Thu,23 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Mengajak Anak-anak Mengidung Bumi Bersama Ibu Sud Hari Ini

Mengajak Anak-anak Mengidung Bumi Bersama Ibu Sud Hari Ini

mengajak-anak-anak-mengidung-bumi-bersama-ibu-sud-hari-ini
Mengajak Anak-anak Mengidung Bumi Bersama Ibu Sud Hari Ini
service

Mengapa laut kian meluap?

Mengapa gajah harimau ke desa-desa?

Mengapa burung Maleo tinggal sarangnya?

Apakah karena ulah kita?

Mubadalah.id – Beberapa pertanyaan di atas bukan sebuah lagu pengantar tidur. Pertanyaan-pertanyaan itu merupakan penggalan lirik filosofis dari lagu Cerita Alam karya Fatwa Amalia, seorang guru asal Gresik. Fatwa menulis lirik tersebut dalam bentuk puisi yang kemudian dimusikalisasi oleh Yopi M Alamsyah. Lagu Cerita Alam kemudian lekas menjadi lagu favorit saya pribadi.

Secara spesifik, lagu berjudul Cerita Alam memang tertuju pada anak-anak. Tapi melalui karya tersebut, Fatwa dan Yopi juga mengajak pendengar dari berbagai usia untuk hadir dan berefleksi. Jangan-jangan, krisis ekologi hari ini memang lahir dari egoisme dan ketamakan manusia?

Ada dua hal yang saya sadari sependek membincang krisis lingkungan selama ini. Pertama, isu lingkungan selalu menggaung tapi lekas padam melalui bahasa teknis kebijakan yang berjarak. Kedua, tampil sebagai wacana bencana yang lekas luput begitu layar gawai mati. Padahal krisis ekologi bukan sakit panas yang sekali minum obat bisa sembuh. Ia butuh kesadaran kolektif dan juang lintas generasi untuk bisa pulih.

Di tengah banalitas narasi pembangunan yang sering kali menumpulkan empati terhadap lingkungan sekitar, suara-suara yang menawarkan jeda untuk berefleksi menjadi begitu krusial. Di titik inilah, kehadiran grup musik ‘Ibu Sud Hari Ini’ milik Fatwa dan Yopi lahir membawa angin segar. Lewat mini album perdana bertajuk ‘Nyanyian Alam’, Ibu Sud Hari Ini menyuarakan keadilan iklim, perspektif gender, dan inklusi sosial dalam satu tarikan napas.

Mengajak Anak-anak Hadir Utuh

Bagi saya, kanal YouTube ‘Ibu Sud Hari Ini’ merupakan satu bentuk aktivisme kultural. Ia berhasil memotret kerusakan bumi dari sudut pandang anak-anak. Fatwa Amalia menggunakan musik sebagai media untuk mengajak anak-anak hadir utuh memahami persoalan lingkungan di sekitar mereka.

Melalui lagu-lagu karya Ibu Sud Hari Ini, anak-anak belajar untuk merespons eksploitasi hutan dan alih fungsi lahan akibat perluasan industri perkebunan sawit. Terkhusus dalam lagu Cerita Alam, Fatwa mengajak pendengar megurai kerinduan anak-anak akan hak mereka menikmati hutan yang rindang dan sungai yang jernih.

Krisis ekologi yang kita saksikan hari ini notabene memang bukan sebatas anomali cuaca atau bencana alam yang datang tiba-tiba. Lagi-lagi kita harus ingat, bahwa krisis ekologi merupakan buah dari watak antroposentrisme dan ekstraktivisme yang rakus—di mana alam jadi semata-mata komoditas yang siap keruk demi akumulasi modal.

Ketika gajah dan harimau ‘mengungsi’ ke pemukiman warga, atau ketika burung Maleo kehilangan sarang, itu bukan karena mereka tersesat. Itu adalah jeritan kepunahan akibat ruang hidup yang tergerus alat-alat berat. Atas nama ekspansi industri dan oligarki yang nir-empati, flora dan fauna tersebut perlahan punah.

Apa yang sebenarnya sedang kita saksikan? Anak-anak hari ini lahir dan tumbuh dengan mewarisi Bumi yang tengah sakit dan luka nganga di segala sisinya. Ironi, ketika orang dewasa rajin mengajari anak-anak betapa indahnya alam ini di ruang kelas, sementara di luar sana, sungai-sungai penuh racun dari limbah, hutan-hutan digilas monopoli perkebunan.

Pertanyaan-pertanyaan kritis Fatwa Amalia dalam Cerita Alam menjadi begitu menohok karena ia dengan lembut menelanjangi ketamakan manusia. Di titik inilah, krisis ekologi tidak lagi ditutupi dengan romantisasi lagu anak yang berjarak dari realitas, melainkan didekati dengan kejujuran Nurani, bahwa anak-anak memiliki hak atas bumi yang bersih, aman, dan layak dihuni.

Membangun Kesalingan Manusia dan Alam

Dalam perspektif Mubadalah, relasi antara manusia dan alam harus bersifat mu’asyarah bil ma’ruf—saling menghidupkan, menghargai, dan melindungi. Menurut saya, upaya mengidung Bumi dalam wujud lagu anak-anak oleh ‘Ibu Sud Hari Ini’ merupakan pengejawantahan dari ekoteologi yang inklusif.

Posisi Bumi layaknya rahim ibu, sang pemberi kehidupan yang diciptakan Tuhan untuk dijaga dengan penuh rasa hormat. Melindungi martabat rahim adalah dengan menjadikannya subjek, entitas yang utuh. Jadi alam, bukan objek atau komoditas yang mana manusia boleh mengeksploitasinya secara serakah. Kritik terhadap keserakahan industri ekstraktif yang mengorbankan alam ini sejalan dengan peringatan Allah Swt. dalam Al-Qur’an:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat tersebut menegaskan bahwa rusaknya ekosistem, baik laut maupun hutan bukan takdir. ia adalah dampak nyata dari hilangnya watak kesalingan manusia terhadap lingkungan hidupnya. Ekoteologi menyadarkan kita bahwa kerusakan spiritual seorang hamba paling nyata terlihat dari bagaimana ia memperlakukan makhluk yang paling lemah di sekitarnya.

Ketika hutan adat berubah menjadi sawit dan laut penuh sampah plastik, kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan disabilitas adalah pihak pertama yang paling menderita. Mereka kehilangan hak atas air bersih, ruang aman, dan sumber kehidupan. Bukankah menindas alam berarti menindas kemanusiaan itu sendiri?

Kesalehan Ekologis Bagian dari Iman

Islam sangat menekankan bahwa kesalehan ekologis adalah bagian dari iman. Menanam dan menjaga kelestarian merupakan bentuk sedekah jariah bagi keberlanjutan seluruh makhluk hidup. Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadis tersebut menuntun kita pada prinsip kesalingan. Kebaikan yang kita berikan kepada alam akan kembali menjadi berkah dan kehidupan bagi makhluk lain. Berlaku juga untuk gajah, harimau, dan burung Maleo yang kini terancam punah. Dalam fikih, tindakan yang merusak kenyamanan publik dan kelestarian alam sejatinya juga bertentangan dengan prinsip universal Islam:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Terangnya, Ibu Sud Hari Ini telah mengingatkan kita agar sedia memberi ruang anak-anak untuk memahami kondisi lingkungan dengan kesadaran penuh. Cerita Alam, mungkin adalah satu dari sekian lagu anak-anak yang menjadi ikhtiar membangun kesadaran ekologis sejak dini. Dengan mendengarkan Ibu Sud Hari Ini, kita tengah membangun ulang relasi dengan tubuh kita, sesama manusia, serta bumi tempat kita berpijak. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.