesulitan, lalu hati kita merasa puas, maka itu termasuk penyakit hati yang dilarang agama.
Lalu dari mana munculnya sifat syamatah? Ibnu Asyur dalam kitab At-Tahrir wat Tanwir menjelaskan:
وَإِنَّمَا تَحْصُلُ مِنَ الْعَدَاوَةِ وَالْحَسَدِ.
Artinya: “Syamatah muncul dari permusuhan dan kedengkian.”
Berarti akar dari syamatah adalah hasad dan iri hati. Ketika seseorang tidak suka melihat orang lain sukses, bahagia, atau lebih baik darinya, maka saat orang itu jatuh, ia merasa puas.
Padahal Allah sudah memperingatkan dalam Surah Al-Falaq ayat 5:
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Artinya: “Dan dari kejahatan orang yang dengki ketika ia dengki.”
Hasad itu penyakit berbahaya. Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Artinya: “Jauhilah sifat dengki, karena dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”(HR Abu Dawud)
Bayangkan, jamaah sekalian. Amal ibadah yang susah payah kita kumpulkan bisa habis karena iri dan dengki kepada orang lain.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kita sebagai seorang Muslim diajarkan untuk memiliki hati yang lembut. Ketika melihat orang lain susah, maka kita harus membantu. Ketika melihat orang lain jatuh, maka kita harus mendoakan. Ketika melihat orang lain salah, maka kita dianjurkan menasihati dengan kasih sayang, bukan menertawakan.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.
Artinya: “Orang beriman terhadap orang beriman lainnya bagaikan satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan. Dan beliau (mendemontrasikannya dengan cara) menyilangkan jari jemari beliau.” (HR Bukhari)
Maka tugas kita bukan menjatuhkan, tetapi menguatkan. Bukan menghina, tetapi mendoakan. Bukan menikmati penderitaan orang lain, tetapi menghadirkan empati dan kasih sayang.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mari kita membersihkan hati kita dari iri, dengki, dan syamatah. Jangan biarkan hati kita kotor karena menikmati penderitaan orang lain. Sebab kebahagiaan sejati bukan ketika orang lain jatuh, tetapi ketika kita mampu menjadi manusia yang membawa manfaat dan doa kebaikan bagi sesama.
Semoga Allah membersihkan hati kita, melembutkan jiwa kita, dan menjauhkan kita dari sifat syamatah, iri, dan dengki. Amin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ .اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung





Comments are closed.