Jakarta –
Perjalanan menjadi seorang Bunda tidak selalu mudah. Ada yang dikaruniai kehamilan dengan cepat, namun ada pula yang harus melewati jalan panjang penuh air mata, harapan, dan perjuangan yang tak terlihat.
Kisah haru ini datang dari seorang ibu di Singapura yang membuktikan bahwa harapan bisa tetap hidup, bahkan setelah berkali-kali diuji. Berikut kisahnya dikutip dari Straitstime.
Penantian panjang selama 14 tahun
Perjalanan Josephine Foong menjadi ibu dimulai sejak usia 20-an. Namun, kehamilan yang dinantikan tak kunjung datang. Bersama sang suami, ia terus berusaha selama bertahun-tahun. Ia hanya memiliki dua embrio beku terakhir dan satu upaya IVF terakhir. Jika ini tidak berhasil, dia dan suaminya akan menyerah untuk mencoba menjadi orang tua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai cara ditempuh, termasuk menjalani prosedur in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung sebanyak delapan kali. Namun perjuangan itu tidak mudah. Ia harus menghadapi kenyataan pahit mengalami lima kali keguguran, sebuah pengalaman yang tentu sangat menguras fisik dan emosional.
Rasa sedih, kehilangan, bahkan kelelahan mental menjadi bagian dari perjalanan yang harus ia hadapi setiap kali harapan kembali pupus.
Dokternya memberinya obat kesuburan dan siklus inseminasi intrauterin, tetapi tidak berhasil. Kemudian ia menjalani beberapa siklus IVF, tetapi terus mengalami keguguran.
“Saya sangat terpukul secara emosional setelah keguguran. Dan dokter tidak memiliki jawaban (mengapa saya mengalaminya),” kata Ibu Foong.
Sangat sulit baginya untuk melihat orang-orang di sekitarnya menjadi orang tua, dan rasa sakit karena infertilitas adalah sesuatu yang sulit ia bagikan. Selama empat atau lima tahun, ia menghindari menghadiri acara baby shower.
“Saya senang untuk teman-teman saya, tetapi sedih untuk diri saya sendiri,” katanya.
Ujian berat: Harus melawan kanker
Di tengah perjuangan tersebut, cobaan besar kembali datang. Ia didiagnosis kanker payudara stadium 2, yang memaksanya untuk menghentikan sementara program kehamilan dan fokus menjalani pengobatan. Itu merupakan kejutan baginya dan juga kemunduran lain dalam upayanya untuk menjadi seorang ibu.
Masa ini tentu menjadi salah satu titik terberat dalam hidupnya. Namun, dengan dukungan keluarga dan tekad yang kuat, ia berhasil melewati fase pengobatan hingga kondisinya membaik.
Selama tiga tahun berikutnya, Ibu Foong berhenti mencoba untuk memiliki bayi karena pengobatan kankernya, tetapi melanjutkannya pada tahun 2024 ketika ia mendapat izin dari dokternya. Siklus IVF pertama setelah pengobatan kankernya tidak berhasil.
Saat itu, hanya tersisa dua embrio terakhir hasil program IVF sebelumnya. Ia dan suami sepakat, ini akan menjadi percobaan terakhir mereka. Dan demikianlah mereka memulai siklus IVF kedelapan dan terakhir mereka. Dengan penuh doa dan harapan, ia kembali menjalani proses IVF. Dan akhirnya, kabar yang dinanti pun datang ia dinyatakan hamil.
“Kami memiliki pemahaman bersama bahwa jika dua embrio terakhir tidak berhasil, kami akan menyerah. Di sinilah kami akan mengakhiri perjalanan (kesuburan) kami,” katanya.
Selama hari-hari awal kehamilan, ia diliputi rasa takut dan cemas akan mengalami keguguran lagi. Tetapi kecemasannya mereda seiring perkembangan kehamilan.
Tangis haru di usia 41 tahun
Pada Maret, Foong akhirnya menjadi seorang ibu pada usia 41 tahun, dia dan suaminya, manajer IT Winston Yip, menyambut kelahiran putri kembar mereka, Annette dan Anya.
“Sungguh menyenangkan akhirnya bisa melihat mereka,” kata Foong.
Di usia 41 tahun, penantian panjang selama 14 tahun akhirnya terjawab. Ia tidak hanya hamil, tetapi mengandung bayi kembar. Kehamilan di usia ini tentu membutuhkan perhatian ekstra. Hingga akhirnya, kedua bayinya lahir dalam kondisi prematur dan sempat dirawat intensif.
Namun, perlahan keduanya menunjukkan perkembangan yang baik. Tangis haru dan rasa syukur pun tak terbendung. Semua perjuangan, air mata, dan doa yang selama ini dipanjatkan akhirnya terbayar.
Dikutip dari Straitstime, lebih banyak bayi lahir dari wanita berusia 40-an dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2025, 9,6 bayi lahir per 1.000 perempuan berusia antara 40 dan 44 tahun, naik dari 8,9 bayi pada tahun 2015 dan 6,2 bayi pada tahun 2005. Hal ini berdasarkan angka kesuburan spesifik usia pendahuluan untuk tahun 2025 yang dirilis oleh Departemen Statistik Singapura pada akhir Februari.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)




Comments are closed.