Sat,25 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Masjid Bersejarah yang Kini Jadi Cagar Budaya Nasional

Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Masjid Bersejarah yang Kini Jadi Cagar Budaya Nasional

masjid-raya-baiturrahman-aceh,-masjid-bersejarah-yang-kini-jadi-cagar-budaya-nasional
Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Masjid Bersejarah yang Kini Jadi Cagar Budaya Nasional
service

15 Maret 2026 18.00 WIB • 2 menit

Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Masjid Bersejarah yang Kini Jadi Cagar Budaya Nasional


Siapa tak kenal dengan Masjid Raya Baiturrahman Aceh? Masjid legendaris ini merupakan simbol kekuatan sekaligus kebanggaan masyarakat Aceh.

Terletak di pusat Kota Banda Aceh, Masjid Raya Baiturrahman adalah saksi bisu dahsyatnya tsunami yang menerjang Aceh tahun 2004 silam. Saat sebagian wilayah Banda Aceh rata dengan tanah, masjid ini masih kokoh berdiri, seakan menunjukkan jika dia “kuat”.

Masjid Raya Baiturrahman Aceh sudah berdiri sejak lama, jauh sebelum Indonesia merdeka. Masjid ini juga pernah dihanguskan oleh Belanda di tahun 1800-an. Kini, masjid tersebut menjadi ikon khas Banda Aceh dan Provinsi Aceh.

Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Melalui grandbaiturrahman.emasjid.id, disebutkan jika Masjid Raya Baiturrahman Aceh dibangun di pada era Sultan Iskandar Muda di tahun 1607-1636 M. Namun, ada pula literatur yang menyebut bahwa masjid ini sudah berdiri sejak 1292 M oleh Sultan Alauddin Johan Mahmudsyah.

Masjid besar ini pernah dibakar oleh Belanda di tahun 1873. Akibatnya, perlawanan sengit terjadi antara rakyat Aceh dengan Belanda.

Disadur dari Indonesia Kaya, rakyat Aceh berjuang mati-matian untuk mempertahankan masjid mereka. Saat itu, Belanda juga kehilangan panglima mereka akibat pertempuran sengit dengan masyarakat lokal.

Kemudian, tahun 1879-1881, Masjid Raya Baiturrahman dibangun ulang oleh Belanda. Konon, pembangunan ini adalah bagian dari upaya Belanda untuk meredakan resistensi rakuat Aceh pada pendudukan Belanda.

Arsitektur bangunan versi anyar ini dibuat dengan mengadaptasi gaya Moghul India. Kala itu, masjid nan indah ini berdiri di pusat kota dan hanya memiliki satu kubah saja.

Uniknya, bahan-bahan untuk membangun masjid ini dibawa langsung dari berbagai negara. Ada batu-batuan yang dibawa dari Belanda dan Tiongkok. Lalu, masih ada besi jendela yang diimpor dari Belgia, dan sebagainya.

Seiring berjalannya waktu, masjid kembali dipugar. Tak hanya itu, jumlah kubah pun ditambah hingga berjumlah lima buah di tahun 1957.

Tahun 1991, masjid kembali dipugar dan jumlah kubahnya pun bertambah menjadi tujuh. Kubah dengan warna hitam pekat itu sampai sekarang masih jadi ciri khas Masjid Raya Baiturrahman.

Kawan GNFI, saat tsunami dahsyat menghantam Aceh, masjid ini masih kokoh berdiri. Ada kerusakan di beberapa titik bangunan, tetapi struktur bangunannya masih berdiri tegak.

Masjid Raya Baiturrahman Aceh kemudian direnovasi pasca-tsunami. Total dana yang digelontorkan untuk memperbaiki masjid legendaris kebanggaan rakyat Aceh ini hingga Rp20 miliar.

Dana itu diperoleh dari bantuan dunia, mengingat tsunami Aceh pernah berstatus sebagai bencana nasional. Kala itu, Saudi Charity Campaign mendanai perbaikan masjid tersebut. Renovasinya selesai di tahun 2008.

Masjid Raya Baiturrahman Aceh Sebagai Cagar Budaya Nasional

Masjid Raya Baiturrahman Aceh ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Hal ini membuktikan bahwa masjid ini bukan sekadar bangunan yang digunakan sebagai tempat ibadah, tapi juga bangunan dengan sejarah dan nilai budaya yang bernilai.

Menukil dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Provinsi Aceh, Masjid Raya Baiturrahman resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional pada akhir 2025. Kemudian, penyerahan sertifikat Cagar Budaya Nasional diberikan pada awal Maret 2026.

Penetapan ini menunjukkan bahwa masjid itu merupakan salah satu warisan penting identitas Aceh dan Indonesia secara keseluruhan. Kini, Masjid Raya Baiturrahman masih tetap hidup dan difungsikan sebagai pusat kegiatan keagamaan bagi masyarakat Banda Aceh.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.