Kita sedang menyaksikan perubahan cara manusia berhubungan dengan alam. Ketika cuaca semakin sulit diprediksi, musim bergeser, dan persoalan pangan menjadi semakin rentan, jawaban yang muncul hampir selalu dicari melalui teknologi. Seperti lewat satelit, aplikasi cuaca, data iklim, varietas unggul, hingga kecerdasan buatan.
Semua itu penting, tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar yaitu apa yang terjadi ketika masyarakat kehilangan cara kebudayaannya sendiri untuk membaca alam?
Pertanyaan tersebut dapat ditelusuri melalui gatholoco, kesenian rakyat yang berkembang di kawasan Kedu, terutama Magelang, Temanggung, dan Purworejo. Gatholoco memadukan musik, tari, tembang, dan atraksi, tetapi syair-syairnya menyimpan berbagai pengetahuan masyarakat Jawa mengenai pranata mangsa, petung, pertanian, pendidikan, dan tata kehidupan. Dalam konteks tersebut, gatholoco bukan semata-mata objek estetis, tapi medium transmisi pengetahuan yang bekerja melalui tubuh, suara, ingatan, dan perjumpaan sosial.
Pengetahuan Ekologis
Di sinilah gatholoco menarik dibaca melalui antropologi agama. Bukan karena ia dapat dengan mudah dikategorikan sebagai kesenian keagamaan, tapi karena pada saat yang sama ia juga memperlihatkan bentuk religiositas yang bekerja di luar batas institusi agama.
Dalam antropologi kontemporer, perhatian terhadap lived religion menggeser fokus dari agama sebagai seperangkat doktrin menuju bagaimana agama dan nilai-nilai spiritual dialami serta dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kajian Jonathan D. Smith, Ronald Adam, dan Samsul Maarif dalam Global Environmental Change (2024) terhadap 244 studi tentang 208 gerakan lingkungan lokal di Indonesia sepanjang 1990–2022 menemukan 571 contoh konsep, praktik, ritual, dan sistem religius yang digunakan untuk merespons persoalan lingkungan. Kajian itu menunjukkan adanya pencampuran atau conceptual hybridization antara agama resmi, agama dan kepercayaan adat, pengetahuan serta tradisi lokal, dengan gagasan ekonomi, hukum, dan sains dalam membentuk praktik ekologis masyarakat.
Perspektif semacam ini membantu kita memahami masyarakat Jawa tanpa buru-buru memisahkan agama, adat, pertanian, kesenian, dan kehidupan sosial. Bagi masyarakat agraris, membaca musim bukan sekadar pekerjaan teknis. Menentukan waktu tanam, memahami hujan, memperhatikan tumbuhan, dan mengenali perubahan alam merupakan bagian dari cara menata kehidupan. Pengetahuan ekologis sekaligus mengandung nilai tentang bagaimana manusia seharusnya menempatkan diri di dalam dunia.
Pranata mangsa menjadi contoh penting. Ia merupakan pengetahuan yang terbentuk dari pengalaman panjang mengamati perubahan musim dan gejala alam untuk mengatur kehidupan pertanian. Dalam praktiknya, manusia tidak berdiri di luar alam sebagai pengamat yang sepenuhnya netral. Ia berada di dalamnya, bergantung padanya, dan harus menyesuaikan diri terhadap perubahan yang tidak seluruhnya dapat dikendalikan.
Karena itu, pranata mangsa dapat dibaca bukan hanya sebagai sistem kalender pertanian, tetapi sebagai pengetahuan ekologis yang mengandung konsepsi mengenai hubungan manusia dan lingkungannya.
Penelitian Taqwin, Maharsi, & Soehada berjudul “Ekoteologi Islam dan Kearifan Agraris Kejawen: Relasi Tuhan, Manusia, dan Alam di Wonosobo” dalam Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat (2026) menunjukkan bahwa pengetahuan ekologis masyarakat agraris Jawa, termasuk pranata mangsa, tidak berdiri sendiri sebagai cara membaca musim dan mengatur pertanian. Pengetahuan itu berkelindan dengan praktik keagamaan Islam dan membentuk cara masyarakat memahami hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam.
Gatholoco membawa pengetahuan semacam itu ke dalam bentuk pertunjukan. Di sini pengetahuan tidak disampaikan melalui buku atau ruang kelas, tetapi melalui tembang, gerak, musik, humor, dan pengalaman komunal. Ia menjadikan tubuh sebagai medium ingatan. Apa yang harus diketahui tidak hanya diberitahukan, tetapi dinyanyikan, diperagakan, dan diulang dalam kehidupan bersama.
Arsip Sosial
Dalam pengertian itu, gatholoco dapat disebut sebagai arsip sosial, arsip yang bekerja karena terus dipertunjukkan. Namun, pengetahuan yang terkandung di dalamnya hanya akan bertahan selama ada orang yang menyanyikannya, memahaminya, dan menghubungkannya dengan kehidupan.
Persoalan muncul ketika ekosistem yang memungkinkan transmisi tersebut mulai berubah. Regenerasi melemah, pertanian mengalami transformasi, pola hiburan bergeser, ruang komunal menyempit, sementara generasi muda semakin jauh dari pengalaman agraris. Ancaman terhadap gatholoco karena itu bukan sekadar persoalan hilangnya sebuah kesenian. Yang ikut terancam adalah sebuah mekanisme transmisi pengetahuan antargenerasi.
Di sinilah pembicaraan mengenai religiositas Nusantara perlu keluar dari romantisme. Kita sering membayangkan religiositas lokal sebagai warisan masa lalu yang harmonis, ekologis, dan penuh kearifan. Pandangan seperti itu berisiko menjadikan masyarakat tradisional sekadar objek pemujaan budaya. Antropologi justru mengajak kita melihat bagaimana sistem pengetahuan dan religiositas tersebut bekerja, berubah, bernegosiasi, bahkan mengalami tekanan dalam kondisi sosial yang konkret.
Perjumpaan Islam dan kebudayaan Jawa, misalnya, tidak harus dibaca sebagai pertentangan antara agama dan tradisi. Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai unsur dapat bernegosiasi dan membentuk praktik baru.
Fenomena semacam ini juga terlihat di berbagai komunitas Nusantara, ketika ajaran agama formal berkelindan dengan pengetahuan lokal dan norma ekologis dalam menghadapi persoalan lingkungan. Kajian tentang masyarakat Mentawai, Kajang, dan komunitas lain menunjukkan bahwa religiositas yang hidup dapat menjadi bagian dari tata kelola ekologis, sekaligus terus mengalami perubahan ketika berhadapan dengan modernisasi dan ekonomi politik.
Karena itu, gatholoco sebaiknya tidak diperlakukan sebagai benda lama yang harus diselamatkan dari kepunahan semata. Yang lebih penting adalah memahami pengetahuan macam apa yang dibawanya dan apakah pengetahuan itu masih mempunyai daya jawab terhadap persoalan masyarakat sekarang.
Relevan
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika Indonesia menghadapi krisis ekologis dan pangan. Modernitas telah memberi kita kemampuan luar biasa untuk mengukur alam, tetapi pengukuran tidak selalu menghasilkan hubungan yang lebih baik dengan alam. Kita dapat mengetahui suhu, curah hujan, kelembapan tanah, dan prediksi musim secara semakin presisi, tetapi tetap dapat gagal memahami batas-batas ekologis kehidupan.
Di sinilah gatholoco menjadi relevan, bukan karena ia harus menggantikan ilmu pengetahuan modern. Sebaliknya, ia dapat memperluas cara kita memahami pengetahuan. Pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tradisional tidak perlu ditempatkan sebagai dua kubu yang saling meniadakan. Keduanya dapat dipertemukan untuk memahami bagaimana manusia hidup dalam lingkungan yang terus berubah.
Lebih jauh, gatholoco menunjukkan bahwa religiositas Nusantara tidak selalu hadir dalam bentuk kitab, institusi, atau ritual yang berdiri sendiri. Ia dapat hidup dalam tembang, cara bertani, cara membaca musim, hubungan antargenerasi, bahkan dalam cara masyarakat menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.
Maka yang menarik dari gatholoco bukan pertanyaan apakah ia “kuno” atau “modern”. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita masih memiliki kemampuan untuk mengenali pengetahuan yang bekerja di balik sebuah kesenian.
Sebab mungkin persoalan kita hari ini bukan kekurangan informasi tentang alam. Kita justru dibanjiri informasi. Yang perlahan menghilang adalah kebudayaan yang mengajarkan bagaimana informasi itu seharusnya menjadi pengetahuan, bagaimana pengetahuan menjadi etika, dan bagaimana etika menjadi cara hidup.
Gatholoco, dengan segala keterbatasan dan perubahan yang dialaminya, menyimpan jejak dari proses tersebut. Ia mengingatkan bahwa masyarakat pernah menyanyikan musim sebelum kita mengubahnya menjadi angka, grafik, dan notifikasi di layar.





Comments are closed.