Arina.id – Dalam kehidupan beragama, sering kali tanpa disadari kita mewarisi cara pandang tertentu tentang Sang Khalik dan hubungan kita dengan-Nya. Cara pandang ini terbentuk dari pendidikan, lingkungan, hingga metode dakwah yang kita terima sejak kecil. Namun, penting untuk bertanya: apakah cara kita beragama selama ini sudah membawa kita lebih dekat kepada Allah, atau justru membuat hubungan itu terasa kaku, penuh ketakutan, dan transaksional?
Selama ini, banyak pendekatan dalam memperkenalkan Tuhan, terutama kepada anak-anak kita. Pendekatan yang digunakan lebih menonjolkan pada aspek jalaliyah, yaitu sifat-sifat keagungan Allah yang berkaitan dengan murka, hukuman, dan ancaman neraka. Akibatnya, Allah sering dipersepsikan sebagai sosok yang menakutkan, pemarah, dan Maha Menghukum.
Padahal, jalaliyah hanyalah salah satu sisi dari sifat Allah, bukan keseluruhan wajah-Nya. Jika aspek ini terlalu dominan, maka takwa pun dipersempit hanya menjadi rasa takut, bukan kesadaran cinta.
Sebaliknya, dalam Islam terdapat pula aspek jamaliyah, yaitu sifat-sifat keindahan, kasih sayang, dan kelembutan Allah. Nama-nama Allah seperti Ar-Rahman dan Ar-Rahim bahkan menjadi pembuka dalam setiap bacaan “Bismillahirrahmanirrahim”. Ini menunjukkan bahwa Allah ingin dikenal pertama-tama sebagai sumber kasih sayang.
Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa rahmat Allah mendahului murka-Nya.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ – هُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ ، وَهْوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ – إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى »
Artinya: “Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Al-Qur’an pun lebih banyak menghadirkan kabar gembira (tabsyir) dibandingkan ancaman (tandzir). Rasulullah SAW juga menegaskan,
يَسِّرُوْا وَلاَتُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلاَتُنَفِّرُوْا
Artinya: “Berilah kemudahan dan jangan menyusahkan, berilah kabar gembira dan janganlah engkau membuat orang menjauh” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Normatif ke Esensial
Paradigma beragama juga perlu digeser dari pendekatan yang terlalu normatif menuju pemahaman yang lebih esensial. Selama ini, agama sering diajarkan sebatas aturan seperti halal dan haram, boleh dan tidak boleh, wajib dan sunnah. Kita dididik untuk patuh, tetapi tidak selalu diajak memahami makna di balik aturan tersebut.
Pendekatan seperti ini membuat agama terasa kaku dan legalistik. Hubungan dengan Allah pun menjadi formal dan transaksional.
Padahal, agama bukan hanya kumpulan hukum, melainkan jalan cinta menuju Allah. Shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi perjumpaan penuh rindu dengan Sang Kekasih. Puasa bukan hanya menahan lapar, melainkan latihan empati dan kepekaan terhadap sesama. Aturan dalam agama tetap penting, tetapi seharusnya menjadi jembatan menuju cinta, bukan sekadar kewajiban tanpa makna.
Setidaknya ada 3 model manusia dalam beragama:
1. Mode Budak. Beribadah karena takut hukuman. Taat karena khawatir masuk neraka.
2. Mode Pedagang. Beramal karena mengharapkan imbalan. Ibadah dilakukan demi surga.
3. Mode Pecinta. Beribadah karena cinta kepada Allah, tanpa pamrih dan tanpa ketakutan.
Mode budak dan pedagang sama-sama bersifat transaksional. Hubungan dengan Allah menjadi seperti hubungan antara majikan dan hamba, atau antara penjual dan pembeli alias ada hitung-hitungan untung rugi. Pendidikan agama yang terlalu menekankan reward dan punishment cenderung melahirkan mental seperti ini. Kita dan anak-anak kita belajar bahwa kebaikan adalah “alat tukar” untuk mendapatkan surga atau menghindari neraka.
Namun, ada tingkat yang lebih tinggi yakni mode pecinta. Pada tahap ini, seseorang beribadah bukan karena takut atau berharap imbalan, tetapi karena cinta yang tulus kepada Allah.
Seorang sufi besar, Rabi’ah al-Adawiyah, pernah berdoa:
“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, maka masukkan aku ke dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, maka jauhkan aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka jangan Engkau halangi aku dari-Mu.”
Doa ini bukan menolak surga atau menginginkan neraka, melainkan menunjukkan puncak ketulusan cinta dalam beribadah. Sehingga dalam mengenal-Nya, janganlah dijadikan Allah sebagai sosok yang menakutkan, tetapi sebagai Kekasih yang Maha Pengasih. Dari sinilah lahir kesadaran spiritual yang lebih dalam, lebih tulus, dan lebih membebaskan.
Ketika seseorang beragama dalam mode pecinta, ia tidak lagi sekadar “melaksanakan kewajiban”, tetapi menikmati setiap ibadah sebagai bentuk kedekatan. Ia tidak hanya “takut berdosa”, tetapi rindu untuk selalu dekat dengan Allah.
Pada akhirnya, pertanyaannya kembali kepada diri kita masing-masing, Apakah kita beragama sebagai budak, pedagang, atau pecinta?. Wallahu a’lam.





Comments are closed.