Yupin bersiap menurunkan pancing ulurnya di perairan Anambas, Kepulauan Riau, Kamis siang (16/8/26). Dari kejauhan dia melihat dua pasang kapal ikan asing Vietnam tengah bergerak melakukan aktivitas penangkapan ikan. Melihat itu, Yupin pilih membatalkan niatnya. Dia tarik jangkar dan bergeser untuk mencari fishing ground lain. “Kalau tidak pindah risiko jangkar bisa nyangkut di jaring kapal trawl mereka, karena kawan saya sudah ada pernah kena, terseret jaring mereka,” kata nelayan Palmatak, Kabupaten Anambas itu. Bagi nelayan seperti Yupin, kehadiran kapal Vietnam adalah momok. Bukan hanya aktivitasnya yang ‘mengobok-ngobok’ wilayah tangkap mereka, tetapi juga alat penangkapan ikan (API) yang mereka gunakan, yakni trawl. Penggunaan API adalah dengan menariknya menggunakan dua kapal. Dengan begitu, jaring trawl yang berukuran besar menyapu dasar laut. “”Makanya, kami harus menghindar, kalau tidak habislah disikat mereka pakai jaring trawl,” kata Yupin bercerita ke Mongabay, Sabtu (15/8/26). Pertemuannya dengan kapal Vietnam itu berada di koordinat 04°33’56.0″N, 106°52’23.2″E yang merupakan teritorial Indonesia. Dari Pulau Anambas, jaraknya sekitar 80 mil. “Itu kejadian siang, malam juga saya bertemu dengan mereka. Siang malam mereka kerja,” katanya. Bagi Yupin, kehadiran kapal asing itu membuat nelayan Anambas tak merasa tenang untuk beraktivitas. “Jadi kita melaut sekarang seperti dikejar-kejar, pas kita mancing, disitu mereka ada juga. Kita terpaksa menghindarlah.” ABK Vietnam saat digiring di pangakalan PSDKP Batam. Foto Yogi Eka Sahputra Pengawasan lemah? Bagi Yupin, intrusi kapal asing terjadi hampir sepanjang tahun dan memiliki sejumlah rekaman atas keberadaan mereka. Dia pun mengaku telah meneruskan informasi itu ke pemerintah tetapi sejauh ini tidak ada respons berarti. “Jadi…This article was originally published on Mongabay
Jerit Nelayan Anambas Hadapi Kapal Ikan Asing
Jerit Nelayan Anambas Hadapi Kapal Ikan Asing





Comments are closed.