Sat,11 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Top News
  3. Membicarakan Ali Sadikin lewat pameran arsip

Membicarakan Ali Sadikin lewat pameran arsip

membicarakan-ali-sadikin-lewat-pameran-arsip
Membicarakan Ali Sadikin lewat pameran arsip
service

Ali Sadikin telah berpulang hampir dua dekade lalu. Namun, jejaknya yang menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan Jakarta masih terasa hingga kini.

Jakarta (ANTARA) – Membicarakan Bang Ali — sapaan akrab untuk Ali Sadikin yang menjabat sebagai Gubernur Jakarta pada 1966–1977— berarti juga membicarakan keberpihakannya dalam menggunakan kewenangan untuk melahirkan berbagai kebijakan yang mendukung perkembangan seni dan kebudayaan.

Pandangan itu disampaikan periset Panca Lintang Dyah Paramitha dan Ganda Swarna dalam pameran arsip 100 Tahun Ali Sadikin bertajuk “Pasca Gita (Jaya): Maecenas dan Kemandirian Seni” di Galeri Oesman Effendy, Taman Ismail Marzuki.

Istilah maecenas berasal dari bahasa Prancis, mecene, yang merujuk pada sosok dermawan atau pelindung seni yang memberikan dukungan kepada para seniman.

Mengacu pada pemikiran Umar Kayam tentang “Maecenas dan Jaringan Dewan Kesenian”, peran Ali Sadikin dinilai mencerminkan sosok tersebut. Ia tidak hanya mengucurkan dana dan menyediakan fasilitas, tetapi juga memberikan kepercayaan kepada seniman melalui kebijakan yang lahir dari posisinya sebagai gubernur.

Meski demikian, konsep maecenas kerap dipandang melekat dengan hasrat penguasa untuk dikenang sebagai dermawan yang berjasa bagi perkembangan seni dan budaya.

Ali Sadikin dilantik langsung oleh Presiden Soekarno sebagai Gubernur Jakarta pada 28 April 1966 di Istana Negara. Saat itu, ia juga menjadi anggota staf Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, serta dinilai memiliki kapasitas untuk memimpin ibu kota.

Selama menjabat, Ali membangun Jakarta sebagai kota kebudayaan melalui kolaborasi antara pemerintah dan para seniman. Salah satu langkah pentingnya adalah memberikan otonomi yang relatif luas kepada Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), sehingga lembaga yang beranggotakan seniman lintas disiplin itu dapat menyelenggarakan beragam program, mulai dari seni tradisional dan modern hingga kegiatan berskala lokal, nasional, internasional, serta pembinaan bagi seniman muda maupun profesional.

“Saya nyatakan tegas-tegas, pejabat tidak boleh ikut campur urusan dinas kebudayaan lain, urusan DKJ lain. Tugas DKJ memberikan nasihat dan pendapat pada gubernur, diminta atau tidak diminta, dalam membina kebudayaan di Jakarta,” kata Ali dalam buku Bang Ali: demi Jakarta 1966–1977.

Pengunjung mengamati salah satu foto dalam pameran Arsip 100 Tahun Ali Sadikin bertajuk “Pasca Gita (Jaya): Maecenas dan Kemandirian Seni” yang berlangsung di Galeri Oesman Effendy, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Ini menjadi bagian dari rangkaian acara peringatan 100 tahun Ali Sadikin yang dilaksanakan pada 7-14 Juli 2026 di TIM, Jakarta. ANTARA/Lia Wanadriani Santosa

Warisan penting lain dari Ali Sadikin adalah berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 1968, yang hingga kini tetap menjadi ruang tumbuh seni, budaya, dan kreativitas di Jakarta.

Menurut Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012, Fauzi Bowo, gagasan membangun TIM berawal dari pertanyaan sederhana yang diajukan Ali, “Dulu banyak seniman berkumpul di Senen. Sekarang mereka ke mana?” Fauzi, yang akrab disapa Foke, menjawab bahwa para seniman tak lagi memiliki tempat berkumpul. Dari kegelisahan itulah lahir gagasan menghadirkan ruang bagi ekosistem kesenian.

Baca juga: DPRD DKI kaji perubahan nama Jalan Kebon Sirih jadi Ali Sadikin

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.