Sat,11 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Latsarmil Makan 5 Korban Jiwa, Kemhan Ubah Jadi Latihan Pembekalan Bela Negara

Latsarmil Makan 5 Korban Jiwa, Kemhan Ubah Jadi Latihan Pembekalan Bela Negara

latsarmil-makan-5-korban-jiwa,-kemhan-ubah-jadi-latihan-pembekalan-bela-negara
Latsarmil Makan 5 Korban Jiwa, Kemhan Ubah Jadi Latihan Pembekalan Bela Negara
service

Jakarta, NU Online

Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengubah format pelatihan bagi calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Program yang sebelumnya dikenal sebagai Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) kini diubah menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial.

Perubahan tersebut dilakukan setelah Kemhan mengevaluasi pelaksanaan program menyusul meninggalnya lima peserta Latsarmil. Evaluasi juga mempertimbangkan berbagai masukan dari sejumlah pihak.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan format Latsarmil tidak lagi digunakan seperti sebelumnya.

“Yang dapat kami sampaikan, format kegiatan yang sebelumnya dikenal sebagai Latsarmil telah dievaluasi dan tidak lagi digunakan dalam bentuk sebelumnya,” kata Rico saat dihubungi NU Online, Selasa (30/6/2026).

Ia menjelaskan, pelatihan kini difokuskan pada pembekalan bela negara dan manajerial bagi calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih maupun Kampung Nelayan Merah Putih.

“Saat ini kegiatan diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial bagi calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih,” ujarnya.

Menurut Rico, perubahan tersebut menempatkan keselamatan dan kesehatan peserta sebagai prioritas utama. Karena itu, materi yang bersifat teknis maupun taktis kemiliteran dihapus dari kurikulum pelatihan.

“Prinsip utamanya adalah keselamatan dan kesehatan peserta menjadi prioritas, sehingga materi teknis dan taktis militer dihilangkan, termasuk kegiatan menembak,” tuturnya.

Selain itu, intensitas aktivitas fisik juga dikurangi dan disesuaikan dengan latar belakang peserta yang merupakan warga sipil.

“Intensitas fisik dikurangi dan disesuaikan dengan latar belakang peserta sebagai warga sipil,” lanjut Rico.

Ia menambahkan, pelatihan kini diarahkan untuk membentuk karakter sekaligus meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan manajerial yang dibutuhkan dalam pengelolaan koperasi.

“Selanjutnya, kegiatan peserta difokuskan pada pembentukan karakter, disiplin, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, kerja sama, tanggung jawab, serta pembekalan manajerial yang relevan dengan tugas mereka sebagai calon pengelola koperasi,” ujarnya.

Rico menegaskan orientasi program juga telah berubah. Menurutnya, pelatihan tidak lagi menitikberatkan pada aspek kemiliteran, melainkan pada penguatan karakter, bela negara, dan kesiapan mengelola koperasi.

“Jadi, orientasinya bukan lagi pada latihan militer, melainkan pada bela negara, karakter, dan kesiapan manajerial,” pungkasnya.

Pemaksaan militer kepada sipil

Sebelumnya, Perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan, Muhammad Isnur, menilai pelatihan militer bagi calon pengelola koperasi tidak memiliki keterkaitan dengan tugas yang akan mereka emban.

Isnur mengaitkan kritik tersebut dengan meninggalnya lima calon manajer Koperasi Desa Merah Putih saat mengikuti rangkaian pelatihan.

“Tragedi ini merupakan konsekuensi serius dari kebijakan yang sejak awal keliru karena memaksakan pendekatan militer ke dalam ruang sipil tanpa dasar kebutuhan, tanpa relevansi, dan tanpa justifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” katanya kepada NU Online, Ahad (28/6/2026).

Menurut Isnur, kemampuan yang dibutuhkan seorang pengelola koperasi berkaitan dengan tata kelola organisasi dan pemberdayaan masyarakat, bukan keterampilan militer.

“Kompetensi pengelola koperasi dibangun melalui penguasaan tata kelola organisasi, kepemimpinan partisipatif, akuntabilitas, literasi keuangan, dan pemberdayaan masyarakat, bukan melalui latihan militer,” katanya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.