Sun,23 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Melihat Sistem Dukungan Sosial bagi Informal Caregiver di Belanda

Melihat Sistem Dukungan Sosial bagi Informal Caregiver di Belanda

melihat-sistem-dukungan-sosial-bagi-informal-caregiver-di-belanda
Melihat Sistem Dukungan Sosial bagi Informal Caregiver di Belanda
service

Mubadalah.id – Setelah mengetahui diagnosis kanker yang diderita istri saya, ritme kehidupan keluarga kami berubah total. Pada masa-masa awal, kondisi istri tidak memungkinkan untuk menjalani aktivitas seperti biasa, sehingga urusan keluarga harus saya ambil alih semuanya. Saya mengurus kebutuhan sehari-hari, mengasuh anak, mengatur rumah, sekaligus menemani berbagai janji temu dengan dokter.

Dalam satu minggu, urusan medis itu bahkan bisa berlangsung tiga sampai empat hari berturut-turut. Semua itu saya jalani sembari tetap bekerja enam sampai tujuh jam per hari, sehingga hari-hari kami dipenuhi oleh rangkaian pekerjaan yang seolah tidak memiliki jeda antara satu tanggung jawab dengan tanggung jawab lainnya.

Menjalani semua itu di tanah rantau membuat pengalaman tersebut menjadi sama sekali berbeda. Keluarga kami berada jauh di Indonesia, sehingga ketika ada kebutuhan mendesak, tidak ada orang tua atau saudara yang bisa datang begitu saja untuk membantu. Namun, kami ternyata tidak benar-benar sendirian.

Teman-teman Indonesia di Belanda datang dengan berbagai bentuk bantuan yang sangat berarti, mulai dari mengirim makanan, menawarkan bantuan menjaga anak, mengantar atau menemani ketika kami perlukan, hingga sekadar menanyakan keadaan. Dalam situasi ketika banyak hal terasa tidak pasti, perhatian  seperti itu memberikan rasa bahwa kami masih memiliki keluarga di tempat yang jauh dari rumah.

Saya dan istri sangat bersyukur atas kebaikan tersebut, tetapi kami sepenuhnya menyadari bahwa bantuan dari komunitas tidak mungkin menjadi satu-satunya penopang kehidupan kami. Mereka juga memiliki keluarga, pekerjaan, dan persoalan masing-masing yang harus dijalani.

Karena itu, setelah melewati masa-masa awal yang sangat berat, saya berusaha mengatur kehidupan keluarga kami sebisa mungkin dengan kemampuan yang ada. Kami tetap menerima bantuan ketika ada yang mengulurkan tangan, tetapi pada saat yang sama saya belajar untuk tidak menganggap bantuan itu sebagai sesuatu yang akan selalu tersedia. Pengalaman tersebut membuat saya melihat solidaritas diaspora sebagai semacam jaring pengaman ketika keluarga biologis berada ribuan kilometer jauhnya.

Merawat adalah Kerja yang Sunyi dan Berat

Dari rutinitas itulah saya perlahan memahami bahwa merawat seseorang yang sakit memiliki beban yang jauh lebih besar daripada yang selama ini saya bayangkan. Kelelahan tidak hanya datang dari aktivitas fisik, tetapi juga dari keharusan untuk terus waspada terhadap kebutuhan orang lain. Ada jadwal dokter yang harus kita ingat, obat yang harus kita perhatikan, kebutuhan rumah yang tetap berjalan, anak yang harus diurus, dan pekerjaan yang tidak bisa begitu saja kita tinggalkan.

Di luar semua itu terdapat beban mental yang lebih sulit saya bicarakan, yaitu menyaksikan orang yang kita cintai menghadapi penyakit serius setiap hari. Tubuh bisa beristirahat ketika pekerjaan selesai, tetapi pikiran sering kali tetap bekerja karena kekhawatiran tidak mengenal jam kerja.

Sebelum mengalami sendiri situasi tersebut, saya tidak pernah berpikir untuk menyebut diri saya sebagai caregiver. Saya hanya merasa sedang menjalankan peran sebagai suami dan ayah. Ketika istri sakit, tentu saya harus merawatnya; ketika anak membutuhkan perhatian, tentu saya harus mengurusnya; dan ketika rumah harus tetap berjalan, tentu ada seseorang yang harus memastikan semuanya tetap berjalan.

Namun, ketika situasi itu berlangsung selama berminggu-minggu dan kemudian berbulan-bulan, saya mulai menyadari bahwa pekerjaan merawat memiliki dimensi tersendiri. Di Belanda, saya kemudian mengenal istilah mantelzorger, yaitu orang yang memberikan perawatan informal kepada anggota keluarga, pasangan, teman, atau orang terdekat yang membutuhkan bantuan.

Istilah tersebut membuat saya melihat pengalaman pribadi saya dalam kerangka yang lebih luas: bahwa merawat seseorang bukan hanya urusan kasih sayang keluarga. Tetapi juga pekerjaan yang dapat memengaruhi kesehatan, pekerjaan, waktu, dan kondisi ekonomi orang yang menjalaninya.

Merawat Bukan Hanya Urusan Personal

Kesadaran itu membuat saya mulai memperhatikan bagaimana Belanda menempatkan mantelzorg, atau perawatan informal oleh keluarga dan orang terdekat, dalam kehidupan sosial. Salah satu kerangka pentingnya adalah Wet maatschappelijke ondersteuning 2015, yang sering kita sebut Wmo 2015. Secara sederhana, Wmo merupakan undang-undang yang mengatur dukungan sosial di tingkat pemerintah kota atau gemeente, termasuk berbagai bantuan agar seseorang dapat tetap menjalani kehidupan sehari-hari di rumah.

Dalam kerangka ini, pemerintah kota juga dapat memberikan perhatian kepada mantelzorgers, yaitu orang-orang yang merawat anggota keluarga atau orang terdekat secara informal. Bentuk dukungannya berbeda-beda di setiap gemeente.

Ada yang menyediakan akses melalui Wmo-loket, atau loket layanan Wmo, ada pula yang menggunakan wijkteam, yaitu tim layanan sosial di tingkat lingkungan atau kawasan. Bagi saya, yang menarik bukan hanya jenis bantuan yang tersedia, tetapi pengakuan yang berada di balik sistem tersebut. Bahwa orang yang merawat orang lain juga dapat menjadi seseorang yang membutuhkan dukungan.

Cara pandang tersebut juga terlihat dalam hubungan antara pekerjaan dan perawatan. Di Belanda terdapat istilah zorgverlof, yang secara sederhana berarti cuti untuk merawat seseorang yang membutuhkan perawatan. Salah satu bentuknya adalah kortdurend zorgverlof, atau cuti perawatan jangka pendek.

Dalam kondisi tertentu, pekerja dapat menggunakannya ketika harus merawat anggota keluarga atau orang terdekat yang sakit. Ada pula langdurend zorgverlof, yaitu cuti perawatan jangka panjang untuk situasi yang membutuhkan perawatan dalam periode lebih lama.

Secara umum, kortdurend zorgverlof dapat digunakan hingga dua kali jumlah jam kerja mingguan dalam periode dua belas bulan dan dibayar sekurang-kurangnya 70 persen dari gaji. Sementara langdurend zorgverlof dapat digunakan hingga enam kali jumlah jam kerja mingguan dan pada dasarnya tidak dibayar.

Tentu saja hak tersebut memiliki batas dan persyaratan, tetapi keberadaannya menunjukkan bahwa kebutuhan merawat anggota keluarga tidak sepenuhnya dianggap sebagai masalah pribadi yang harus pekerja selesaikan di luar dunia kerja. Bahkan sistem tersebut masih terus dievaluasi.

Kebijakan Negara Harus Menyesuaikan

Pada Juni 2026, pemerintah Belanda mengajukan proposal untuk menyederhanakan aturan zorgverlof dengan menggabungkan kortdurend zorgverlof dan langdurend zorgverlof menjadi satu skema selama delapan minggu.

Dalam proposal tersebut, dua minggu pertama direncanakan tetap dibayar sebesar 70 persen dari upah, sedangkan enam minggu berikutnya tidak dibayar. Pemerintah menargetkan perubahan tersebut mulai berlaku pada 2028, sehingga pada saat tulisan ini saya buat, rencana tersebut masih berupa proposal.

Bagi saya, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bahwa persoalan caregiver bukan sesuatu yang kita anggap selesai hanya karena sebuah negara telah memiliki sistem dukungan. Kebutuhan keluarga berubah, pola kerja berubah, dan kebijakan pun harus terus menyesuaikan diri.

Hal lain yang juga menarik adalah konsep respijtzorg. Istilah ini merujuk pada bentuk dukungan atau perawatan sementara yang memberikan kesempatan kepada caregiver untuk mengambil jeda dari tanggung jawab perawatan. Bentuknya dapat berbeda-beda tergantung layanan yang tersedia dan kebutuhan keluarga.

Dalam situasi tertentu, misalnya, ada perawat atau pendamping yang datang ke rumah untuk mengambil alih sebagian tanggung jawab selama beberapa waktu agar caregiver utama dapat beristirahat. Setelah mengalami sendiri bagaimana hari-hari dapat dipenuhi oleh rumah sakit, pekerjaan, anak, rumah, dan kebutuhan istri, saya memahami mengapa jeda seperti itu penting. Kadang seseorang tidak membutuhkan bantuan yang besar.

Beberapa jam untuk tidur tanpa rasa khawatir, menyelesaikan pekerjaan, pergi berbelanja, atau sekadar duduk sendirian sudah bisa membuat perbedaan. Ketika seseorang terus-menerus berada dalam posisi merawat, waktu untuk berhenti sejenak bukan lagi sekadar kenyamanan. Akan tetapi bagian dari kemampuan untuk terus menjalankan peran tersebut.

Pengakuan pada Kerja Perawatan

Belanda juga memiliki Persoonsgebonden Budget, atau PGB. Secara sederhana dapat kita pahami sebagai anggaran pribadi untuk mengatur kebutuhan perawatan atau dukungan tertentu. Dalam kondisi yang memenuhi persyaratan, seseorang dapat menggunakan PGB untuk menentukan sendiri layanan atau siapa yang memberikan perawatan kepadanya.

Dalam situasi tertentu, anggota keluarga atau orang terdekat dapat terlibat secara formal dalam pemberian perawatan melalui mekanisme tersebut. PGB bukan sekadar memberikan uang kepada pasien untuk ia gunakan secara bebas.

Ada aturan mengenai jenis layanan, penyedia, kontrak, dan administrasinya. Bagi saya, gagasan yang menarik di sini adalah bahwa keluarga tidak selalu ditempatkan berlawanan dengan sistem perawatan formal. Dalam kondisi tertentu, keluarga justru dapat menjadi bagian dari sistem tersebut.

Ada pula Mantelzorgwaardering, yang secara sederhana berarti penghargaan bagi mantelzorger. Bentuk dan persyaratannya ditentukan oleh masing-masing gemeente, sehingga tidak seragam di seluruh Belanda. Bentuknya dapat berupa uang, kartu diskon, kegiatan tertentu, atau bentuk apresiasi lainnya.

Bagi saya, nilai terpenting dari kebijakan semacam ini bukan semata-mata besarnya penghargaan yang diberikan. Yang lebih penting adalah adanya pengakuan bahwa pekerjaan merawat memang memiliki nilai bagi kehidupan bersama. Seseorang mungkin tidak menerima gaji karena merawat pasangan, orang tua, atau anggota keluarganya. Tetapi kontribusinya tetap membantu keluarga dan secara tidak langsung menopang sistem sosial yang lebih luas.

Wajah Perawatan Informal di Indonesia

Dari sini saya mulai membandingkan pengalaman tersebut dengan realitas yang lebih saya kenal di Indonesia. Di Indonesia, keluarga memiliki posisi yang sangat kuat dalam merawat anggota keluarga yang sakit maupun lanjut usia. Merawat orang tua dipandang sebagai bentuk bakti, merawat pasangan merupakan bagian dari tanggung jawab keluarga. Selain itu, membantu anggota keluarga yang sakit sering kali dianggap sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya dilakukan.

Nilai-nilai tersebut merupakan kekuatan besar dalam masyarakat Indonesia. Data BPS juga menunjukkan bahwa kehidupan lansia masih sangat dekat dengan keluarga. Dengan 35,73 persen lansia pada 2024 tinggal dalam rumah tangga tiga generasi dan 34,45 persen tinggal bersama keluarga inti. Angka tersebut memperlihatkan bahwa keluarga masih menjadi salah satu ruang utama tempat berlangsungnya kehidupan dan perawatan lansia di Indonesia.

Namun, kedekatan keluarga tidak otomatis membuat pekerjaan perawatan menjadi ringan. Justru karena merawat sering dianggap sebagai kewajiban moral yang sewajarnya keluarga lakukan. Beban tersebut mudah menjadi tidak terlihat. Seseorang dapat mengurangi jam kerja, kehilangan pendapatan, menunda kebutuhan pribadi, atau bahkan meninggalkan pekerjaan demi mendampingi anggota keluarga yang sakit.

Ketika perawatan berlangsung bukan hanya beberapa hari, melainkan berminggu-minggu atau berbulan-bulan, persoalannya tidak lagi sekadar tentang kesediaan untuk membantu. Ia menjadi persoalan tentang bagaimana seseorang dapat mempertahankan kehidupan ekonomi dan pekerjaannya sambil tetap berada di sisi orang yang membutuhkan perawatan.

Perbandingan Pekerjaan Perawataan Antara Belanda dan Indonesia

Di sinilah perbandingan dengan Belanda menjadi penting bagi saya. Pengalaman di Belanda menunjukkan bahwa tanggung jawab merawat tidak sepenuhnya kita tempatkan sebagai urusan privat keluarga. Kehadiran istilah mantelzorger, zorgverlof, respijtzorg, PGB, dan Mantelzorgwaardering menunjukkan adanya upaya untuk mengakui bahwa orang yang merawat juga membutuhkan dukungan.

Sistem tersebut tentu memiliki batas dan masih terus berkembang. Namun, setidaknya terdapat pengakuan bahwa pekerjaan perawatan memiliki konsekuensi terhadap waktu, pekerjaan, kesehatan, dan kehidupan sosial orang yang menjalaninya.

Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi penting melalui sistem kesehatan dan jaminan sosial. Terutama BPJS Kesehatan yang membantu masyarakat mengakses berbagai layanan medis. Namun, pengalaman sakit tidak berhenti ketika pasien keluar dari rumah sakit atau selesai menjalani tindakan medis.

Ada kehidupan sehari-hari yang harus tetap dijalankan setelahnya. Pasien mungkin membutuhkan seseorang untuk menemani kontrol, membantu aktivitas tertentu, mengatur obat. Selain itu, mengurus kebutuhan rumah, atau sekadar hadir ketika kondisi fisik dan mental sedang tidak baik. Banyak pekerjaan tersebut berlangsung di rumah dan keluarga lakukan tanpa bentuk dukungan yang secara khusus mengakui waktu dan tenaga yang mereka keluarkan.

Karena itu, persoalannya bukan apakah keluarga Indonesia cukup peduli. Justru kepedulian keluarga merupakan salah satu kekuatan terbesar yang kita miliki. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah keluarga harus menanggung seluruh konsekuensi perawatan seorang diri.

Ketika seorang anak harus meninggalkan pekerjaan untuk merawat orang tuanya, ketika seorang pasangan harus mengurangi jam kerja karena mendampingi suami atau istrinya yang sakit, atau ketika seseorang harus menghabiskan berbulan-bulan mengurus anggota keluarga dengan penyakit kronis. Kasih sayang saja tidak selalu cukup untuk membuat kehidupan tetap berjalan. Pada titik tertentu, keluarga membutuhkan dukungan yang datang dari luar dirinya.

Kesalingan dalam Merawat

Di sinilah saya merasa gagasan mubadalah menjadi relevan. Mubadalah tidak hanya berbicara tentang kesalingan antara suami dan istri, antara anak dan orang tua, atau antara anggota keluarga yang saling merawat. Ia juga dapat mengajak kita memikirkan hubungan yang lebih luas antara keluarga dan negara. Jika keluarga selama ini menjadi salah satu penopang utama ketika seseorang sakit, negara semestinya ikut mengambil bagian dalam menjaga mereka yang melakukan pekerjaan perawatan tersebut.

Merawat orang yang kita cintai memang lahir dari ketulusan. Namun, ketulusan tidak seharusnya menjadi alasan untuk membiarkan seseorang menanggung beban tanpa batas. Dukungan bagi caregiver dapat berupa perlindungan kerja, cuti perawatan yang memadai, layanan respite care, dukungan sosial, maupun akses terhadap bantuan perawatan di rumah.

Tujuannya bukan menggantikan peran keluarga, melainkan memastikan bahwa orang yang merawat tetap memiliki kesempatan untuk bekerja, beristirahat, menjaga kesehatan, dan menjalani kehidupannya sendiri.

Bagi saya, inilah salah satu pelajaran penting dari pengalaman merawat di tanah rantau. Solidaritas keluarga dan komunitas tetap menjadi fondasi yang sangat penting, tetapi ia membutuhkan ekosistem sosial yang membuatnya berkelanjutan. Keluarga tidak seharusnya kita paksa memilih antara merawat orang yang ia cintai dan mempertahankan kehidupannya sendiri.

Dalam kerangka mubadalah, kepedulian semestinya bergerak ke segala arah. Keluarga merawat anggotanya, komunitas menopang keluarga, dan negara menciptakan kondisi agar mereka yang merawat tidak kehilangan sumber penghidupan hanya karena memilih untuk tetap berada di sisi orang yang mereka cintai. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.