Matahari di atas kepala, ketika Azizah (46) bersama satu anaknya, dua adiknya, dan dua keponakannya, mencari ikan di sebuah lebung kecil di wilayah Danau Burung, Minggu (2/7/26). Mereka menangkap ikan menggunakan tangan dan selembar waring. “Terakhir saya melebung di sini, sekitar 38 tahun lalu, saat masih anak-anak,” kata Azizah, sembari menunjukkan ikan tembakang (Helostoma temminckii) yang berhasil ditangkapnya. “Saat itu, melebungnya ramai-ramai. Puluhan dan mungkin ratusan orang. Dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahagia nian, seperti sekarang ini. Ikan yang paling banyak di Danau Burung saat itu adalah ikan serandang (Channa pleurophthalma),” kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Mereka datang ke Danau Burung, yang jaraknya sekitar tujuh kilometer dari Tempirai, berjalan kaki atau naik sepeda. Hingga saat ini, saat musim kemarau Danau Burung dapat didatangi melalui jalan darat. Musim penghujan, berkunjung ke sini hanya melalui air atau menggunakan perahu. Azizah ingat, selain manusia, saat musim kemarau Danau Burung juga dikunjungi ratusan hingga ribuan burung pemakan ikan. Paling paling banyak kawanan burung kuntul, baik kuntul kecil (Egretta garzetta) dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis). “Warga juga banyak berburu burung, yang dapat dikonsumsi, seperti belibis batu (Dendrocygna javanica) dan burung ayam-ayaman (Gallicrex cinerea). Banyaknya burung yang mungkin membuat kawasan rawa gambut ini disebut Danau Burung.” Dua jam berusaha di dua lebung kecil, mereka mendapatkan beberapa kilogram ikan. Selain ikan tembakang, mereka juga mendapatkan ikan gabus (Channa striata) dan ikan toman (Channa micropeltes). Saat pulang ke rumah di Desa Tempirai, ikan yang mereka tangkap selain dikonsumsi, juga dibagikan ke tetangga. “Sudah lama tidak makan ikan dari Danau…This article was originally published on Mongabay
Kisah Bertahannya Danau Burung di Tempirai
Kisah Bertahannya Danau Burung di Tempirai





Comments are closed.