Mubadalah.id – Jumat lalu, istri dan anak perempuan saya mengajak menonton film The Odyssey, sebuah film petualangan fantasi epik garapan sutradara Christopher Nolan. Kisah ini adaptasi dari puisi epik Yunani kuno karya Homer yang tertulis sekitar abad ke-8 sebelum Masehi. Tokoh utamanya adalah Odysseus, Raja Ithaka.
Kisah ini terkait dengan Perang Troya dalam mitologi Yunani. Dari kisah itu, saya mengenal istilah “Kuda Troya”, yang saat ini sering kita gunakan dalam perbincangan tentang kontestasi politik. Istilah tersebut kerap terpakai sebagai metafora untuk menggambarkan seseorang atau kelompok yang tampak baik, netral, atau membantu dari luar, padahal menyimpan kepentingan tersembunyi yang dapat melemahkan atau menghancurkan pihak yang menerimanya. Dalam tradisi mitologi Yunani, Odysseus terkenal sebagai penggagas siasat Kuda Troya yang akhirnya membawa kemenangan bagi Yunani dalam Perang Troya.
Film The Odyssey mengisahkan peristiwa setelah perang berakhir, terutama perjalanan panjang Odysseus untuk kembali ke Kerajaan Ithaka dan bertemu kembali dengan keluarganya. Saya pernah membaca kisah ini sehingga langsung tertarik menontonnya ketika diangkat ke layar lebar. Ketertarikan saya semakin besar setelah mengetahui bahwa Matt Damon memerankan tokoh Odysseus, sedangkan Anne Hathaway berperan sebagai Penelope, istri Odysseus.
Saya mengagumi sosok Anne Hathaway, yang saya kenal melalui film The Intern (2015) bersama Robert De Niro. Aktris kelahiran 1982 ini memiliki kemampuan luar biasa dalam memerankan karakter perempuan yang cerdas, anggun, dan berkelas; tidak hanya berkarakter, tetapi juga berwibawa.
Menilik Karakter Penolope
Memerankan tokoh Penelope tidaklah mudah. Ia memiliki karakter yang kuat sebagai istri raja yang sarat dengan kesetiaan, kecerdasan, dan keteguhan hati.
Perhatikan petikan dialog yang sangat kuat sekaligus mengharukan antara Raja Odysseus dan Penelope, sang permaisuri.
Penelope:
Mengapa malam ini terasa begitu berat, Odysseus? Seolah laut telah membawa kabar duka sebelum kapal-kapal itu berlayar.
Odysseus:
Karena perang tidak pernah menjanjikan kepulangan. Besok aku berangkat bukan hanya sebagai suamimu, tetapi sebagai raja yang harus memenuhi sumpah para pemimpin Yunani.
Penelope:
Aku tidak takut menunggu. Berapa pun lamanya, Ithaka akan tetap menjadi rumahmu.
Odysseus:
Aku ingin percaya itu. Namun, dengarkan aku baik-baik. Jika bertahun-tahun berlalu dan aku tak pernah kembali, jangan biarkan hidupmu terkubur bersama bayanganku.
Penelope:
Apa maksudmu?
Odysseus:
Jika kabar kematianku datang, atau jika waktu telah membuat harapan itu mustahil, carilah kebahagiaan yang baru. Menikahlah lagi bila itu menyelamatkan dirimu dan kerajaan ini.
Penelope:
Kau meminta sesuatu yang lebih sulit daripada perang itu sendiri. Bagaimana mungkin aku memberikan tempatmu kepada orang lain?
Odysseus:
Karena aku mencintaimu. Aku tidak ingin Telemachus tumbuh tanpa perlindungan, dan aku tidak ingin para bangsawan memperebutkan Ithaka sementara engkau menanggung semuanya seorang diri.
Penelope:
Aku akan menjaga putra kita. Aku akan menjaga Ithaka. Tetapi jangan minta aku melupakanmu sebelum para dewa sendiri menutup jalan kepulanganmu.
Penelope menggenggam tangan Odysseus. Mereka saling menatap lama, menyadari bahwa fajar mungkin akan memisahkan mereka untuk waktu yang tidak diketahui.
Kesetiaan yang Teruji
Singkat cerita, Penelope menunggu kepulangan Odysseus selama bertahun-tahun setelah Perang Troya berakhir. Dalam masa penantian yang panjang itu, ia menghadapi berbagai bujuk rayu dan tekanan yang tidak mudah dihindari. Para pelamar dari kalangan bangsawan kerajaan datang silih berganti untuk mempersuntingnya. Penelope sadar sepenuhnya bahwa sejatinya mereka datang bukan hanya untuk mempersuntingnya, tetapi juga untuk merebut takhta Ithaka.
Penelope bukan sekadar istri yang hanya menunggu. Ia menunjukkan kesetiaan, kecerdikan, dan ketabahan yang luar biasa. Dengan kecerdikan dan kesabaran, ia mampu menunda para pelamar dan tetap menjaga kehormatan keluarganya.
Kesetiaan kepada pasangan memang merupakan tema yang tidak pernah habis dibicarakan. Ujian kesetiaan tidak hanya dialami oleh para raja dan kaum bangsawan, melainkan oleh semua pasangan, apa pun kedudukan sosial mereka. Sayangnya, banyak orang menakar kesetiaan hanya dari manisnya ucapan, lalu alpa mengujinya dalam kenyataan. Kesetiaan sejati baru tampak ketika cinta berhadapan dengan waktu, penderitaan, kesepian, dan godaan.
Apa yang dialami Penelope sesungguhnya juga bisa terjadi pada siapa saja. Jika dalam epik Yunani kesetiaan diuji melalui kisah Penelope dan Odysseus, di lingkungan kita saat ini kesetiaan juga mengalami ujian dalam berbagai bentuk dan gaya yang kurang lebih memiliki bobot yang sama. Pertanyaannya adalah bagaimana mempertahankan martabat dan kesetiaan ketika godaan datang dengan wajah yang manis, janji yang indah, dan kemewahan yang tampak meyakinkan.
Kutukan Keserakahan
Selain tentang ujian kesetiaan, film ini juga apik mengisahkan salah satu penggalan cerita tentang nasib orang-orang serakah yang merasa telah memiliki kuasa, kekuatan, senjata, dan pasukan yang akan selalu setia sampai mati.
Dalam perjalanan pulang, para prajurit Odysseus yang kehausan dan kelaparan bertemu dengan Circe, seorang perempuan yang tinggal sendirian di sebuah pulau. Circe mempersilakan mereka menyantap makanan yang tersedia di rumahnya. Namun, orang yang sedang dirasuki kerakusan cenderung berpikiran pendek: mereka ingin meraup dan memakan apa pun yang ada di hadapan mereka dengan lahap tanpa kewaspadaan.
Mereka lupa bahwa Circe adalah seorang penyihir yang pandai meracik ramuan, menggunakan sihir, dan mengubah manusia menjadi hewan. Akibat kerakusan itu, para prajurit yang sebelumnya gagah berani justru berubah menjadi babi karena sihir Circe. Namun, dengan bantuan dewa Hermes, Odysseus berhasil menahan pengaruh sihir tersebut dan memaksa Circe mengembalikan para pengikutnya ke wujud manusia.
Jika dalam kisah ini kerakusan membuat manusia berubah menjadi babi, maka di negeri ini, kerakusan telah menjelma menjadi korupsi. Bedanya, manusia tidak berubah secara fisik menjadi binatang, tetapi keserakahan telah menggerogoti nurani, merusak martabat, dan menghilangkan rasa malu. Jika demikian, lalu apa bedanya manusia dengan binatang?
Film The Odyssey, yang berdurasi 2 jam 45 menit, mengajarkan bahwa kesetiaan dan kerakusan adalah dua jalan yang menentukan nasib manusia. Kesetiaan tidak dibuktikan hanya oleh janji yang diucapkan. Sebaliknya, kerakusan berawal dari keinginan untuk memiliki lebih banyak, lalu perlahan membutakan nurani dan menghancurkan kewaspadaan. Pada akhirnya, manusia dapat kehilangan kehormatan, akal sehat, bahkan kemanusiaannya sendiri.
Kesetiaan harus terus diuji, sedangkan kerakusan harus dikendalikan sebelum manusia kehilangan dirinya sendiri. []





Comments are closed.