Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Kisah Ibu Hamil yang Menolak Caesar dan Harus Mengikuti Persidangan dari Rumah Sakit

Kisah Ibu Hamil yang Menolak Caesar dan Harus Mengikuti Persidangan dari Rumah Sakit

kisah-ibu-hamil-yang-menolak-caesar-dan-harus-mengikuti-persidangan-dari-rumah-sakit
Kisah Ibu Hamil yang Menolak Caesar dan Harus Mengikuti Persidangan dari Rumah Sakit
service

Jakarta

Kisah ibu hamil menolak untuk melahirkan caesar terjadi belum lama ini di Amerika Serikat. Ibu hamil bernama Cherise Doyley tidak mau menjalani operasi caesar meskipun pihak rumah sakit khawatir akan risiko ruptur uterus, Bunda.

Dilansir People, Doyley akhirnya harus menjalani persidangan dari rumah sakit untuk menyelesaikan konflik akibat keputusannya. Ia mengikuti sidang dalam proses persalinan aktif.

Kisah awal mula Doyley menolak caesar

Pada September 2024, Doyley tiba di Rumah Sakit University of Florida Health setelah mengalami kontraksi persalinan. Perempuan asal Jacksonville, Florida ini memberi tahu staf medis tentang rencana persalinannya, yakni ingin melahirkan pervaginam.

Namun, dokter saat itu menyatakan kekhawatiran tentang risiko ruptur uterus yang ditemukan dalam pemeriksaan. Dokter pun mengatakan bahwa Doyley harus melahirkan melalui operasi caesar.

Menurut laporan ProPublica, Doyley mengatakan bahwa dia memahami risiko tersebut kurang dari 2 persen dan memberi tahu dokter bahwa dia ingin mencoba melahirkan secara pervaginam sebelum menyetujui operasi caesar. Bunda tiga anak ini berpendapat bahwa pemulihan pasca operasi sebelumnya sulit dan meninggalkan komplikasi, termasuk perdarahan yang membuatnya kembali dirawat di rumah sakit selama seminggu.

Selain itu, ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa ia tidak akan mampu merawat bayi yang baru lahir usai melahirkan. Hal itu diperberat dengan fakta bahwa ia memiliki tiga anak lainnya.

Keputusan untuk melahirkan pervaginam ini membawa Doyley ke pengadilan. Dalam rekaman sidang pengadilan, Doyley mengatakan bahwa apa yang dialaminya ini sebagai hal paling tidak masuk akal yang pernah dia lihat.

Di persidangan, Doyley tidak memiliki perwakilan hukum. Saat itu, ia harus berhadapan dengan beberapa dokter, pengacara, staf rumah sakit, dan seorang hakim.

Selama persidangan, dokter dari rumah sakit menyatakan kekhawatiran mereka terhadap kesejahteraan bayi dan risiko persalinan pervaginam. Sebaliknya, Doyley merasa tidak ada perhatian yang cukup terhadap kesejahteraannya sebagai seorang ibu.

“Saya masih memiliki hak sebagai warga negara Amerika dan sebagai pasien, saya diizinkan untuk memutuskan apa yang terjadi pada saya, tubuh saya, dan bayi saya,” katanya.

“Jika pilihannya antara saya yang harus hidup atau bayi saya yang harus hidup, saya sudah memberi tahu mereka bahwa saya ingin hidup. Saya punya anak-anak lain di luar sana yang membutuhkan saya, dan itu adalah hak saya karena pada akhirnya, jika saya meninggal karena operasi caesar, tidak seorang pun di sini akan merawat anak-anak saya.”

Doyley mengatakan dia sangat peduli dengan anaknya yang belum lahir. Tetapi, dia percaya bahwa kasusnya bukanlah keadaan darurat yang memerlukan operasi.

Doyley melahirkan secara caesar

Setelah tiga jam mendengarkan kesaksian, hakim tidak memerintahkan operasi caesar segera. Namun, ia mengatakan rumah sakit dapat melakukan operasi tanpa persetujuan pasien jika terjadi keadaan darurat, Bunda.

Namun, tak lama setelah sidang, dokter melaporkan detak jantung bayi di dalam kandungan Doyley menurun dan mereka segera membawa Doyley ke ruang operasi. Perempuan yang berprofesi sebagai doula ini akhirnya melahirkan bayi perempuan melalui operasi caesar.

Meski kejadiannya sudah lama, Doyley masih merasa dilecehkan oleh pihak rumah sakit yang memaksanya menjalani operasi.

“Ketika kita menggunakan pengadilan untuk pada dasarnya memaksa, mengintimidasi seseorang agar menjalani prosedur medis yang tidak perlu di luar kehendak mereka, itu sama saja dengan penyiksaan, menurut saya,” ujarnya.

Perlu diketahui, ruptur uterus adalah keadaan darurat yang mengancam jiwa. Dilansir laman Cleveland Clinic, ruptur uteri merupakan kondisi ketika dinding rahim robek dan menyebabkan nyeri perut hebat, perdarahan vagina, dan gawat janin. Kejadian ini jarang terjadi atau hanya sekitar 1 dari 300 persalinan, tetapi lebih mungkin dialami perempuan yang mencoba persalinan pervaginam setelah menjalani operasi caesar.

Demikian kisah Bunda menolak operasi caesar dan harus mengikuti persidangan di rumah sakit karena keputusannya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.