Tue,11 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Nakes Hina Pasien BPJS di Medsos, Berikut Etika Kedokteran dalam Islam

Nakes Hina Pasien BPJS di Medsos, Berikut Etika Kedokteran dalam Islam

nakes-hina-pasien-bpjs-di-medsos,-berikut-etika-kedokteran-dalam-islam
Nakes Hina Pasien BPJS di Medsos, Berikut Etika Kedokteran dalam Islam
service

Arina.id – “8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill  RS nya, soalnya gua pake bpjs”. Itulah unggahan Yurizal Tri Chaerawan di akun Threads pribadinya, @yurizaltrich pada 22 Juli 2026 yang viral di media sosial dan menjadi perbincangan nasional. Bukannya mendapatkan respon positif, ungkapan keluh kesahnya ini justru mendapat hujatan dan hinaan terkhusus dari tenaga kesehatan (nakes) dan tenaga medis (named) dengan komentar yang kurang begitu manusiawi.

Dengan kondisi ini, warganet pun berbalik menyerang para nakes dan named yang menghina Yurizal pasca beredar informasi dia telah meninggal dunia pada Jumat 31 Juli 2026. Warganet menilai komentar para nakes dan named dinilai nirempati kepada pasien yang menunggu pertolongan dan pengobatan. 

Kasus ini dinilai sebagai tindak indisipliner seorang nakes dan named yang menyalahi kode etik. Setidaknya terdapat 10 identitas yang telah disorot oleh warganet, dan beberapa telah meminta maaf secara terbuka melalui unggahan video di media sosial. Nama-nama itu pun telah dikantongi oleh konsil kesehatan Indonesia (KKI) untuk diperiksa atas dugaan pelanggaran kode etik dalam bermedia sosial.

Diduga faktor yang mendorong para nakes dan named melakukan tindak perundungan daring terhadap pasien BPJS tersebut adalah burn out. dr. Wiweka, waketum IDI menjelaskan bahwa alasan itu tidak bisa diterima dan tidak bisa dibenarkan bagi seorang dokter untuk melakukan perundungan daring.

Ia menjelaskan bahwa dalam pasal 21 kode etik disebutkan bahwa dokter harus menjaga kesehatannya, baik fisik maupun mental, sebagaimana dilansir dari health.detik.com.

Unggahan mendiang Yurizal di media sosial merupakan sebuah keluh kesah seorang pasien yang ingin segera mendapatkan penanganan medis. Sebenarnya hal itu sangat wajar dilakukan bagi orang yang menunggu terlalu lama, terutama pasien yang segera membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

Hanya saja, ada yang menganggap Yurizal kurang bersabar, mengingat yang bersangkutan adalah pasien BPJS. Ditambah lagi unggahan mendiang yang terkesan mengandung unsur sarkasme (tidak menyebut nama rumah sakitnya karena BPJS), seakan kecewa dengan layanan asuransi kesehatan tersebut.

Memang benar bahwa dokter adalah sosok yang harus dimuliakan agar ia senang hati memberikan layanan kesehatan dengan baik. Memuliakan dokter adalah sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang pasien. Sebagaimana syair yang terkenal tercatat dalam Ta’limul Muta’allim berikut:

إنَّ الْمُعَلِّمَ وَالطَّبِيبَ كِلَاهُمَا,  لَا يَنْصَحَانِ إذَا هُمَا لَمْ يُكْرَمَا

فَاصْبِرْ لِدَائِك إنْ أَهَنْت طَبِيبَهُ,  وَاصْبِرْ لِجَهْلِك إنْ جَفَوْت مُعَلِّمَا

“Sesungguhnya gutu dan dokter tidak akan memberi nasihat ketika keduanya tidak dimuliakan. Bersabarlah dengan penyakitmu jika kau hina doktermu, bersabarlah dengan kebodohanmu jika kau tidak menghormati gurumu.”

(Burhanuddin al-Zanuji, Ta’limul Muta’allim, [Kairo: Dar al-Bashair, 2015], hlm. 47.).

Akan tetapi, bukan berarti seorang dokter boleh gila hormat dari pasiennya. Sama halnya seorang guru yang gila hormat atas muridnya, sehingga dia menjadi jumawa dan mudah merendahkan orang lain yang membutuhkan pertolongannya.

Menjadi seorang dokter tentunya mempunyai kode etik profesi yang harus diterapkan dan dijaga selama dia menyandang gelar sebagai “perpanjangan tangan Tuhan”.

Muhammad bin Lutfi al-Sabbagh (w. 1438 H./2017 M.) menuliskan beberapa kode etik kedokteran Islam dalam catatannya yang berjudul Akhlaqut Tabib [Alukah.net, 2011] yang relevan dengan kasus ini, di antaranya adalah:

وعليه أن يسوي بين المرضى في معاينتهم والاهتمام بهم فلا يفرق بين غني وفقير وعظيم وحقير فالكل عباد الله 

Artinya: “Wajib baginya (dokter) untuk tidak membedakan pelayanan pasien antara kaya dengan fakir, antara orang besar dengan orang kecil, semuanya adalah hamba Allah” (hlm. 61).

وعليه أن يعمل على الوصول الى ثقة مرضاه به, ويكون ذلك بالاخلاص في العمل 

Artinya: “Wajib baginya mengupayakan mendapatkan kepercayaan pasien dengan ikhlas beramal.” (hlm. 61).

وعلى الطبيب أن يكون لبقا مع مرضاه متلطفا بهم فلا يقول ما يوهنهم او يوقعهم في اليأس

Artinya: “Wajib bagi dokter untuk bersikap sopan dan ramah dengan pasiennya, serta tidak melontarkan kata-kata yang bisa menghinanya atau yang membuatnya kecewa.” (hlm. 73).

وعليه ان يصبر عليه ما يلقي من المرضا من الاسئلة او التصرفات وان يرفق بهم 

 Artinya: “Dia wajib bersabar atas segala urusan terkait pasiennya, terkait banyak pertanyaan dan tingkah laku mereka, dan bersikap lemah lembut kepada mereka.” (hlm. 76.).

Selain kode etik yang tertulis oleh al-Sabbagh, terdapat kode etik kedokteran yang sudah tertulis ratusan tahun yang lalu oleh dokter muslim legendaris, Abu Bakar Muhammad bin Zakariya al-Razi (w. 313 H./925 M.). Ia menulis dalam catatannya yang berjudul Akhlaqut Tabib [Kairo: Darut Turats, 1977], sebuah catatan al-Razi untuk murid-muridnya terkait kode etik kedokteran. 

Penulis mengutipkan sedikit kode etik dari catatannya yang relevan dengan kasus ini sebagai berikut:

وأعلم يابني أنه ينبغي للطبيب أن يكون رفيقا بالناس, حافظا لغيبهم, كتوما لأسرارهم.

Artinya: “Ketahuilah anakku, seyogyanya seorang dokter bersikap ramah kepada masyarakat, dan menjaga privasi mereka.” (hlm. 27).

وينبغي للطبيب أن يعالج الفقراء كما يعالج الاغنياء 

Artinya: “Seyogyanya seorang dokter bisa mengobati orang fakir sebagaimana dia mengobati orang kaya,” (hlm. 37).

واعلم أن التواضع في هذه الصناعة زينة وجمال دون ضعة النفس لكن يتواضع بحسن اللفظ وجيد الكلام ولينه وترك الفظاظة والغلظة على الناس

Artinya: “Ketahuilah bahwa rendah hati di profesi ini adalah sebuah keindahan, bukan sebuah hinaan diri sendiri. Seorang dokter harus bersikap rendah hati dengan ucapan dan pilihan diksi yang baik dan lembut, serta menghindari berkata kasar dan bersikap keras kepada masyarakat,” (hlm. 84).

Beberapa kode etik ini sejatinya menunjukkan bahwa seorang dokter atau nakes dan named secara umum harus bersikap lemah lembut, dan penuh rasa empati kepada pasiennya. Seorang dokter harus sebisa mungkin mendapatkan kepercayaan pasiennya, tentunya dengan layanan kesehatan dan komunikasi yang baik

Seorang dokter juga harus bersabar atas sikap pasiennya dan tetap menjaga sikap untuk tidak berskap kasar, baik di ruang privat terlebih ruang publik seperti sosial media.  

Banyak masyarakat dan juga para influencer berkomentar bahwa terkadang kecerdasan intelektual tidak menunjukkan adanya kecerdasan spiritual dan emosional. Kasus perundungan daring yang dilakukan oleh nakes dan named di atas menunjukkan akan pentingnya pengetahuan terkait etika bermedia sosial dan ilmu komunikasi keprofesian yang benar.

Burn out bukan alasan yang melegalkan seorang dokter bresikap nirempati kepada pasien. Semua profesi memang berpotensi menimbulkan burn out, apalagi yang bekerja dengan jam kerja yang sangat banyak dalam sepekan.

Akan tetapi, etika seorang dokter tidak sepantasnya beromentar kasar yang cenderung nirempati kepada masyarakat. Para nakes seharusnya menyadari dan sebisa mungkin menjauhi sikap impulsif dalam bermedia sosial dengan komentar-komentarnya. Wallahu a’lam.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.