Sun,16 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Meski Telah Dijinakkan Ribuan Tahun, Kuda Ternyata Masih Mampu Mengenali Predator

Meski Telah Dijinakkan Ribuan Tahun, Kuda Ternyata Masih Mampu Mengenali Predator

meski-telah-dijinakkan-ribuan-tahun,-kuda-ternyata-masih-mampu-mengenali-predator
Meski Telah Dijinakkan Ribuan Tahun, Kuda Ternyata Masih Mampu Mengenali Predator
service

Meski telah dijinakkan manusia selama ribuan tahun, kuda ternyata masih mampu mengenali predator hanya dari penglihatan. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa kuda peliharaan yang ditunjukkan rekaman video serigala tanpa suara tetap mengenali hewan tersebut sebagai ancaman, meskipun sebagian besar dari mereka kemungkinan besar belum pernah bertemu serigala secara langsung. Detak jantung mereka meningkat saat menonton, tetapi secara kasat mata perilaku mereka nyaris tidak menunjukkan perubahan apa pun.

Penelitian dilakukan di Pusat Kuda Ohio State University (OSU). Sebanyak 18 ekor kuda dibawa satu per satu ke kandang yang sudah mereka kenal, lalu ditunjukkan video berdurasi 60 detik tanpa suara. Alat pemantau detak jantung dipasang pada tiap hewan, sementara kamera merekam wajah dan gerak tubuhnya.

Video dibuka dengan tayangan wombat, hewan berkantung penggali asal Australia, yang tampak sedang merumput dengan tenang. Bagian ini berfungsi sebagai kontrol netral. Selanjutnya video beralih ke kawanan serigala, satu klip menampilkan serigala yang berkelahi dan satu klip lain menampilkan serigala yang saling merawat diri (grooming).

Ilustrasi stimulus predator berupa perilaku agresif. Foto ini hanya untuk tujuan ilustrasi, tidak identik dengan segmen video kelompok serigala (Canis lupus) yang berkelahi, yang digunakan untuk memicu respons anti-predator dalam penelitian tersebut. Kredit foto: David Selbert/Pexels.

Penelitian ini dipimpin oleh Zeynep Benderlioglu, dosen senior di bidang evolusi, ekologi, dan biologi organisme di universitas tersebut. Ia ingin mengetahui apakah kuda bisa mengenali predator hanya melalui penglihatan, tanpa bantuan indra penciuman atau pendengaran.

Riset sebelumnya menunjukkan bahwa kuda sangat mengandalkan penciuman dan pendengaran. Sebuah studi pada 2020 menemukan bahwa kuda menjadi waspada dan berkumpul rapat saat mendengar suara predator yang belum mereka kenal. Namun apakah penglihatan saja bisa memicu pengenalan predator belum pernah diuji sebelumnya.

Data detak jantung menunjukkan pola yang konsisten. Pada kondisi istirahat, detak jantung kuda berada di kisaran 51 kali per menit. Saat menonton wombat, angka ini nyaris tidak berubah, hanya naik ke sekitar 56. Namun begitu serigala muncul di layar, detak jantung melonjak ke kisaran pertengahan 60-an.

Lonjakan ini secara statistik signifikan dan menunjukkan sesuatu yang spesifik: kuda tidak sekadar bereaksi terhadap gerakan atau hewan asing, sebab wombat juga merupakan hewan baru bagi mereka namun detak jantungnya tetap datar. Reaksi ini murni ditujukan pada serigala.

Rancangan eksperimen. a) Kuda dengan alat pemantau detak jantung (kanan atas); b) pawang dan peneliti menyiapkan proyektor dan video (kanan bawah); c) susunan layar proyektor di dalam kandang, dengan kamera GoPro untuk merekam (kiri). Foto: Z. Benderlioglu, lisensi CC BY 4.0.

Yang menarik, jenis perilaku serigala dalam video tidak memengaruhi respons kuda. Benderlioglu semula memperkirakan kuda akan bereaksi lebih kuat saat melihat serigala berkelahi dibanding saat serigala saling merawat diri, tetapi kedua klip menghasilkan lonjakan detak jantung yang hampir sama.

Pola ini mengindikasikan bahwa hewan mangsa cenderung menganggap semua serigala sebagai ancaman, tanpa perlu menilai suasana hati kawanan tersebut. Menjawab pertanyaan mengapa kedua klip menghasilkan reaksi serupa, Benderlioglu menjelaskan bahwa kuda yang berusaha menilai secara detail niat sekelompok serigala justru berada pada posisi yang kurang menguntungkan untuk bertahan hidup dibanding kuda yang bisa langsung bereaksi.

Secara kasat mata, kuda-kuda ini tetap terlihat tenang. Mereka tidak mengibaskan ekor, menggerakkan kepala, mengembangkan lubang hidung, atau menggerakkan telinga, tanda-tanda stres yang biasa muncul pada kuda. Seseorang yang berdiri di samping mereka kemungkinan besar akan melihat hewan yang tampak santai.

Cara kuda mengamati video juga di luar dugaan peneliti. Kuda selama ini diketahui cenderung mengamati ancaman dengan mata kiri, yang terhubung ke sisi otak kanan tempat sistem alarm cepat bekerja. Namun dalam studi ini, kuda tidak menunjukkan kecenderungan tersebut, mereka mengamati serigala dengan kedua mata sekaligus, sebuah pola yang menurut Benderlioglu lebih mencerminkan pengamatan yang cermat dibanding respons panik semata.

Perbedaan Antarindividu Dalam Kawanan

Tingkat kewaspadaan ternyata tidak sama pada setiap kuda. Kuda jantan menunjukkan reaksi jauh lebih kuat dibanding kuda betina, dengan detak jantung mendekati 77 kali per menit saat menonton klip serigala, sementara kuda betina rata-rata hanya mencapai sekitar 55.

Status sosial dalam kawanan juga berpengaruh, dan hasilnya berlawanan dengan dugaan awal tim peneliti. Kuda dengan peringkat tertinggi dalam kawanan, yang biasanya memimpin dan mengendalikan sumber daya, justru menunjukkan lonjakan detak jantung paling besar saat melihat serigala. Sebaliknya, kuda dengan peringkat lebih rendah cenderung lebih tenang.

Temuan ini menunjukkan adanya semacam pembagian peran dalam kawanan, bukan sekadar perbedaan temperamen. Kuda dominan sering menjadi penentu kapan kelompok harus bergerak, dan individu dengan kewaspadaan internal paling tajam kemungkinan berperan sebagai penjaga kawanan.

Meski wajah kuda tampak tenang, detak jantungnya bisa melonjak saat menghadapi ancaman yang tak terlihat dari luar. Foto: Petra/Pixabay.

Menurut Benderlioglu, dengan menjaga kesiapan fisiologis untuk mendeteksi bahaya secara cepat, kuda-kuda dominan berada pada posisi yang tepat untuk mengambil keputusan mendadak dan memimpin kawanan menjauh dari ancaman.

Implikasi praktis dari temuan ini terletak pada apa yang tidak bisa dilihat oleh penunggang. Seekor kuda bisa sangat waspada terhadap anjing di dekatnya sementara secara kasat mata tampak sepenuhnya rileks, dan kondisi tersembunyi ini bisa berubah menjadi lonjakan mendadak atau ketakutan tiba-tiba. Mengetahui jenis kelamin, usia, dan peringkat sosial seekor kuda dapat membantu pawang memperkirakan bagaimana hewan tersebut mungkin bereaksi.

**

Referensi:

Hofacker, R., Sebunia, N., Pihlblad, J., & Benderlioglu, Z. (2026). Recognition of unfamiliar predators in domestic horses through only visual predator cues. PLOS ONE, 21(7), e0349298. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0349298

Kredit

Topik

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.