Mengonsumsi satwa liar mungkin dianggap sebagian orang sebagai pengalaman kuliner yang tidak biasa. Namun, di baliknya terdapat ancaman serius bagi kesehatan manusia, kelestarian satwa, dan keseimbangan alam. Seperti sebuah video berjudul “Cara Buat Rendang Monyet” sempat beredar dan menjadi perbincangan di media sosial. Meski pertama kali diunggah pada 29 Oktober 2024, video berdurasi 16 detik itu hingga kini telah mengumpulkan 118 ribu tanda suka dan 13,3 ribu komentar. Karena menampilkan konten yang mengganggu, pembaca yang sensitif disarankan untuk tidak menontonnya. Monyet ekor panjang memang berstatus tidak dilindungi. Namun, mengambil satwa liar dari kawasan hutan tanpa izin tetap dilarang. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan melarang orang mengeluarkan, membawa, dan mengangkut tumbuhan maupun satwa liar yang tidak dilindungi dari kawasan hutan tanpa izin. Ketentuan ini dikecualikan bagi masyarakat adat atau mereka yang secara turun-temurun tinggal di hutan. Masalah lainnya adalah risiko penularan penyakit dari satwa kepada manusia atau zoonosis. Penularan tidak hanya dapat terjadi ketika daging satwa liar dimakan. Manusia bisa terpapar sejak proses memburu, memegang, memotong, mengolah, hingga mengkonsumsinya. Risiko tersebut semakin besar pada primata karena secara biologis kelompok satwa ini sangat dekat dengan manusia. Sejumlah penyakit dan parasit dapat berpindah dari monyet kepada manusia. Seperti Ebola yang berkaitan dengan kebiasaan mengkonsumsi daging satwa liar atau bushmeat. Bakteri Salmonella dan cacar monyet juga perlu diwaspadai. Ketika penyakit dari satwa berhasil menular dan menyebar antarmanusia, dampaknya dapat berkembang lebih luas. Perilaku mengkonsumsi daging atau produk satwa liar bukan hanya menempatkan satu orang dalam bahaya, tetapi juga berpotensi memicu wabah yang…This article was originally published on Mongabay
Mengapa Kita Dilarang Konsumsi Satwa Liar? Ini Alasan Ilmiahnya
Mengapa Kita Dilarang Konsumsi Satwa Liar? Ini Alasan Ilmiahnya





Comments are closed.