Fri,14 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Lagu daerah saat mudik: Bagaimana komunitas Melayu dan Minang membangun imaji atas kampung halaman

Lagu daerah saat mudik: Bagaimana komunitas Melayu dan Minang membangun imaji atas kampung halaman

lagu-daerah-saat-mudik:-bagaimana-komunitas-melayu-dan-minang-membangun-imaji-atas-kampung-halaman
Lagu daerah saat mudik: Bagaimana komunitas Melayu dan Minang membangun imaji atas kampung halaman
service

● Lagu-lagu daerah saat mudik Lebaran jadi sarana perantau mengenang kampung halaman.

● Tradisi merantau bisa bersifat fleksibel secara ekonomi, ataupun terkait erat dengan adat.

● Lagu daerah mencerminkan narasi harmoni pada masyarakat Melayu, serta narasi nostalgia pada masyarakat Minangkabau.


Setiap musim mudik Lebaran, lagu-lagu daerah kembali terdengar sepanjang perjalanan. Di dalam mobil yang merayap di jalan lintas Sumatra menuju ke Sumatra Barat, nyanyian tentang kampung halaman, Kampuang nan Jauah di Mato diputar berulang.

Kampuang nan jauah di mato (kampung yang jauh di mata)

Gunuang sansai bakuliliang (banyak gunung mengelilingi)

Takana jo kawan-kawan nan lamo (teringat kawan-kawan lama)

Sangkek basuliang-suliang (saat bermain suling).

Lagu tentang kampung halaman juga didendangkan di atas kapal Pelni untuk dinikmati para pemudik dari Pulau Jawa menuju ke Bintan dan Batam di Kepulauan Riau (Kepri). Kapal penyeberangan roll-on roll-off (RORO) ataupun kapal feri juga memanjakan para penumpangnya dengan lagu-lagu Melayu legendaris, seperti Pulau Bintan.

Pulau lah Bintan ala sayang (Pulau Bintan, oh sayang)

Lautnya biru alahai adek (lautnya biru, duhai adik)

Pulau Penyengat ala sayang (Pulau Penyengat, oh sayang)

Jelas melintang (terlihat jelas membentang).

Bagi perantau, mudik bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan emosional—perjalanan kembali kepada ingatan, kepada orang tua, kepada laut, atau gunung. Dengan kata lain, mudik menegaskan identitas dan ikatan kultural.


Read more: Mengapa orang tetap mudik Lebaran meski harga tiket mahal?


Namun, tak sekadar teman kala mudik, lagu tentang tanah asal juga menyimpan cerita tentang cara suatu masyarakat memahami kampung halaman. Bagi masyarakat perantau Melayu Kepri maupun Minangkabau, lagu menjadi media proyeksi identitas dan pengesahan nilai budaya.

Artinya, lagu adalah cara komunitas mengekspresikan konsep merantau dan hubungan mereka dengan kampung halaman.

Memahami konsep merantau

Tradisi merantau memiliki akar panjang dalam kebudayaan nusantara. Pada masyarakat Melayu pesisir di Riau dan Kepulauan Riau, merantau umumnya dipahami sebagai bentuk mobilitas sosial-ekonomi yang lentur.

Orang Melayu dikenal memiliki mobilitas tinggi untuk berdagang, bekerja, dan membangun jaringan di luar kampung halaman. Tradisi ini tidak selalu menjadi kewajiban adat, tetapi menjadi karakter sosial yang adaptif.

Sementara bagi masyarakat Minangkabau, merantau memiliki fondasi adat yang kuat. Ia terhubung dengan sistem kekerabatan matrilineal dan nilai kemandirian laki-laki Minang. Merantau bukan hanya pilihan ekonomi, melainkan proses pembentukan identitas dan pendewasaan sosial.

Seorang pemuda Minang dianggap “manjadi” (dewasa/berguna) setelah ia berani menguji diri di rantau. Jarak dari kampung halaman bukan sekadar geografis,tetapi juga simbolik: sebuah tahap hidup yang harus dilalui.

Kampung halaman dalam lirik lagu

Lagu-lagu Melayu Kepulauan Riau—seperti Pulau Bintan, Segantang Lada, dan Tanjungpinang Kampong Kite—menampilkan kampung halaman sebagai ruang harmonis dan penuh makna.

Alam pesisir, laut biru, pulau-pulau, dan jejak sejarah Melayu berpadu untuk menggambarkan kedekatan manusia dengan lingkungannya. Lagu-lagu ini menegaskan bahwa kampung halaman bukan sekadar tempat yang ditinggalkan, melainkan ruang yang selalu hadir dalam ingatan dan kebanggaan kolektif.

Nuansa ini tampak dalam lirik lagu Segantang Lada:

Segantang lada, tanah kita yang permai, rindu pada yang tersayang tak pernah pudar.

Lagu ‘Segantang Lada’ dari Kepulauan Riau.

Lagu tersebut menekankan kampung halaman sebagai pusat identitas dan kehidupan, saat kerinduan lebih bersifat personal daripada akibat keterasingan dari tanah asal.

Adapun lagu Tanjungpinang Kampong Kite menyoroti kampung halaman sebagai ruang kolektif. Alam, sejarah, dan adat berpadu dalam narasi tanggung jawab bersama, misalnya:

Mari kita jaga Sungai Carang, Pulau Penyengat, warisan nenek moyang kita, agar kampung tetap rukun dan sejahtera.

Lirik ini menegaskan bahwa keindahan Tanjungpinang bukan hanya pada lanskap, tapi juga pada nilai sosial yang hidup di dalamnya—menunjukkan kampung halaman sebagai milik bersama yang harus dirawat.

Lagu Minang juga sarat pengambaran tentang kampung halaman. Ada tiga lagu yang jadi contoh:Kampuang Nan Jauh di Mato, Kelok 44, dan Batu Tagak.

Lagu Kampuang Nan Jauh di Mato karya Oslan Husein (1931) menggambarkan lanskap kampung, kawan, dan keluarga dengan irama Minang klasik—menegaskan bahwa kampung bukan sekadar tempat, tapi pusat identitas dan kebanggaan.

Lagu Kelok 44 menggunakan tikungan jelang Danau Maninjau sebagai simbol perpisahan, dengan air mata yang menunjukkan bahwa jarak adalah pengalaman yang menyakitkan. Lanskap berubah menjadi metafora batas antara rumah dan dunia luar, menghadirkan kerinduan yang nyata bagi perantau.

Sementara lagu Batu Tagak yang diciptakan Syahrul Tarun Yusuf dan populer tahun 1960-1980-an menekankan kerinduan pada mandeh (ibu) dan ayah, menjadikan kampung halaman sebagai ruang penantian. Ada janji untuk pulang, tetapi kesadaran akan beratnya hidup di rantau tetap hadir.

Ketiga lagu ini memperlihatkan bahwa dalam tradisi Minangkabau, kampung halaman hidup dalam ingatan, identitas, dan emosi yang terus memandu perantau kembali ke akar budayanya.


Read more: Konser dangdut koplo: Wadah nostalgia kaum urban Jawa


Lagu dan imajinasi kolektif

Berdasarkan analisis terhadap lirik lagu-lagu di atas, terdapat setidaknya dua cara melihat kampung halaman dalam lagu. Pertama, imajinasi harmoni: tanah asal sebagai ruang yang stabil, membanggakan, dan utuh seperti dalam lagu Melayu Kepri.

Kedua, imajinasi nostalgia, yakni tanah asal sebagai ruang yang sangat dicintai, tetapi juga menghadirkan luka karena jarak seperti dalam lagu Minangkabau.

Perbedaan ini mencerminkan pengalaman sosial yang berbeda tentang merantau. Dalam konteks Melayu Kepri, mobilitas tidak selalu menciptakan dramatisasi emosional terhadap kampung halaman.

Dalam konteks Minangkabau, merantau justru mempertegas jarak dan memperdalam rasa rindu.

Mudik Lebaran menjadi salah satu momen ketika dua narasi ini terpanggil kembali. Lagu-lagu itu diputar dalam perjalanan pulang, mempertemukan kembali perantau dengan lanskap asalnya. Namun bahkan tanpa mudik, lagu tetap menjadi ruang tempat memori atas kampung halaman terus hidup.


Read more: Mengapa musik bisa membangkitkan kenangan? Ini penjelasan ilmiahnya


Pada akhirnya, membaca lirik lagu-lagu dari Melayu Kepri dan Minangkabau bukan sekadar membaca bait lagu yang dinyanyikan, tapi juga membaca bagaimana dua komunitas di Sumatra membangun imajinasi kolektif tentang tanah asalnya.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.