Jakarta, Arina.id — Akademisi Fahrudin Faiz mengulas secara mendalam makna kesederhanaan yang kerap disalahpahami oleh banyak orang. Selama ini, kata “sederhana” sering diasosiasikan dengan kondisi serba sedikit, terbatas, bahkan dekat dengan kemiskinan atau kekurangan.
Padahal, menurutnya, pemahaman tersebut tidak sepenuhnya tepat. Ia menjelaskan bahwa kesederhanaan bukanlah tentang jumlah harta atau kepemilikan, melainkan tentang sikap batin dalam menyikapi apa yang dimiliki.
“Selama ini kita sering menganggap sederhana itu berarti sedikit atau tidak banyak, sehingga kesannya dekat dengan kemiskinan. Padahal tidak begitu,” ujarnya dalam tayangan video Youtube Mengaji Hening diakses Senin (20/4/2026).
Dalam perspektif filsafat dan juga nilai keagamaan, kesederhanaan lebih dekat dengan konsep qanaah, yakni sikap menerima apa adanya serta mensyukuri apa yang telah dimiliki. Sikap ini menjadi kunci utama dalam membangun kebahagiaan hidup.
Ia mengutip pemikiran Seneca yang menyatakan bahwa ketidakpuasan adalah sumber utama dari rasa kekurangan. “Jika seseorang tidak merasa puas dengan apa yang dimilikinya sekarang, maka ia tidak akan pernah merasa puas, bahkan jika seluruh dunia menjadi miliknya,” jelasnya.
Menurutnya, pernyataan tersebut menegaskan bahwa kepuasan bukan ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi oleh kondisi mental seseorang. Dalam hal ini, kesederhanaan justru menjadi indikator kekayaan dalam arti yang lebih dalam, yakni kekayaan batin.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hidup yang bahagia adalah hidup yang sederhana. Sederhana dalam arti ikhlas, rela, dan merasa cukup dengan apa yang ada. Orang yang mampu mencapai titik ini, kata dia, sejatinya telah memiliki mental orang kaya.
“Orang yang merasa cukup dengan apa yang dimiliki, itu mentalnya mental kaya. Dia merasa semua kebutuhannya terpenuhi,” katanya.
Sebaliknya, seseorang yang selalu merasa kurang, meskipun memiliki harta yang melimpah, justru menunjukkan mental miskin. Ketidakpuasan yang terus-menerus membuat seseorang tidak pernah benar-benar menikmati apa yang dimilikinya.
“Bisa saja seseorang punya banyak, bahkan berlebih, tapi tetap merasa kurang. Itu hakikatnya mental miskin,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa kesederhanaan memiliki makna yang setara dengan kekayaan dalam aspek mental. Sementara itu, ketidakmampuan untuk merasa cukup justru identik dengan kemiskinan secara batin.
Dalam kehidupan sehari-hari, konsep ini bisa diterapkan dalam berbagai kondisi. Seseorang tidak harus menunggu memiliki segalanya untuk merasa bahagia. Bahkan dengan keterbatasan, seperti kendaraan sederhana atau kebutuhan yang belum sepenuhnya terpenuhi, seseorang tetap bisa merasakan kebahagiaan jika memiliki sikap qanaah.
“Boleh saja kita belum punya mobil, atau masih menggunakan motor lama yang sering bermasalah. Tapi jika kita merasa cukup dan bahagia, itu artinya kita memiliki mental kaya,” jelasnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk mulai mengubah cara pandang terhadap kesederhanaan. Alih-alih melihatnya sebagai simbol kekurangan, kesederhanaan seharusnya dipahami sebagai bentuk kekayaan sejati yang bersumber dari rasa syukur dan kepuasan batin.
Dengan demikian, kesederhanaan bukanlah titik terendah dalam kehidupan, melainkan justru puncak kedewasaan dalam memaknai hidup. “Kesederhanaan itu menunjukkan orang yang bermental kaya, karena ia merasa cukup dan puas dengan apa yang dimilikinya saat ini,” tegasnya.





Comments are closed.