Mubadalah.id – Minggu kedua Studi Praksis Sosial (SPS), tepatnya pada 19–20 Juni 2026, Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIKMA) Universitas Wiralodra Indramayu menyelenggarakan kegiatan konselor sebaya. Sebanyak 17 peserta dan 23 panitia mengikuti kegiatan ini.
Saya dan seorang teman turut berpartisipasi atas ajakan Kak Vevi, yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Pelatihan ini bertujuan membekali peserta dengan kompetensi dasar dalam konseling sekaligus memperdalam pemahaman tentang urgensi kesehatan mental. Melaksanakan kegiatan melalui sesi refleksi diri, diskusi interaktif, dan penyampaian materi mengenai kesehatan mental.
Di sesi pertama, kak Vevi menanyakan kondisi cuaca hati para peserta, dengan menunjukan gambar matahari yang artinya sedang bersemangat, gambar berawan yang artinya masih banyak fikiran, gambar hujan gerimis yang artinya sedang sedih atau lelah, gambar berangin yang artinya banyak aktivitas yang harus di selesaikan, dan gambar Pelangi yang artinya merasa bersyukur meskipun ada tantangan. Jawaban peserta pun beragam.
Pada sesi berikutnya, para peserta menggambar sesuatu yang menggambarkan diri mereka sendiri dan memaparkan makna di balik gambar tersebut. Gambar serta alasan peserta sangat beragam dan unik unik. Sesi ini kak Vevi mengajak peserta untuk mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Salah satu peserta konselor sebaya mengajugakan sebuah pertanyaan “ apakah benar gangguan mental itu sebagai tanda lemahnya iman, kurang bersyukur, kurang berdzikir dan lain sebagainya?”.
Selanjutnya, Kak Vevi menjelaskan pentingnya kesehatan mental. Menurutnya, seseorang perlu memastikan kondisi mentalnya sehat sebelum menjadi seorang konselor. Kemampuan mengenali perasaan, mengelola kehidupan, serta membangun hubungan yang baik dengan orang lain merupakan fondasi penting bagi terbentuknya jiwa yang sehat dan tangguh.
Mengenal Kesehatan Mental
Masih banyak orang orang awam yang menganggap gangguan mental itu tanda lemahnya iman karena kita kurang berdzikir lah, kurang bersyukur lah dan lain sebagainya. Padahal cemas, sedih, takut, dengan perasaan berlebihan merupakan hal yang wajar dan perlu ditangani dengan bijak, sebagai mana fisik kita yang perlu kita jaga kesehatannya.
Dalam ajaran Islam, tujuan utama syariat termasul menjaga kesehatan mental. Menjaganya justru menjadi bagian penting dari perlindungan jiwa atau hifdzun nafs. Perinsip ini tidak hanya menekankan keselamatan fisik, tetapi Seperti, merawat ketenangan batin, kestabilan emosi, dan kesehatan psikis. Maka kita perlu memahami urgensi dari pemeliharaan kesehatan mental ini.
Penerimaan hal hal internal dan eksternal dalam diri kita. di mana seseorang mengamati pikiran dan perasaannya apa adanya, tanpa mencoba menekannya atau bereaksi secara berlebihan merupakan tanda mental kita sehat.
Kak Vevi menceritakan pengalaman seorang konseling yang tidak menyadari ketika dirinya sendiri menyakiti tubuhnya. Hal tersebut menandakan mental orang tersebut sedang tidak baik baik saja. Rasa takut, cemas, itu suatu yang normal dialami manusia, namun jika rasa tersebut berlebihan, kita perlu periksa keadaan kita kepada ahlinya.
Menjaga kesehatan mental juga termasuk hak diri kita terhadap kita, tidak hanya fisik saja yang harus kita jaga kesehatannya. Kesehatan mental akan mempengaruhi fisik, begitu pun sebaliknya. Kuncinya penerimaan rasa sakit dalam diri kita itu tanda mental kita sehat.
Menciptakan Ruang Empati
Seorang konselor memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan mental. Kehadirannya menciptakan ruang empati dan komunikasi yang terbuka, membantu meringankan beban perasan seseorang.
Namun ada beberapa yang perlu diperhatikan seorang konselor yaitu membangun kepercayaan , mampu menjaga rahasiaa, memvalidasi perasaan, dan menumbuhkan energi positif. Dan perlunya datasan diri supaya kesehatan mental kita sendiri sebagai konselor aman. Jika seorang konseling memiliki tanda tanda gangguan mental serius, segera arahkan dia untuk berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater yang sudah professional.
Di akhir sesi Kak Vevi menegaskan bahwa, seorang konselor tugasnya hanya membantu meringankan beban perasan seseorang. Tidak untuk mendiagnosa, atu memberi obat.
Dalam perspektif mubadalah, kesehatan mental dapat kita pahami sebagai hasil dari hubungan yang saling mendukung satu sama lain. Setiap orang memiliki peran untuk menghadirkan dukungan bagi orang lain. Sikap saling mendengar, memahami perasaan, serta memberi perhatian dapat membantu seseorang merasa lebih tenang. Dukungan timbal balik atau mutual support menjadi unsur penting agar seseorang merasa mendapatkan dukungan dalam menghadapi tekanan hidup.
Oleh karena itu mari kita rawat kesehatan mental kita, dan ciptakan ruang yang saling mendukung satu sama lain, supaya hidup yang kita jalani lebih mudah serta menyenangkan. []





Comments are closed.