- Masyarakat Kepulauan Bangka Belitung punya tradisi kuat untuk menanam dan mengonsumsi sayuran. Ini dikuatkan dengan adanya kuliner lempah darat yang memanfaatkan beragam sayuran yang ditanam di sekitar kebun.
- Satu dari sedikit wilayah yang terkenal sebagai lumbung sayur di Pulau Bangka adalah Desa Balun Ijuk, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Sebagian besar pasokan sayuran dari Kabupaten Bangka (Kabupaten penghasil sayur tertinggi) berasal dari wilayah ini.
- Namun, sebagian besar pasokan pangan di Kepulauan Bangka Belitung, masih berasal dari luar daerah. Ini dikuatkan dengan penelitian yang menilai ketersediaan pangan di provinsi ini berada pada level rentan.
- Tradisi menanam sayuran harus dihidupkan kembali, sehingga dapat menjadi penyangga pangan di masa paceklik, meningkatkan keragaman gizi, dan wujud kedaulatan pangan keluarga.
Di masa lalu, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung hidup arif dengan mengelola laut dan kebun (ume). Salah satu pengetahuan yang lahir dari cara hidup tersebut adalah lempah darat, yaitu kuliner yang memanfaatkan beragam sayuran lokal.
Bahannya sederhana, ada keladi, buah melinjo, nangka muda, daun pucuk idat, jantung pisang, rebung, dan sebagainya. Semuanya dapat diperoleh dengan mudah di sekitar kebun, karena ditanam berdampingan dengan komoditas ekonomi (lada).
“Lempah darat menjadi bukti bahwa masyarakat Bangka Belitung punya tradisi kuat untuk menanam dan mengonsumsi sayuran,” kata Herry Marta Saputra, peneliti sekaligus dosen Agroteknologi dari Universitas Bangka Belitung, kepada Mongabay Indonesia, Senin (30/3/2026).
Namun, kebiasaan ini mulai hilang. Saat masyarakat ingin memasak lempah darat, yang menjadi tujuan adalah pasar yang sebagian besar pasokannya berasal dari luar daerah. Mengapa?
“Sudah banyak kebun, ume, atau kelekak yang beralih fungsi,” lanjut Herry.
“Ini juga diperburuk dengan minat menanam sayur yang menurun, dikarenakan candu timah menjadi pesaing terbesar pertanian, yang dalam waktu sehari sudah dapat menghasilkan rupiah.”
Situasi demikian, sejalan dengan minimnya daerah di Bangka Belitung yang terkenal sebagai penghasil sayuran. Satu dari sedikit wilayah itu adalah Desa Balun Ijuk, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Bangka Belitung (2026), sekitar 60 persen produksi buah-buahan dan sayuran provinsi ini berasal dari Kabupaten Bangka, yang sebagian besar dipasok dari Desa Balun Ijuk.
Pada 2025, produksi sayuran di Kabupaten Bangka mencapai 10.225,73 ton, tertinggi dibandingkan kabupaten lainnya, yang memiliki produksi di bawah 2.000 ton.
“Desa Balun Ijuk, sejak lama terkenal sebagai lumbung sayuran di Bangka Belitung,” kata Herry.

Usman Ali (58), petani di Desa Balun Ijuk mengatakan, pengetahuan menanam sayuran mereka peroleh dari orang Tiongkok. Diceritakannya, dulu ada warga Desa Balun Ijuk ikut berkerja sebagai petani sayur.
Setelah berkerja lama, orang tersebut mengembangkan sepetak tanaman sayur di kebunnya. Lambat laun, banyak warga mengikuti jejaknya. Dimulai 1990-an hingga tahun 2000.
“Pengetahuan itu termasuk membuat gundukan tanah, menggunakan mulsa, hingga merawat intensif. Alhasil, pertanian sayur di sini berkembang pesat, hasilnya juga baik,” katanya.
Mengutip penelitian Lalenoh dan kolega (2023) berjudul “Analisis Kesuburan Tanah untuk Lahan Pertanian di Desa Balunijuk, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka”, dengan luas sekitar 2.260 hektar, hampir setengah wilayah Balun Ijuk digunakan sebagai lahan pertanian hortikultura. Sebut saja sawi, selada, tomat, cabai, bawang merah, buncis, dan sebagainya.
Mereka juga mengembangkan tanaman buah, seperti alpukat, semangka, dan melon. Satu kali panen, Usman dapat menghasilkan sekitar satu ton sayuran, baik itu kacang panjang, sawi, dan kubis yang ia tanam bergantian. Dari tangan petani, harga jual berkisar tiga hingga lima ribu rupiah per kilogram.
Saat ini, sudah banyak warga berjualan sendiri. Ada yang dibawa langsung ke pasar, ada juga yang dijual keliling atau membuka lapak di depan rumah. Selain itu, lokasi Desa Balun Ijuk yang dekat Pangkapinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menjadi kentungan tersendiri bagi para petani.
“Harga bisa lebih tinggi jika dijual langsung. Biaya transport juga lebih rendah, karena dekat kota,” kata Usman.

Ketersediaan rendah
Saat ini, sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat Kepulauan Bangka Belitung dipasok dari luar daerah. Mulai dari kebutuhan beras, sayur, daging, hingga buah-buahan.
“Tradisi menanam aneka sayuran memainkan peran vital dalam mendukung kedaulatan pangan di Bangka Belitung,” jelas Herry.
Merujuk penelitian Rizki Putra & Rahmani (2025) berjudul “Membangun Indeks Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”, pangan di Bangka Belitung saat ini tertolong akses pasar (keterjangkauan) dan pola konsumsi (pemanfaatan) yang baik. Namun, sangat rapuh di sisi produksi (ketersediaan).
Lebih lanjut, ketersediaan pangan di Bangka Belitung berada pada level rentan (hanya 28,48) karena banyak wilayah, termasuk Kota Pangkal Pinang dan beberapa kabupaten, tidak menghasilkan komoditas pangan pokok sama sekali. Ini sangat bergantung pada pasokan luar daerah.
Kondisi ini dipicu dominasi komoditas non-pangan seperti sawit, karet, dan lada, serta maraknya alih fungsi lahan pertanian yang menjadi area pertambangan timah ilegal dan kawasan perkotaan.
“Ketersediaan pangan yang rendah ini dikarenakan wilayah geografis Belitung, Bangka Tengah, dan Belitung Timur tidak ditanami tanaman pangan, namun daerah ini lebih banyak ditanami sawit, karet, serta lada,” tulis penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Accounting and Finance Management tersebut.

Fitri Ramdhani Harahap, sosiolog dari Universitas Bangka Belitung mengatakan, di sektor pertanian dan perkebunan, telah terjadi pergeseran paradigma di tingkat masyarakat. Banyak yang beralih untuk menanam sawit, dan ini tidak hanya berdampak secara ekologi, tapi juga secara sosial.
“Dengan menanam sawit, interaksi masyarakat dengan kebun menjadi sangat minim. Perawatan hanya sebatas menyemprotkan pestisida, pupuk, lalu pulang ke rumah. Bahkan banyak yang tidak lagi datang ke kebun, karena semua sudah dikerjakan orang lain dengan sistem upah.”
Ini berbeda dengan tradisi masyarakat di masa lalu, mereka bisa menghabiskan satu hari penuh di kebun –baik itu merumput, mencangkul, hingga makan bersama. Pola ini menuntut masyarakat untuk menanam beragam tanaman pangan di sekitar kebun.
“Kebun tidak hanya dianggap sebagai sumber ekonomi, tapi juga memfasilitasi kebutuhan pangan, hingga interaksi sosial ditingkat keluarga,” kata Fitri.
Mengutip Bangkapos.com, luas perkebunan sawit di Kepulauan Bangka Belitung berkembang pesat. Pada akhir 2025, luasnya mencapai mencapai 355.056 hektar, yang sekitar 250.956 hektar dimiliki perusahaan.
Luasan ini mengalami kenaikan hampir 50 persen, jika merujuk data BPS Bangka Belitung pada 2020, yaitu 237 ribu hektar.

Hidupkan tradisi
Seperti masyarakat desa lainnya di Kepulauan Bangka Belitung, di masa lalu, masyarakat Desa Balun Ijuk juga membuka ume dengan menanam padi ladang, serta beragam sayuran hutan di sela-sela tanaman komoditas ekonomi.
Tradisi ini masih dilestarikan masyarakat Balun Ijuk. Meskipun tanamann komoditas berganti menjadi sayuran, mereka tetap menanam beragam tanaman lainnya, seperti terong, tomat, lengkuas, kunyit, daun pucuk idat, dan lain sebagainya.
“Kami juga berniat untuk kembali menanam padi ladang di dekat tanaman sayur. Tidak perlu luas, yang penting bisa untuk makan,” kata Usman.

Menurut Herry, diversifikasi tanaman memang lebih melekat pada para petani tanaman hortikultura. Dalam satu lahan, dapat kita temukan lebih dari satu komoditas sayuran yang ditanam, atau dikenal dengan sistem polikultur atau tumpang sari.
Selain menanam sawi, dapat kita temukan sayuran lain seperti kangkung, bayam, dan selada. Ada juga yang menanam daun kemangi atau daun seledri, yang nantinya akan mereka petik tiap hari, dan menjadi penghasilan harian sebelum tanaman sayuran utama tiba masa panen.
Area terbuka seperti pekarangan kebun atau rumah di desa, juga dimanfaatkan untuk tanaman yang sering menjadi bumbu dapur.
“Tradisi menanam sayuran ini harus dihidupkan kembali, dan berpotensi menjadi penyangga pangan di masa paceklik, meningkatkan keragaman gizi, dan wujud kedaulatan pangan keluarga,” tegas Herry.
Referensi:
BPS Provinsi Bangka Belitung. (2026). Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Dalam Angka 2026. https://babel.bps.go.id/id/publication/2026/02/27/cc67bfc7b99d87250a0a6d60/provinsi-kepulauan-bangka-belitung-dalam-angka-2026.html
Lalenoh, P., Santi, R., & Setiawan, F. (2023). Analisis Kesuburan Tanah untuk Lahan Pertanian di Desa Balunijuk, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Zoning: Journal of Urban and Regional Planning, 1(1), 1–16. https://doi.org/10.33019/zoning.v1i1.19
Rizki Putra, A., & Rahmani, Z. (2025). Membangun Indeks Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Journal of Accounting and Finance Management, 5(6), 1395–1402. https://doi.org/10.38035/jafm.v5i6.1333
*****
Menjaga Tradisi “Behume”, Menyelamatkan Bangka Belitung dari Krisis Pangan





Comments are closed.