Wed,22 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Kisah Tambakokep dan Jin Bermata Satu, Cerita Rakyat dari Papua

Kisah Tambakokep dan Jin Bermata Satu, Cerita Rakyat dari Papua

kisah-tambakokep-dan-jin-bermata-satu,-cerita-rakyat-dari-papua
Kisah Tambakokep dan Jin Bermata Satu, Cerita Rakyat dari Papua
service

Kisah Tambakokep dan Jin Bermata Satu, Cerita Rakyat dari Papua


Ada sebuah cerita rakyat dari Papua yang berkisah tentang Tambakopep dan jin bermata satu. Cerita rakyat ini bercerita tentang pertarungan antara seorang pemuda dan jin bermata satu.

Bagaimana kisah lengkap dari cerita rakyat Papua tersebut?

Kisah Tambakokep dan Jin Bermata Satu, Cerita Rakyat dari Papua

Dikutip dari artikel Herlina Aweng, “Tambakopep Sanggu Nari Namu Kabrai, Tambakopep Melawan Jin Bermata Satu,” dalam buku Kumpulan Cerita Rakyat Papua (Pemenang Sayembara), alkisah pada zaman dahulu hiduplah seorang pemuda di sebuah dusun. Pemuda itu bernama Tambakokep.

Sehari-hari Tambakopep bekerja di kebun yang dia miliki. Dirinya tidak bisa berburu karena kondisi fisiknya.

Tambakopep menderita luka di kakinya. Luka ini meneteskan lendir dan membasahi kakinya.

Luka ini sudah ada sejak lama. Berbagai upaya sudah dilakukan oleh Tambakopep untuk mengobati luka tersebut.

Namun semua upaya yang dia lakukan tidak membuahkan hasil. Meskipun demikian, Tambakopep tetap berusaha mengobati luka di kakinya dengan ramuan tradisional.

Pada suatu hari, Tambakopep pergi ke kebun seperti biasa. Dirinya berharap menemukan hewan yang tersesat atau kalah dalam perkelahian di jalan.

Setelah berjalan cukup jauh, mata Tambakopep tertuju pada seekor kuskus yang jatuh terkapar. Alangkah senang hati Tambakopep karena keinginannya langsung terkabul saat itu juga.

Tambakopep kemudian memeriksa kuskus itu apakah masih layak untuk dikonsumsi. Setelah merasa aman, Tambakopep kemudian membawa kus-kus itu ke kebunnya dengan perasaan riang.

Sesampainya di kebun, Tambakopep kemudian menyisihkan kuskus itu di atas kayu bakar. Setelah itu, Tambakopep kemudian membakar ubi untuk dikonsumsi bersama kuskus itu nantinya.

Sembari menunggu ubi ini matang, Tambakopep kemudian berkeliling memeriksa kondisi kebunnya. Dia merasa senang karena hasil kebunnya tidak lama lagi akan siap untuk dipanen.

Ketika kembali ke pondok, Tambakopep terkejut melihat sesosok orang yang tengah menghangatkan diri di api unggun yang dia buat. Sosok ini hanya memiliki mata satu saja.

Ternyata sosok tersebut adalah jin bermata satu yang menyamar dalam bentuk manusia. Lebih terkejutnya lagi, ternyata jin tersebut merupakan kuskus yang dibawa oleh Tambakopep sebelumnya.

Tambakopep tentu takut dengan situasi ini. Setelah mengambil ancang-ancang, Tambakopep melemparkan ubi yang masih panas ke arah jin tersebut.

Ubi ini tepat mengenai mata jin tersebut. Alhasil jin itu menjadi mengamuk dan berniat untuk menghabisi Tambakopep.

Tanpa berpikir panjang, Tambakopep langsung berlari sekuat tenaga. Dia tidak peduli dengan kondisi kakinya yang terluka.

Tidak jauh dari sana, Tambakopep melihat sebuah telaga. Tanpa pikir panjang, Tambakopep kemudian masuk ke dalam telaga itu.

Jin bermata satu ini sadar jika Tambakopep masuk ke sana. Dirinya kemudian melemparkan bola-bola api ke arah Tambakopep.

Namun Tambakopep yang berhasil masuk ke dalam air lebih cepat berhasil selamat. Bola-bola api itu menjadi padam begitu mengenai air.

Meskipun demikian, jin bermata satu tidak menyerah begitu saja. Dirinya tetap menunggu di tepi telaga semalaman.

Di sisi lain, Tambakopep sesekali memunculkan kepalanya ke permukaan untuk mengambil nafas. Meskipun kedinginan, dirinya tetap bertahan di dalam telaga.

Tidak terasa fajar pun mulai menyingsing di ufuk timur. Jin bermata satu mulai khawatir dengan kondisi hari yang mulai siang.

Jin bermata satu akhirnya menyerah dan memutuskan untuk melarikan diri. Melihat kesempatan ini, Tambakopep langsung mengambil parang dan mengejar jin bermata satu itu untuk membunuhnya.

Setelah cukup lama berlarian, jin bermata satu ini kemudian menyamar menjadi sarang semut besar. Dirinya berniat untuk mengelabui Tambakopep.

Namun Tambakopep sadar dengan siasat ini. Dia kemudian menebaskan parangnya ke arah sarang semut itu.

Darah pun mengalir di parang yang dia tebaskan. Akhirnya Tambakopep mencincang sarang semut itu dan menjadi akhir dari riwayat jin bermata satu tersebut.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.