Di era digital yang serba cepat, komunikasi yang dahulu dibatasi oleh ruang dan waktu kini dapat menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat ujian besar bagi lisan, jari, dan hati kita. Salah satunya adalah ghibah, yaitu membicarakan keburukan atau aib orang lain yang tidak disukainya.
Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul “Menjaga Lisan dan Jari dari Ghibah di Era Digital”. Untuk mencetak naskah khutbah ini, silakan klik ikon print berwarna merah yang terdapat di bagian atas atau bawah artikel pada tampilan desktop. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمُتَفَرِّدِ بِنُعُوتِ الْكَمَالِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْعَالِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ وَأَعْدَادِ الرِّمَالِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي هُوَ لِلْعَالَمِينَ عِصْمَةٌ وَثِمَالٌ. صَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِينَ بِهِمْ يُقْتَدَى فِي الْأَعْمَالِ، صَلَاةً تُنَجِّي مِنَ الْأَوْزَارِ إِذَا ثَقُلَتْ مِنْهَا الْأَحْمَالُ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا مَا هَبَّتِ الْجَنُوبُ وَالشَّمَالُ، وَتَفَيَّأَتِ الظِّلَالُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشِّمَالِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ، وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dalam suasana Jumat yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada seluruh jamaah, terutama kepada diri khatib pribadi, agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Ketakwaan merupakan prinsip hidup bagi setiap orang beriman. Dengan ketakwaan itulah seseorang akan memperoleh petunjuk, ketenangan, dan kebahagiaan sejati di sisi Allah Ta’ala.
Perlu kita pahami bahwa takwa bukan hanya diwujudkan dengan melaksanakan perintah Allah, tetapi juga dengan menjauhi segala larangan-Nya. Bahkan, meninggalkan larangan sering kali menjadi ujian yang lebih berat karena manusia harus melawan hawa nafsu dan keinginannya sendiri.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah menyatakan:
اعْلَمْ أَنَّ لِلدِّينِ شَطْرَيْنِ، أَحَدُهُمَا: تَرْكُ الْمَنَاهِي، وَالْآخَرُ: فِعْلُ الطَّاعَاتِ، وَتَرْكُ الْمَنَاهِي هُوَ الْأَشَدُّ؛ فَإِنَّ الطَّاعَاتِ يَقْدِرُ عَلَيْهَا كُلُّ وَاحِدٍ، وَتَرْكُ الشَّهَوَاتِ لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا الصِّدِّيقُونَ
Artinya, “Ketahuilah bahwa agama memiliki dua bagian. Pertama, tinggalkan segala larangan. Kedua, melaksanakan berbagai ketaatan. Meninggalkan larangan merupakan perkara yang lebih berat. Sebab, ketaatan dapat dilakukan oleh setiap orang, sedangkan meninggalkan keinginan hawa nafsu hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang benar dalam penghambaan kepada Allah.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Salah satu larangan Allah yang harus kita jauhi adalah ghibah. Rasulullah SAW menjelaskan pengertian ghibah dalam sabdanya:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Artinya, “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang tidak disukainya.” Kemudian ditanyakan, “Bagaimana jika apa yang aku katakan memang benar terdapat pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika apa yang engkau katakan memang terdapat pada dirinya, berarti engkau telah menggunjingnya. Jika tidak terdapat pada dirinya, berarti engkau telah melakukan kebohongan terhadapnya.” (HR Muslim).
Hadits ini memberikan penjelasan yang sangat terang. Apabila keburukan yang kita sampaikan memang benar terdapat pada diri seseorang, itulah yang disebut ghibah. Namun, apabila keburukan tersebut tidak benar, dosanya menjadi lebih berat karena kita telah melakukan fitnah atau tuduhan dusta.
Ghibah merupakan perbuatan tercela yang dapat melukai perasaan, merusak kehormatan, dan menghancurkan persatuan. Di tengah masyarakat, ghibah dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti mengejek seseorang, membuat meme yang merendahkan kelompok tertentu, memberi julukan buruk kepada organisasi lain, atau menyebarkan kesalahan seseorang tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama.
Karena buruknya perbuatan tersebut, Allah Ta’ala menyerupakan ghibah dengan memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat: 12).
Ayat ini menggambarkan betapa buruknya ghibah di sisi Allah Ta’ala. Manusia tentu merasa jijik apabila diminta memakan bangkai saudaranya sendiri. Dengan perumpamaan tersebut, Allah mengingatkan kita bahwa menggunjing dan merusak kehormatan orang lain merupakan perbuatan yang sangat menjijikkan secara rohani.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dosa ghibah tidak boleh dipandang ringan. Sebab, ghibah bukan hanya berkaitan dengan hubungan seorang hamba kepada Allah, tetapi juga berhubungan dengan kehormatan dan hak sesama manusia. Karena itu, orang yang pernah melakukan ghibah hendaknya segera bertobat kepada Allah, menyesali perbuatannya, berhenti membicarakan keburukan orang lain, serta berusaha memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkannya.
Tujuan dari peringatan ini bukan sekadar untuk menakut-nakuti, melainkan agar kita benar-benar berhati-hati dalam menjaga lisan dan hati. Kehormatan seorang Muslim bukanlah bahan hiburan, bukan bahan candaan, dan bukan pula komoditas yang boleh disebarkan demi mendapatkan perhatian orang lain.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Perkembangan teknologi dan media digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Informasi yang dahulu hanya beredar dalam percakapan terbatas kini dapat menjangkau ribuan, bahkan jutaan orang dalam waktu yang sangat singkat.
Jika dahulu ghibah dilakukan melalui percakapan dari mulut ke mulut, kini ghibah dapat muncul melalui status, unggahan, atau bahkan komentar di media sosial.
Lebih berbahaya lagi, jejak digital dapat disalin, disebarkan, dan disimpan dalam waktu yang sangat lama. Seseorang mungkin telah menghapus unggahannya, tetapi tangkapan layar dan salinannya bisa saja tetap beredar. Akibatnya, satu ketikan yang dilakukan dalam beberapa detik dapat melukai seseorang dan menimbulkan kerusakan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh orang yang menjadi korban. Persatuan, persaudaraan, dan kerukunan masyarakat juga menjadi taruhannya. Oleh karena itu, hendaknya kita menjadikan gawai dan berbagai aplikasi di dalamnya sebagai sarana untuk menjalin silaturahmi, menyebarkan ilmu, dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Mari kita jadikan setiap ketikan jari sebagai saksi kebaikan, bukan sebagai alat untuk merobek kehormatan saudara kita. Ingatlah sabda Rasulullah SAW:
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Artinya, “Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Setidaknya terdapat tiga langkah yang dapat kita lakukan untuk menjaga lisan dan jari dari ghibah di media sosial.
Pertama, menahan diri sebelum berbicara, menulis, atau membagikan sesuatu. Jangan tergesa-gesa memberikan komentar ketika sedang marah. Jangan langsung menyebarkan informasi hanya karena berita tersebut sedang ramai diperbincangkan.
Tanyakan terlebih dahulu kepada diri kita. Apakah informasi ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah perlu disampaikan? Apakah penyampaiannya akan menyelesaikan masalah atau justru memperkeruh keadaan?
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Hadits ini tetap berlaku dalam kehidupan digital. Diam bukan hanya berarti tidak berbicara, tetapi juga tidak mengetik, tidak berkomentar, tidak mengunggah, dan tidak membagikan sesuatu yang dapat menyakiti atau merusak kehormatan orang lain.
Kedua, mengedepankan tabayyun ketika menerima suatu berita. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita penting, telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan, lalu kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujurat: 6).
Tabayyun berarti memeriksa dan memastikan kebenaran berita sebelum mengambil sikap. Namun, perlu kita ingat bahwa berita yang benar sekalipun tidak selalu boleh disebarkan. Apabila isinya hanya membuka aib, mempermalukan, atau merusak kehormatan seseorang tanpa kepentingan yang dibenarkan, menyebarkannya tetap dapat menjadi ghibah.
Cobalah kita tempatkan diri pada posisi orang yang sedang dibicarakan. Apabila kesalahan itu dilakukan oleh kita atau keluarga kita, tentu kita juga tidak ingin kekeliruan tersebut diumbar dan disebarluaskan kepada khalayak. Orang beriman bukan hanya dituntut untuk berkata benar, tetapi juga dituntut untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijaksana dan membawa kemaslahatan.
Ketiga, memilih lingkungan pergaulan yang baik dan menghindari kelompok yang gemar membicarakan keburukan orang lain. Seseorang sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia bergaul, termasuk lingkungan pergaulan di dunia digital.
Rasulullah SAW bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Artinya, “Seseorang akan mengikuti kebiasaan sahabat dekatnya. Karena itu, hendaklah setiap orang memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Jika suatu grup, akun, atau lingkungan pergaulan terus-menerus mengajak kita menghina, mencaci, dan membicarakan keburukan orang lain, hendaknya kita berani menjaga jarak. Pilihlah lingkungan yang mengingatkan kita kepada kebaikan, menambah pengetahuan, dan menumbuhkan akhlak mulia.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Demikian khutbah Jumat yang singkat ini. Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan, hati, dan jari-jemari kita dari segala perkataan dan perbuatan yang tidak diridhai-Nya. Semoga media sosial dan teknologi yang kita gunakan menjadi sarana untuk memperbanyak amal kebaikan, bukan menjadi sumber dosa yang terus mengalir. Amin ya Rabbal ‘alamin.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللّٰهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيسِيَا خَاصَّةً، وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ
Ustadz Abdul Karim Malik, alumnus Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri; pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi; serta pengajar di Pondok Pesantren Pink03, Kampung Rukem, Tambun Selatan, Bekasi.




Comments are closed.