Buku yang sedang diramaikan ini ternyata ditulis oleh para tokoh yang menafsirkan sisi ke-Islaman Presiden Prabowo Subianto. Tidak ada satupun tulisan dari Prabowo sendiri.
Tafsiran itu bukan pada bagaimana Prabowo menjalankan ke-Islamannya dari aspek ‘ubudiyah maghdhohnya, tetapi dari aspek nilai spiritualitasnya.
Barangkali para komentator buku ini makin menemukan subyek untuk diramaikan, jika yang ditulis adalah soal ‘ubudiyahnya. Tapi subyek itu tidak ditemukan di sini.
Penulis menafsirkan soal spiritualitas yang berbasis nilai keislaman itu diwujudkan dalam bentuk karakter dan kepemimpinan.
Digambarkan oleh para penulis, yang adalah sebagian tokoh dan sebagian besar beririsan sebagai penyokong karakter yang ditulis, bahwa Prabowo itu begitu ideal mengejawantahkan nilai keislaman dalam memimpin negara.
Bahwa karakter utama pemimpin negara itu harus bisa menghadirkan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat yang dipimpinnya ditafsirkan sangat Prabowo sekali.
Bagaimana Prabowo menghadirkan kemaslahatan bagi rakyat dengan program unggulan kerakyatan semacam MBG yang didasari oleh rasa kemanusiaan yang tinggi adalah nilai yang Islami.
Dalam tataran ide sebenarnya ini bukan hal baru dalam konsepsi nilai kepemimpinan dalam Islam. Jadi cukup berlebihan kalau buku ini diberi judul Islam ala Prabowo.
Justru yang perlu diuji sebagai pembenar Islam ala Prabowo adalah bagaimana dia mewujudkan nilai tersebut dalam praktik yang benar memberikan kemaslahatan.
Memberi makan gratis adalah ide besar, tapi bagaimana bisa dalam praktiknya justru menimbulkan banyak mafsadat (kerusakan). Mega korupsi dan keracunan massal akibat buruknya korupsi adalah penyebabnya.
Lebih jauh lagi kalau mau diuji secara prinsip syariah dalam kaidah fikih, bahwa menolak mafsadat -kerusakan- harus diutamakan dari mengambil kemaslahatan -manfaat baiknya-. Dar’ul mafasid muqoddamun ‘ala jalbil mashalih.
Jika ada satu bab khusus yang membahas praktik MBG yang syarat kerusakan dan memberikan rekomendasi program ini dibubarkan, maka saya baru setuju judul buku tersebut.





Comments are closed.