Nabi memberikan banyak teladan, termasuk menjadi seorang pemimpin. Bagi nabi, menjadi pemimpin adalah melayani, bukan dilayani.
Teks Khutbah Pertama
إٍنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَشْكُرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَبْدُهُ وَرَسُولُه الصَّادِقُ الْوَعْدُ الْأَمِيْنُ مَنْ أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ الله. فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الَّذِي أَرْسَلَ مُحَمَّدًا بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا. أُوْصِيْكُم وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الَّذِي رَحِمْنَا بِبِعْثَةِ مُحَمَّدٍ وَأَنْزَلَ عَلَى قَلْبِ حَبِيْبِهِ مُحَمَّدٍ: أَعُوذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، وَاِذَا جَاۤءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَمْنِ اَوِ الْخَوْفِ اَذَاعُوْا بِهٖۗ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِلٰٓى اُولِى الْاَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْۢبِطُوْنَهٗ مِنْهُمْۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطٰنَ اِلَّا قَلِيْلًا. (النساء: ٨٣) اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,
Pada hari yang mulia ini, marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, surat Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
Ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah panutan terbaik bagi kita semua. Kehidupan beliau penuh dengan pelajaran berharga, dari hal yang besar hingga yang paling kecil. Salah satu teladan terpenting adalah bagaimana beliau memandang dan menjalankan peran kepemimpinan.
Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia,
Kita sering kali melihat, bahkan di zaman sekarang ini, pandangan yang keliru tentang kepemimpinan. Sebagian orang menganggap pemimpin adalah sosok yang harus dihormati, didahulukan, dan dilayani. Pemimpin duduk di singgasana, sementara rakyat di bawahnya. Pemimpin menikmati fasilitas mewah, sementara rakyat berjuang untuk hidup. Paradigma ini sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Mari kita renungkan kisah hijrah beliau dari Makkah ke Madinah. Sebuah perjalanan yang penuh dengan tantangan dan ancaman. Bersama Abu Bakar ra., Amir bin Fuhairah, dan Abdullah bin Uraiqit, beliau menyusuri gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka singgah di tenda seorang perempuan tua bernama Ummu Ma’bad al-Khuzaiyyah.
Kondisi Ummu Ma’bad sangat sederhana. Ia tidak punya makanan atau minuman untuk menjamu tamunya. Hanya ada seekor kambing betina kurus di samping tendanya. Nabi SAW melihat kambing itu dan meminta izin untuk memerah susunya. Ummu Ma’bad berkata, “Kambing ini sudah tua, susah mencari makan, mustahil bisa mengeluarkan susu.”
Namun, Nabi SAW tetap meminta izin, lalu memerahnya. Sebelumnya, beliau berdoa:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهَا فِي شَاتِهَا
“Ya Allah, berkahilah kambingnya.”
Dengan izin Allah, kambing yang kurus itu mengeluarkan banyak susu.
Hadirin yang mulia,
Di momen seperti ini, kita mungkin berpikir, siapa yang akan minum pertama? Seorang pemimpin yang lelah setelah perjalanan panjang, tentu pantas minum lebih dulu. Namun, apa yang terjadi? Nabi SAW justru mempersilakan Abu Bakar, Amir, dan Abdullah untuk minum terlebih dahulu. Beliau sendiri adalah orang terakhir yang minum dari susu hasil perahannya.
Setelah minum, beliau bersabda:
سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ وَسَاقِيهِمْ آخِرُهُمْ شُرْبًا
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka, dan yang memberikan minum kepada suatu kaum adalah yang paling terakhir minum.”
Hadis ini adalah pondasi utama dalam ajaran kepemimpinan Islam. Kepemimpinan adalah pelayanan, bukan kekuasaan. Pemimpin yang sejati adalah mereka yang paling dahulu melayani dan yang paling terakhir menikmati. Kebijakan seorang pemimpin harus berorientasi pada kepentingan rakyatnya, bukan kepentingan pribadi atau golongan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang paling dihormati, baik di langit maupun di bumi. Beliau adalah pemimpin bagi seluruh alam, yang diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi semesta. Namun, perhatikanlah tingkah laku beliau. Tidak ada sedikitpun kesombongan, tidak ada keinginan untuk dilayani. Beliau justru yang paling cepat turun tangan untuk melayani umatnya, bahkan dalam hal sesederhana memerah susu.
Lantas, bagaimana dengan pejabat atau pemimpin di negeri kita yang mungkin hanya dikenal di satu kabupaten, satu kota, atau bahkan satu kampung? Mereka tidak segan-segan meminta fasilitas mewah, minta didahulukan di jalan, bahkan berani mengambil “uang saku” dari program untuk rakyat. Betapa beraninya mereka bertingkah laku seolah-olah lebih mulia dari Rasulullah SAW yang akhlaknya tak tertandingi. Mereka merasa pantas dilayani, padahal derajat mereka jauh di bawah beliau.
Nama Rasulullah SAW sering kali dipakai saat kampanye. Dikutip hadisnya, disanjung akhlaknya. Namun, setelah menjadi pemimpin, nilai-nilai yang diajarkan beliau seolah dilupakan. Pemimpin yang seharusnya menjadi pelayan umat, justru berubah menjadi raja yang haus penghormatan.
Penting untuk diingat bahwa prinsip ini tidak hanya berlaku untuk pemimpin di tingkat negara, tetapi juga pemimpin di keluarga, di kantor, atau di mana pun kita berada.
Setiap dari kita adalah pemimpin. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
Mari kita mulai dari diri sendiri. Apakah kita sudah menjadi pemimpin yang melayani di lingkungan terdekat kita? Apakah kita sudah mendahulukan kepentingan keluarga di atas kepentingan pribadi? Apakah kita sudah mengayomi bawahan kita, bukan sekadar memerintah?
Oleh karena itu, marilah kita jadikan teladan Rasulullah SAW sebagai cermin. Bagi para pemimpin, ingatlah bahwa amanah adalah beban berat yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Bagi kita sebagai rakyat, marilah kita cerdas dalam memilih pemimpin dan terus mengingatkan mereka akan tugasnya.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita pemimpin yang amanah, yang benar-benar melayani rakyat, bukan sekadar minta dilayani.
Teks Khutbah Jumat Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَر، وَأَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَر، وَاَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلإِنْسِ وَالْبَشَرِ.اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَاُذُنٌ بِخَبَر.أَمَّا بَعْدُ:فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالىَ، وَذَرُو الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَن، وَحَافِظُوْا عَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِه، وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْــمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِه، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا: ((إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيّ، يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا))
أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَات، بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّات،
Ya Allah, ya Tuhan kami, berikanlah kami pemimpin yang adil, yang takut kepada-Mu, yang mencintai rakyatnya. Jadikanlah pemimpin kami pelayan umat, bukan penguasa yang zalim. Lindungilah negeri kami dari segala musibah dan perpecahan. Berikanlah kami keberkahan dalam setiap langkah dan kebijakan yang diambil oleh pemimpin kami.
اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَن، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن، عَنْ بَلَدِنَا هَذَاخَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بَلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ الله، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمِ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَر
Baca juga teks khutbah Jumat yang lain di sini.





Comments are closed.