Ringkasan Berita:
- Trafo PLN di tepi Jalan Ponorogo-Pacitan, Desa Tugurejo, Slahung, dicuri pada tengah malam.
- Warga sempat melihat beberapa orang dan kendaraan di sekitar lokasi, tetapi mengira mereka petugas PLN.
- Pencurian membuat sejumlah wilayah mengalami pemadaman listrik hingga sekitar pukul 10.00 WIB.
- Kepala Desa Tugurejo menduga pelaku lebih dari empat orang dan memiliki kemampuan menangani peralatan listrik.
Ponorogo (beritajatim.com) – Trafo listrik milik PLN di wilayah Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Ponorogo, dicuri di tepi Jalan Ponorogo-Pacitan, tepatnya di Dukuh Krajan. Aksi tersebut diduga berlangsung pada tengah malam dan baru diketahui setelah jaringan listrik di sejumlah wilayah sekitar lokasi mengalami pemadaman cukup lama.
Kepala Desa Tugurejo, Siswanto, mengatakan pencurian diduga terjadi sekitar tengah malam. Sejumlah warga bahkan sempat melihat beberapa orang berada di sekitar lokasi trafo. Namun, keberadaan mereka tidak menimbulkan kecurigaan karena warga mengira orang-orang tersebut merupakan petugas PLN yang sedang melakukan perbaikan jaringan.
Saat itu, sejumlah titik di wilayah tersebut memang sedang mengalami pemadaman listrik sehingga aktivitas beberapa orang di sekitar tiang listrik dianggap sebagai pekerjaan teknis biasa.
“Kejadiannya itu kemarin atau malam Jumat, sekitar pukul 12.00 malam. Karena waktu itu, ada anak-anak yang lewat, ada orang di lokasi trafo tersebut. Nah, anak-anak pikir itu dari pihak PLN yang mengadakan perbaikan,” kata Siswanto, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Siswanto, orang-orang yang berada di lokasi juga membawa sebuah kendaraan. Beberapa di antaranya bahkan terlihat berada di atas tiang listrik. Kondisi tersebut semakin membuat warga tidak menaruh curiga karena aktivitas itu dinilai menyerupai pekerjaan petugas PLN.
“Kebetulan ada beberapa anak yang sempat lewat. Karena di situ juga ada mobil, terus beberapa orang itu di atas tiang,” ungkapnya.
Siswanto memperkirakan aksi pencurian dilakukan lebih dari empat orang. Dia menduga para pelaku memiliki kemampuan khusus karena trafo yang dicuri berukuran besar dan berada di atas tiang listrik. Proses menurunkan trafo tersebut dinilai membutuhkan kemampuan serta tenaga yang tidak sedikit.
“Lebih dari 4 orang, krena membawa atau menurunkan trafo yang mungkin beratnya itu di atas 3 ton, itu tidak mungkin kalau cuma 3 atau 4 orang saja,” katanya.
Trafo tersebut diketahui menjadi sumber jaringan listrik untuk sejumlah wilayah di sekitar lokasi. Siswanto menyebut jaringan dari trafo itu melayani hampir seluruh Dukuh Krajan dan Dukuh Nguyangan. Selain itu, sebagian wilayah Dukuh Mbukul juga mendapatkan aliran listrik dari trafo tersebut.
“Di Dukuh Krajan itu hampir semuanya. Terus Dukuh Nguyangan juga hampir semuanya, terus yang namanya Dukuh Mbukul itu juga sebagian,” jelasnya.
Akibat trafo hilang, warga di sejumlah wilayah tersebut harus mengalami pemadaman listrik selama berjam-jam. Pemadaman berlangsung sejak tengah malam hingga menjelang siang.
Siswanto mengatakan aliran listrik baru kembali menyala sekitar pukul 10.00 WIB setelah pihak PLN melakukan penggantian trafo. Sebelum penggantian dilakukan, warga lebih dulu menemukan kondisi jaringan listrik yang tidak seperti biasanya. Temuan tersebut kemudian mengarah pada terungkapnya trafo yang telah hilang dari lokasi.
Warga Tugurejo bernama Sutris Kadri menjadi saksi pertama yang mengetahui adanya dugaan pencurian tersebut. Sutris yang kebetulan melintas melihat kabel jaringan dalam kondisi menjuntai ke bawah. Karena memahami pekerjaan jaringan listrik, dia kemudian memeriksa lokasi.
Setelah memastikan trafo telah hilang, Sutris segera melaporkan temuan tersebut kepada pihak PLN.
“Ternyata benar terjadi kehilangan, trafonya hilang. Kemudian dia melaporkan kepada pihak PLN, baru pihak PLN melaporkan kepada kepolisian,” ungkap Siswanto.
Setelah menerima laporan, pihak PLN langsung melakukan penanganan di lokasi. Trafo yang hilang kemudian diganti agar aliran listrik kepada masyarakat dapat kembali normal.
“Dari pihak PLN segera melakukan langsung penggantian trafo tersebut,” katanya.
Penggantian trafo dilakukan setelah kejadian diketahui. Aliran listrik di wilayah yang terdampak akhirnya kembali menyala sekitar pukul 10.00 WIB.
Siswanto menilai aksi tersebut diduga dilakukan oleh orang-orang yang sudah berpengalaman. Menurutnya, masyarakat tidak mudah membedakan petugas resmi dengan orang yang berpura-pura melakukan pekerjaan perbaikan jaringan listrik.
Aktivitas di sekitar tiang listrik, kata dia, juga cenderung dianggap sebagai pekerjaan teknis PLN. Situasi tersebut diduga dimanfaatkan para pelaku untuk menjalankan aksinya tanpa menimbulkan kecurigaan warga.
“Jadi masyarakat tahunya itu ya mungkin dari pihak PLN, karena tidak mungkin lah kalau orang dekat terus yang melakukan. Jadi mungkin mereka sudah memang sudah spesialis,” pungkasnya. [end/beq]




Comments are closed.