Syam Terrajana meminta pengunjung Galeri SAL PROJECT, Jakarta Art Hub Ranuza, bergumam. Pelukis yang juga jurnalis ini mengulang permintaannya beberapa kali agar gumaman dua puluhan orang di lantai dua Gedung Ranuza, Jakarta Pusat, itu senada.
Laras telah seirama. Sebagian lampu ruangan dimatikan. Ruangan mendadak redup kebiruan. Dari bilik belakang terdengar pintu terbuka. Bersamaan dengan itu, seorang pria berbalut kain putih membawa guling dengan warna yang sama bergerak pelan.
Dia Zulkipli, seniman pertunjukan. Mulutnya memanggil-panggil, “Ibu, ibu, ibu…” Pengunjung terus bergumam. Hem, hem, hem. Zulkipli bergeser ke tengah ruang, menuju hiasan kelambu biru dengan bola lampu listrik menyala di atas.
Setelah menggantungkan bantal panjang di dalam kurungan tirai, ia beranjak keluar. “Tepian biru, tepian biru,” ucap dia berulang-ulang.
Lalu, ia menyungkurkan tubuhnya, bersujud. Dan, ruangan kembali benderang. Pertunjukan Zulkipli inilah yang menandai pembukaan pameran lukisan Syam Terrajana pada Sabtu petang, 18 April 2026. Syam Terrajana memajang sembilan lukisannya hingga 30 Mei 2026.
Pelukis asal Gorontalo yang kini tinggal di Yogyakarta ini berpameran dengan tema “ibu, peluru & tepian biru” yang dia rujuk dari satu lukisan karyanya. Lukisan ini bergaya figuratif, menggunakan cat akrilik pada kanvas ukuran 150×120 sentimeter. Syam Terrajana membuatnya pada rentang 2025-2026.
Sosok perempuan dengan pulasan cat kuning kehijauan berdiri. Vas bunga berhias serupa pohon dengan daun melengkung, menemani figur ini. Di dekat “ibu”, memanjang batang meriam.
Uniknya, di ujung tabung pekatu menyembul asap dari dua colok yang ditata mirip huruf “v”. Di belakang “ibu”, gugusan mendung aneka warna memperindahnya. Ada yang bercorak coklat, hijau, biru, dan magenta.
“Ibu, peluru & tepian biru” seolah sedang bicara sarkas dengan situasi global saat ini yang sedang ringkih. Peluru dan mesiu tiada guna menghujani Iran, sejumlah negara Timur Tengah, dan Ukraina. Mesin perang telah membunuh manusia dan kehidupan.
Di tengah situasi konflik itu, kehadiran ibu sungguh penting. Ia adalah pemberi kehidupan, pengasuh, dan penyedia kebutuhan dasar. “Ibu, peluru & tepian biru” juga menguatkan ingatan pada perempuan tangguh, feminis yang melintas zaman, Kartini.
Bagi Syam Terrajana, “ibu, peluru & tepian biru” datang menganggunya saat menyelesaikan lukisan. Ia tidak tahu maknanya. Ia tak sedang merasa jadi penyair, bertepuk dada setelah dihampiri wahyu kata-kata.
Syam Terrajana coba melucutinya. Tapi ibarat mantra, kata-kata itu terus hinggap. Makin dihalau, makin minta dirapalkan. Bukan sihir bukan sulap. Dia percaya tak ada yang serba kebetulan. Maka, dia mulai meraba kata-kata itu. “Mungkin mereka titisan dari tumpukan pengalaman dan memori bawah sadar,” kata dia.
Kepada semua tamunya, Syam Terrajana bertutur tentang masa kecilnya yang dikitari banyak perempuan hebat, mulai dari nenek dan saudara-saudaranya. Beberapa di antaranya memilih tidak menikah. Ia mengenang mereka sebagai sosok-sosok tangguh, melakukan apa pun sendirian.
Perempuan itu memasak, memotong kayu, menjahit, dan berkebun. Sebagai kaum hawa, mereka membuat minyak. Kalau menyimak lagu dan puisi tentang ibu, lampu imajinasi Syam Terrajana selalu menyorot pada mereka.
Buat Syam Terrajana, ada rasa damai dan nyaman, manakala melihat neneknya menghalau nyamuk dengan sapu lidi, sebelum menutup kelambu di ranjangnya. Meski begitu, ibu dalam karya-karya Syam Terrajana kali ini meluas maknanya.
Dia adalah tanah, hujan, atau apa pun yang sanggup menumbuhkan kehidupan, rasa aman, dan nyaman. Sedangkan peluru, ucap Syam, semacam mekanisme pertahanan diri. “Adapun tepian biru adalah harapan, masa depan, ramalan, atau hal hal fatamorgana yang tak terjangkau dan misterius,” kata dia.
Syam Terrajana juga menampilkan karya seni rupa berjudul “kontes ratu adil” dalam ukuran 150×120 sentimeter dengan goresan cat akrilik di atas kanvasnya. Ia memvisualkan secara figuratif 19 orang yang berfoto bersama. Syam berkisah, mereka ini guru dan murid sekolah periode penjajahan Belanda di Gorontalo.
Foto ini dia respons dengan menjadikan tiga tiang bangunan sekolah itu sebagai penopang cerobong asap pabrik. Kepulan jelaga industri ini pun berkeliling kawat berduri.
Foto itu juga diunggah peminat sejarah Bintoro Hoepoedio dalam akun facebook-nya. Ia memberi keterangan, foto ini adalah guru dan murid di suatu sekolah di Gorontalo, sekitar tahun 1925. Onderwijzers en leerlingen van een school te Gorontalo, ca 1925. Sejumlah orang Gorontalo menyatakan gedung sekolah itu masih berdiri kokoh.
Syam Terrajana menyatakan lukisan “kontes ratu adil” bermula dari munculnya orang yang menyebut diri sebagai juru selamat buat bangsa ini. Ratu adil ini mengklaim diri sebagai orang hebat yang ditunggu-tunggu masyarakat. “Padahal, klaim itu ditolak, tidak dipercaya orang,” katanya.
Dalam lukisan lain, Syam Terrajana menggambar sosok dengan wajah kabur, seperti yang lain dalam pelbagai lukisannya. Di bagian kanan atas ada lukisan samar kecil rumah gadang khas Minang.
“Itu sosok Tan Malaka. Rumah Tan saya foto saat berkunjung ke sana,” tutur dia. Rumah kelahiran Tan ini berada di Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.
Syam Terrajana menyatakan, karya-karya dalam pameran ini merupakan kumpulan kepingan kisah. Ia menemukannya pada buku-buku, majalah, dan surat kabar tua. Ia mendapatkannya pada foto-foto lama yang entah dari mana dan siapa.
Ia merangkai cerita pada semesta renungan yang sekelebat datang, pada museum dan rumah tua terbengkalai, pada batu, dan rumput liar di halaman rumah. “Pada air muka orang orang yang saya kenal maupun tidak,” ucapnya.
Testimoni Syam Terrajana ini satu ide dengan narasi pengelola SAL Project, Windi Salomo. Hampir setahun mereka menyiapkan pameran ini. Windi tahu, Syam Terrajana adalah pelukis yang memiliki banyak pengalaman seni pertunjukan, puisi, dan jurnalisme. Semua memfasilitasi minatnya pada sejarah.
Ia paham, sejak kecil, Syam Terrajana terbiasa dengan buku, terutama koleksi kakeknya. Tokoh-tokoh dalam karyanya meminjam bentuk manusia dari foto sejarah arsip masa kolonial Belanda. Buat Windi, pameran ini merupakan hasil percakapan Syam Terrajana dengan fragmen-fragmen yang ia temui.
Windi menyatakan setiap sapuan kuas mewakili pertukaran pikiran antara masa lalu dan pewarisnya. Baginya, “ibu, peluru, dan tepian biru” merupakan kumpulan ihwal manifestasi diri Syam Terrajana sebagai seniman. “Kumpulan pertanyaan yang senantiasa tidak memiliki jawaban,” tutur Windi.





Comments are closed.