Arina.id – Taliban, sebagai penguasa resmi pemerintah Afghanistan turut mengirimkan delegasiya untuk menghadiri undangan pemeritah Iran dalam acara penghormatan terhadap jenazah mendiang pimpinan otoritas tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei di Grand Mosalla Tehran pada Sabtu (4/7/2026).
Taliban sendiri mempunyai kedekatan hubungan diplomatik dengan Iran sebagai negara sahabat. Keduanya saling bekerjasama dalam sektor ekonomi, ketahanan, dan perlawanan terhadap imperealisme modern Barat. Bahkan sejak memecahnya konflik Iran-Amerika/Israel, Taliban secara lantang siap mendukung dan membela Iran jika Iran diserang oleh Amerika.
Taliban memang memiliki catatan kelam dengan Amerika. Diansir dari berbagai sumber bahwa Amerika pernah ikut campur mendukung Aliansi Utara yang dipimpin oleh Burhanuddin Rabbani dan Ahmed Shah Massoud dalam menggulingkan pemerintahan Taliban di tahun 2001.
Taliban terlibat konflik domestik dan bersitegang dengan pasukan Amerika yang ada di Afghanistan, hingga akhirnya pihak Amerika memutuskan untuk menarik seluruh pasukan militer yang ada di Afgahnistan pada tahun 2021 dan Taliban secara resmi kembali memerintah Afghanistan hingga kini.
Delegasi Taliban yang tersorot media menghadiri acara pemakaman Ali Khamenei tersebut adalah Wakil Perdana Menteri bidang ekonomi Taliban, Mulla Abdul Ghani Baradar, dan Menlu Taliban, Amir Khan Muttaqi, serta rombongan yang mengikutinya.
Sebagaimana delegasi undangan lainnya, Iran sudah menyiapkan ayat Al-Qur’an khusus yang akan dibacakan kepada delegasi Taliban ketika delegasi tersebut berdiri di hadapan jenazah Ali Khamenei untuk memberikan penghormatan terakhir. Ayat untuk Taliban adalah Surat al-Fath ayat 1-3 sebagaimana berikut:
اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ لِّيَغْفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْۢبِكَ وَمَا تَاَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ وَّيَنْصُرَكَ اللّٰهُ نَصْرًا
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Nabi Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, menunjukimu ke jalan yang lurus. Dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang besar.”
Para pakar tafsir Al-Qur’an mengaitkan ayat tersebut kepada peristiwa penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) yang menjadi sebuah berita gembira dari Allah SWT kepada Rasulullah.
Tahir bin Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir [Tunisia: Maktabah Tunisia, 1984, vol. 26, hlm. 143.] menjelaskan makna kata “al-Fath”. Dia menjelaskan bahwa fath diartikan sebagai penaklukan, bukan peperangan. Fath diartikan sebagai kemenangan dengan bentuk memasuki dan menguasai wilayah musuh. Berbeda dengan kemenangan di medan perang yang bertujuan mendapatkan harta rampasan dan tawanan perang.
Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi dalam Marah Labid li Kaysfi Ma’nal Qur’anil Majid [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, vol. 2, hlm. 423.] faktor diturunkannya surat ini (Asbabun Nuzul). Al-Bantani mejelaskan bahwa di tahun ke-6 hijriyah, Rasulullah bersama 1.400 sahabat melakukan ekspedisi ke Makkah untuk kepentingan ibadah umrah.
Rasulullah dan para sahabat berihram umrah di Dzilhulaifah. Beliau membawa 70 unta badanah sebagai bentuk hadyu (hewan yang disembelih di tanah Haram untuk keperluan kesunnahan dalam ibadah haji/umrah) beliau. Sedangkan para sahabat membawa 700 hewan yang sama.
Ketika perjalanan sampai di daerah Hudaibiyah, Rasulullah diboikot masuk kota Makkah oleh orang-orang kafir Makkah. Mereka menyepakati perjanjian dengan Rasululla bahwa beliau boleh memasuki kota Makkah di tahun depan. Rasulullah dan para sahabat kemudian bermukim selama 3 hari dan bertahallul dengan mencukur gundul, dan menyembelih semua hewan yang dipersembahkan untuk hadyu.
Kemudian Rasulullah bersama rombongan kembali pulang menuju kota Madinah dengan penuh kekecewaan dan kesedihan. Allah SWT berkehendak untuk menghilangkan kesedihan mereka dengan menurunkan surat ini. Kala itu, Rasulullah sedang dalam perjalanan malam kembali ke Madinah, tepatnya di daerah Kuraa al-Ghamim.
Kemudian Rasulullah memberi kabar gembira kepada para sahabat bahwa kota Makkah akan segera ditaklukkan, setelah beranjak pulang dari Hudaibiyah, lalu beliau berkata “telah diturunkan kepadaku ayat yang sangat aku cintai dari pada dunia seisinya.”
Al-Bantani menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan menyempurnakan nikmat dari ayat di atas adalah dibersihkannya kota Makkah dari musuh-musuh Islam. Dan yang dimaksud dari pertolongan yang besar adalah mengambil kembali Baitullah dari kekuasaan orang-orang kafir.
Fakta berbicara bahwa Fathu Makkah menyebabkan Baitullah bersih dari kotoran-kotoran paganisme yang memengaruhi bersihnya hati kaum muslimin dari kemaksiatan dan menyebabkan munculnya ibadah haji bagi kaum muslimin yang bisa membawa ampunan dari Allah SWT.
Bisa dipahami bahwa ayat tersebut merupakan bentuk apresiasi Iran kepada Taliban yang telah berhasil mengusir pasukan militer Amerika dari Afghaistan, mengambil kembali orotitas pemerintahan, dan membersihkan pemerintahan Afghanistan dari intervensi Amerika.
Selain itu, ayat tersebut masih berhubungan dengan perjanjian Hudaibiyah, seakan menyiratkan bahwa antara Iran dan Taliban terjalin kesepakatan damai dan saling bekerjasama yang notabene keduanya dahulu pernah bersitegang dalam konflik dan permusuhan. Wallahu a’lam.





Comments are closed.