Sun,12 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Top News
  3. Menag: Pesantren dan madrasah harus jadi ruang paling aman bagi anak

Menag: Pesantren dan madrasah harus jadi ruang paling aman bagi anak

menag:-pesantren-dan-madrasah-harus-jadi-ruang-paling-aman-bagi-anak
Menag: Pesantren dan madrasah harus jadi ruang paling aman bagi anak
service

Jakarta (ANTARA) – Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan melalui peluncuran Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk anak di pesantren dan madrasah.

“Yang kita lakukan ini adalah suatu ikhtiar besar, yakni memastikan setiap anak Indonesia yang menuntut ilmu di pesantren, di madrasah atau di lembaga pendidikan mana pun berada, sekaligus berada di ruang yang aman, nyaman, dan memuliakan,” kata Nasaruddin Umar saat peluncuran gerakan di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, Minggu.

Menag mengatakan perlindungan terhadap anak merupakan bagian dari nilai-nilai ajaran agama dan tidak terpisahkan dari tradisi pendidikan Islam yang selama ini berkembang di pesantren maupun madrasah.

Baca juga: Pemerintah implementasikan gerakan RANA dimulai dari Pesantren

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia bersama madrasah telah melahirkan banyak ulama, pejuang kemerdekaan, guru bangsa, hingga pemimpin di berbagai bidang, sehingga keberadaannya harus terus dijaga dan diperkuat.

“Justru karena kita mencintai dan memuliakan pesantren dan madrasah, kita berkewajiban merawatnya. Salah satu perbaikan yang tidak bisa lagi kita tunda adalah memastikan tidak ada satu pun anak yang mengalami kekerasan di tempat belajar dan mengenal Tuhan,” ujarnya.

Menanggapi kasus kasus kekerasan yang kerap berhubungan dengan lembaga pendidikan keagamaan, menurutnya, kasus kekerasan tidak hanya terjadi di pesantren maupun madrasah, tetapi juga di berbagai lembaga pendidikan lainnya. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk melihat persoalan tersebut sebagai tantangan bersama.

“Saya berpendapat kita jangan menonjolkan istilah kekerasan di pondok pesantren atau madrasah, karena kekerasan muncul di mana-mana. Lebih tepat jika kita memperkenalkan isu kekerasan di lembaga-lembaga pendidikan,” katanya.

Ia menjelaskan gerakan nasional tersebut dibangun di atas sejumlah pilar, yakni penguatan regulasi dan tata kelola, pencegahan melalui penguatan budaya anti-kekerasan, penyediaan sarana yang aman, layanan pengaduan dan penanganan korban, serta kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, organisasi masyarakat, media, dan keluarga.

Pada aspek pencegahan, Kementerian Agama terus mengembangkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diterapkan di madrasah dan pesantren.

Penerapan kurikulum tersebut dinilai mampu memperbaiki hubungan antara guru dan peserta didik, memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, serta menumbuhkan hubungan yang lebih baik dengan masyarakat.

Selain itu, Kementerian Agama juga memperkuat mekanisme pengaduan bagi korban kekerasan melalui layanan khusus yang mudah diakses serta menjamin penanganan yang cepat dan berpihak kepada anak.

Baca juga: Pemerintah bentuk Satgas ciptakan ruang aman dan nyaman untuk anak

Baca juga: Tiga peran orangtua dalam mendukung pelindungan anak di ruang digital

Nasaruddin mengatakan Kementerian Agama juga akan memperketat tata kelola penyelenggaraan pesantren, termasuk memperjelas definisi dan persyaratan pendirian pesantren agar tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan lembaga pendidikan keagamaan.

Ia mengajak para pengasuh pesantren, guru, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan belajar yang terbuka, aman, dan mengedepankan kasih sayang.

“Kepada para pendidik, kewibawaan guru tidak pernah dibangun di atas rasa takut anak. Kewibawaan dibangun di atas ilmu, keteladanan, dan kasih sayang,” ujar Nasaruddin.

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.