Kebakaran hutan dan lahan mengakibatkan kabut asap parah terutama di Kalimantan dan Sumatera, bahkan sudah mampir ke negeri tetangga. Indikator cemaran udara pun memperlihatkan level berbahaya. Kesehatan dan keselamatan warga pun terancam karena terpaksa menghirup udara beracun karhutla berhari-hari. Dari pantauan kualitas udara melalui aplikasi IQAir pada 3 September 2026, di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, polusi udara pada level berbahaya dengan konsentrasi partikulat PM2,5 sebesar 375.0 µg/m.³ Tak jauh beda kondisi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, pencemaran udara level berbahaya dengan PM2,5 sebesar 265,1 µg/m.³ Kabut asap di Kota Pontianak, Kalbar. 3 September 2026. Foto: Tursih/Mongabay Indonesia Tursih, warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat mengatakan, kabut asap langsung berdampak ke kesehatan terutama anak-anak. “Ini anak-anak di rumah sudah dari beberapa pekan lalu batuk pilek,” katanya, akhir Agustus lalu. Dia dan keluarga pun berupaya mengurangi aktivitas ke luar rumah. Ketika terpaksa keluar, mereka gunakan masker. “Adanya yang ini yang kami beli,” katanya. Yang dia maksud itu masker medis yang sekadar menutup wajah. Asap karhutla parah, Kota Pontianak pun masih sekolah daring. “Kabut asap tebal. Sekolah masih libur, belajar daring,” kata Tursih. Dia bilang, sekolah secara daring dengan melihat kondisi asap. Ketika pekat, dan udara memburuk, pemerintah umumkan sekolah secara daring dari rumah. Di Palangka Raya, Ibu Kota Kalimantan Tengah pun tak aman lagi. Seminggu setelah Presiden Prabowo Subianto berkunjung, masyarakat kota makin terkepung api dan asap dari karhutla. Bagi warga Kalteng, karhutla bukan fenomena yang hanya terlihat sebagai kepulan asap di langit. Ia jadi acaman kesehatan, keselamatan maupun ekonomi. Hasil pantauan data…This article was originally published on Mongabay
Nestapa Warga Kalimantan Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan dan Gambut
Nestapa Warga Kalimantan Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan dan Gambut





Comments are closed.