KABARBURSA.COM – Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyebut pergerakan pasar saham Indonesia menjadi yang paling bergejolak dibandingkan mayoritas bursa Asia menjelang libur panjang lebaran 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun ke level 7.022 dan sempat menyentuh 6.917 dalam perdagangan terakhir.
Liza menyampaikan dalam riset yang diterima Kabarbursa.com, bahwa tekanan pada IHSG berasal dari kombinasi faktor global dan domestik yang muncul secara bersamaan. Menurut dia, kondisi ini membuat pasar domestik bergerak lebih sensitif dibandingkan negara lain di kawasan.
“Pasar saham Indonesia terlihat jauh lebih gelisah dibandingkan sebagian besar bursa Asia,” tulis Liza dalam riset tersebut, dikutip Rabu, 18 Maret 2026.
“Koreksi ini bukan hanya dipicu sentimen global, tetapi juga kombinasi faktor risiko domestik,” imbuhnya.
Ia menjelaskan eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu awal tekanan global. Lonjakan harga minyak akibat gangguan pasokan meningkatkan risiko inflasi dan mengubah ekspektasi kebijakan moneter global.
Harga minyak Brent sempat mendekati USD120 per barel sebelum bergerak di kisaran USD100. Kenaikan ini memperbesar potensi tekanan inflasi dan menunda ruang penurunan suku bunga global.
“Jika harga minyak naik ke kisaran USD120 hingga USD150 per barel, risiko inflasi global meningkat dan penurunan suku bunga dapat tertunda,” tulis Liza.
Selain faktor energi, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tahun ini disebut turun menjadi sekitar satu kali, dibandingkan dua kali pada awal tahun.
Kombinasi Risiko Global dan Domestik
Liza menyebut perubahan ekspektasi tersebut berdampak pada aliran dana global. Investor disebut mulai mengurangi eksposur pada pasar negara berkembang dan mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
“Investor global melakukan deleveraging dari emerging markets dan memindahkan dana ke aset safe haven seperti dolar dan US Treasury,” tulisnya.
Perubahan aliran dana tersebut juga dipengaruhi pergerakan yield obligasi. Yield US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 4,27 persen, sementara yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun sekitar 6,82 persen.
Di sisi domestik, Liza menyoroti sensitivitas Indonesia terhadap lonjakan harga energi. Ketergantungan terhadap impor membuat pasar lebih rentan terhadap kenaikan harga minyak global.
Ia juga menyinggung kondisi cadangan BBM nasional yang terbatas. Cadangan yang diperkirakan hanya cukup sekitar 20 hari dinilai menambah risiko jika terjadi gangguan pasokan energi.
“Jika harga minyak tetap tinggi, pemerintah akan menghadapi dilema antara menaikkan harga BBM, memperbesar subsidi, atau menambah beban fiskal,” tulis Liza.
Selain itu, pasar juga mencermati risiko fiskal yang muncul dari wacana pelebaran defisit anggaran di atas 3 persen. Kondisi ini dinilai dapat mempengaruhi persepsi risiko terhadap ekonomi Indonesia.
Di sisi lain, dinamika pasar modal domestik turut menjadi perhatian. Pembenahan industri setelah pembekuan izin aktivitas penjamin emisi pada sejumlah perusahaan sekuritas disebut mempengaruhi kenyamanan investor dalam jangka pendek.
Menurut Liza, kombinasi faktor tersebut membuat investor cenderung bersikap lebih berhati-hati. Apalagi periode libur panjang membuat pasar domestik tidak dapat merespons perkembangan global secara langsung.
“Menjelang libur panjang Lebaran, investor cenderung defensif karena pasar Indonesia tidak bisa langsung merespons perkembangan global,” tulisnya.
Ia menambahkan bahwa pasar saat ini tidak hanya mencermati kondisi saat ini, tetapi juga skenario setelah periode libur. Perkembangan harga energi dan kebijakan global disebut menjadi faktor utama yang diperhatikan pelaku pasar. (*)





Comments are closed.