● Pascabencana, air yang terlihat jernih belum tentu aman dikonsumsi.
● Krisis air memperbesar beban domestik perempuan pedesaan.
● Teknologi pemurnian air bergerak mempercepat pemulihan yang inklusif.
Bencana banjir bandang yang melanda berbagi wilayah di Aceh pada November 2025 lalu menyisakan banyak kerusakan fisik: jembatan putus, rumah hanyut, jalan terendam, dan ribuan warga mengungsi ke tenda darurat.
Namun, di balik kerusakan fisik itu, ada krisis yang juga mematikan tetapi sering luput dari perhatian: lumpuhnya sistem penyediaan air bersih dan hilangnya akses masyarakat terhadap air bersih.
Riset yang kami lakukan pascabanjir bandang di wilayah pemukiman desa Aceh menunjukkan bahwa krisis air bersih menjadi salah satu tantangan terbesar pada fase pemulihan pascabencana. Dan lagi-lagi, perempuanlah yang paling menanggung bebannya.
Berdasarkan temuan kami, kualitas air pascabencana memang terlihat jernih dan tidak berbau. Namun, kualitasnya justru rendah karena terkontaminasi bakteri, sedimen, bahan organik dan logam berat sehingga belum tentu aman digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Alhasil, banyak perempuan yang berperan sebagai penyedia air rumah tangga mengalami kesulitan memperoleh air bersih setelah bencana.
Air jernih belum tentu aman
Pengukuran kualitas air pada penelitian yang kami lakukan pada bulan Januari 2026 lalu dengan alat ukur TDS in-situ menunjukkan tingkat total dissolved solids (TDS) atau jumlah total zat padat yang terlarut dalam air baku pascabencana mencapai 291 mg/L.
Mengonsumsi atau menyimpan air dalam kondisi ini tanpa pengolahan yang teruji secara ilmiah berisiko mempercepat penyebaran penyakit bawaan air (water-borne diseases), seperti diare akut dan infeksi kulit.
Risiko tersebut semakin besar ketika air disimpan dalam wadah darurat yang kebersihannya tidak terjaga atau digunakan dalam jangka waktu yang lama.
Tanpa pengolahan memadai, masyarakat berisiko menggunakan air yang kualitasnya buruk selepas bencana. Karena itu, keberhasilan bantuan air sebaiknya tidak diukur hanya dari ketersediaan air, tetapi juga dari jaminan kualitas dan keamanannya.
Perempuan menanggung dampak terbesar
Krisis air pascabencana adalah bentuk nyata dari ketidakadilan iklim dalam respons gender.
Di banyak wilayah pedesaan Aceh, perempuan memegang peran utama dalam pengelolaan kebutuhan domestik, termasuk penyediaan air bagi keluarga.
Dalam riset kami, sebanyak 78% perempuan yang berperan sebagai penyedia air rumah tangga mengaku kesulitan memperoleh air bersih setelah bencana.
Ketika akses air bersih terganggu, perempuan menjadi pihak pertama yang harus mencari solusi. Mereka harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan air, mengantre di lokasi distribusi bantuan, atau menghabiskan waktu untuk memurnikan air keruh yang tersedia agar dapat dikonsumsi oleh anggota keluarga.
Akibatnya, beban kerja domestik perempuan meningkat signifikan. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk beristirahat, memulihkan kondisi psikologis pascabencana, atau berpartisipasi dalam proses pemulihan komunitas justru habis untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.
Fenomena ini memicu situasi yang disebut “kemiskinan waktu” (time poverty). Kondisi ini terjadi ketika sebagian besar waktu produktif seseorang terkuras untuk urusan bertahan hidup dasar.
Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan untuk memulihkan diri dari trauma psikologis, memulihkan tekanan mental, atau berpartisipasi dalam forum-forum pengambilan keputusan pemulihan desa.
Dalam konteks pascabencana, kemiskinan waktu memperlihatkan bagaimana dampak krisis air tidak dialami secara setara oleh seluruh anggota masyarakat.
Data respons masyarakat yang kami kumpulkan dari kuesioner menunjukkan bahwa kelompok yang paling terdampak adalah perempuan berlatar belakang ibu rumah tangga dan petani berpenghasilan rendah. Kelompok ini berada di garis depan dalam menghadapi dampak langsung dari rusaknya infrastruktur air bersih.
Inovasi teknologi inklusif
Temuan kami menunjukkan bahwa penyediaan air aman pascabencana tidak bisa dipandang semata sebagai persoalan teknis. Akses terhadap air juga berkaitan dengan upaya mengurangi beban kerja perempuan dan memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Di desa-desa yang lokasinya terpencil dan sulit dijangkau, tidak bijaksana jika pemulihan akses air bersih hanya mengandalkan perbaikan sistem air bersih terpusat.
Oleh karena itu, kami menawarkan solusi melalui penyediaan unit pemurnian air keliling (Rapid Mobile Water Purification) untuk dapat menjangkau lebih banyak daerah terdampak bencana.
Teknologi yang digunakan mencakup kombinasi proses fisik dan kimia, antara lain filtrasi dengan Ultra Filtration (UF) dan Reserve Osmosis (RO) membrane untuk mengurangi kekeruhan serta desinfeksi menggunakan sinar UV untuk mengendalikan kontaminasi mikrobiologi. Alat bekerja secara otomatis, dapat melakukan pemeliharaan (back-wash) dan filter air mandiri sehingga beban perempuan dalam mengolah air berkurang. Rapid Mobile Water Purification juga dapat dipindah-pindahkan sehingga dapat menjangkau masyarakat lebih dekat dan meringankan beban perempuan dalam menyediakan air bagi keluarga.
Di tengah meningkatnya frekuensi bencana akibat perubahan iklim, ketahanan air seharusnya tidak lagi dipahami hanya sebagai persoalan infrastruktur, melainkan persoalan keadilan sosial. Sebab, kelompok yang paling merasakan dampaknya sering kali adalah mereka yang paling sedikit terlihat dalam proses pengambilan keputusan, yakni perempuan.
Artikel ini merupakan hasil kolaborasi diseminasi sains para pakar bersama CommsLab dan The Conversation Indonesia.



Comments are closed.