Meski telah dijinakkan manusia selama ribuan tahun, kuda ternyata masih mampu mengenali predator hanya dari penglihatan. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa kuda peliharaan yang ditunjukkan rekaman video serigala tanpa suara tetap mengenali hewan tersebut sebagai ancaman, meskipun sebagian besar dari mereka kemungkinan besar belum pernah bertemu serigala secara langsung. Detak jantung mereka meningkat saat menonton, tetapi secara kasat mata perilaku mereka nyaris tidak menunjukkan perubahan apa pun.
Penelitian dilakukan di Pusat Kuda Ohio State University (OSU). Sebanyak 18 ekor kuda dibawa satu per satu ke kandang yang sudah mereka kenal, lalu ditunjukkan video berdurasi 60 detik tanpa suara. Alat pemantau detak jantung dipasang pada tiap hewan, sementara kamera merekam wajah dan gerak tubuhnya.
Video dibuka dengan tayangan wombat, hewan berkantung penggali asal Australia, yang tampak sedang merumput dengan tenang. Bagian ini berfungsi sebagai kontrol netral. Selanjutnya video beralih ke kawanan serigala, satu klip menampilkan serigala yang berkelahi dan satu klip lain menampilkan serigala yang saling merawat diri (grooming).

Penelitian ini dipimpin oleh Zeynep Benderlioglu, dosen senior di bidang evolusi, ekologi, dan biologi organisme di universitas tersebut. Ia ingin mengetahui apakah kuda bisa mengenali predator hanya melalui penglihatan, tanpa bantuan indra penciuman atau pendengaran.
Riset sebelumnya menunjukkan bahwa kuda sangat mengandalkan penciuman dan pendengaran. Sebuah studi pada 2020 menemukan bahwa kuda menjadi waspada dan berkumpul rapat saat mendengar suara predator yang belum mereka kenal. Namun apakah penglihatan saja bisa memicu pengenalan predator belum pernah diuji sebelumnya.
Data detak jantung menunjukkan pola yang konsisten. Pada kondisi istirahat, detak jantung kuda berada di kisaran 51 kali per menit. Saat menonton wombat, angka ini nyaris tidak berubah, hanya naik ke sekitar 56. Namun begitu serigala muncul di layar, detak jantung melonjak ke kisaran pertengahan 60-an.
Lonjakan ini secara statistik signifikan dan menunjukkan sesuatu yang spesifik: kuda tidak sekadar bereaksi terhadap gerakan atau hewan asing, sebab wombat juga merupakan hewan baru bagi mereka namun detak jantungnya tetap datar. Reaksi ini murni ditujukan pada serigala.

Yang menarik, jenis perilaku serigala dalam video tidak memengaruhi respons kuda. Benderlioglu semula memperkirakan kuda akan bereaksi lebih kuat saat melihat serigala berkelahi dibanding saat serigala saling merawat diri, tetapi kedua klip menghasilkan lonjakan detak jantung yang hampir sama.
Pola ini mengindikasikan bahwa hewan mangsa cenderung menganggap semua serigala sebagai ancaman, tanpa perlu menilai suasana hati kawanan tersebut. Menjawab pertanyaan mengapa kedua klip menghasilkan reaksi serupa, Benderlioglu menjelaskan bahwa kuda yang berusaha menilai secara detail niat sekelompok serigala justru berada pada posisi yang kurang menguntungkan untuk bertahan hidup dibanding kuda yang bisa langsung bereaksi.
Secara kasat mata, kuda-kuda ini tetap terlihat tenang. Mereka tidak mengibaskan ekor, menggerakkan kepala, mengembangkan lubang hidung, atau menggerakkan telinga, tanda-tanda stres yang biasa muncul pada kuda. Seseorang yang berdiri di samping mereka kemungkinan besar akan melihat hewan yang tampak santai.
Cara kuda mengamati video juga di luar dugaan peneliti. Kuda selama ini diketahui cenderung mengamati ancaman dengan mata kiri, yang terhubung ke sisi otak kanan tempat sistem alarm cepat bekerja. Namun dalam studi ini, kuda tidak menunjukkan kecenderungan tersebut, mereka mengamati serigala dengan kedua mata sekaligus, sebuah pola yang menurut Benderlioglu lebih mencerminkan pengamatan yang cermat dibanding respons panik semata.
Perbedaan Antarindividu Dalam Kawanan
Tingkat kewaspadaan ternyata tidak sama pada setiap kuda. Kuda jantan menunjukkan reaksi jauh lebih kuat dibanding kuda betina, dengan detak jantung mendekati 77 kali per menit saat menonton klip serigala, sementara kuda betina rata-rata hanya mencapai sekitar 55.
Status sosial dalam kawanan juga berpengaruh, dan hasilnya berlawanan dengan dugaan awal tim peneliti. Kuda dengan peringkat tertinggi dalam kawanan, yang biasanya memimpin dan mengendalikan sumber daya, justru menunjukkan lonjakan detak jantung paling besar saat melihat serigala. Sebaliknya, kuda dengan peringkat lebih rendah cenderung lebih tenang.
Temuan ini menunjukkan adanya semacam pembagian peran dalam kawanan, bukan sekadar perbedaan temperamen. Kuda dominan sering menjadi penentu kapan kelompok harus bergerak, dan individu dengan kewaspadaan internal paling tajam kemungkinan berperan sebagai penjaga kawanan.

Menurut Benderlioglu, dengan menjaga kesiapan fisiologis untuk mendeteksi bahaya secara cepat, kuda-kuda dominan berada pada posisi yang tepat untuk mengambil keputusan mendadak dan memimpin kawanan menjauh dari ancaman.
Implikasi praktis dari temuan ini terletak pada apa yang tidak bisa dilihat oleh penunggang. Seekor kuda bisa sangat waspada terhadap anjing di dekatnya sementara secara kasat mata tampak sepenuhnya rileks, dan kondisi tersembunyi ini bisa berubah menjadi lonjakan mendadak atau ketakutan tiba-tiba. Mengetahui jenis kelamin, usia, dan peringkat sosial seekor kuda dapat membantu pawang memperkirakan bagaimana hewan tersebut mungkin bereaksi.
**
Referensi:
Hofacker, R., Sebunia, N., Pihlblad, J., & Benderlioglu, Z. (2026). Recognition of unfamiliar predators in domestic horses through only visual predator cues. PLOS ONE, 21(7), e0349298. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0349298





Comments are closed.