Beberapa nelayan mulai memenuhi dermaga kecil di Desa Kaana, Pulau Enggano, pagi itu. Di atas papan-papan dengan kayu mulai lapuk, mereka menggelar gulungan jaring baru sepanjang 30 meter. Beberapa orang menarik ujungnya perlahan, memastikan simpulnya tidak kusut sebelum mereka bawa melaut. Tak jauh dari situ, di atas perahu kayu, seorang nelayan mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya. Dia membuka aplikasi, mencatat lokasi penangkapan dan hasil tangkapan hari sebelumnya. Kebiasaan yang dulu terasa asing itu kini mulai menjadi bagian dari rutinitas. Para nelayan ini pakai aplikasi GeoEnggano, sebagai pencatat data dan informasi. Pulau Enggano seluas sekitar 400 kilometer persegi, berada hampir 100 kilometer di lepas pantai Bengkulu. Untuk mencapai daratan Sumatera, warga harus menempuh penerbangan sekitar satu jam atau perjalanan laut hingga 18 jam jika cuaca bersahabat. Ketika ombak tinggi, kapal tidak berlayar. Masyarakat Enggano sebagian besar hidup bergantung laut. “Bagi kami, kalau tidak melaut ya tidak ada pemasukan,” kata Khairin Anwar, nelayan Enggano. Di bawah Pulau Enggano, membentang pertemuan dua jalur megathrust besar, Mentawai-Pagai dan Enggano, yang menjadikan kawasan ini salah satu wilayah paling aktif secara tektonik di Indonesia. Gempa bukan lagi peristiwa luar biasa bagi warga. Getaran kecil datang begitu sering hingga banyak orang tak lagi menghitungnya. Setiap guncangan tetap membawa ingatan pada gempa-gempa besar yang pernah meluluhlantakkan pulau itu. Gempa 2000, masih membekas dalam ingatan warga. Puluhan warga Enggano kehilangan nyawa. Rumah-rumah roboh. Dua dekade kemudian, rangkaian gempa kembali merusak ratusan rumah dan memaksa warga meninggalkan tempat tinggal mereka untuk sementara waktu. Bagi masyarakat Desa Kaana, Enggano,…This article was originally published on Mongabay
Masyarakat Enggano Belajar Potensi Daerah sampai Risiko Bencana dari Kumpulkan Data
Masyarakat Enggano Belajar Potensi Daerah sampai Risiko Bencana dari Kumpulkan Data





Comments are closed.