Sun,17 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. New Rhun

New Rhun

new-rhun
New Rhun
service
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

Oleh: Dahlan Iskan

Setelah satu jam naik speed boat dari pulau Banda, tibalah saya di pulau yang sudah begitu lama saya simpan namanya: Rhun. New Rhun

Anda sudah tahu kehebatan Rhun. Ia terletak di tengah laut Banda nan luas tapi lebih berharga dari Pulau Manhattan yang sekarang jadi jantungnya kota New York di Amerika Serikat.

Itu dulu. Di tahun 1667. Siapa sangka di tahun itu Rhun lebih hebat dari Manhattan. Lebih mahal nilainya. Tahun itu pulau-pulau di Maluku Tengah sudah dikuasai Belanda. Tinggal satu Pulau Rhun yang masih dikuasai Inggris. Oleh Belanda itu dianggap jadi ancaman. Belanda tidak bisa memonopoli pala di Eropa. Masih ada pesaing: Inggris –yang masih bisa dapat pala dari Pulau Rhun.

Di samping menjajah Maluku, waktu itu Belanda memiliki Pulau Manhattan di Amerika Utara. Maka Belanda mengajak Inggris berunding. Bertukar pulau. Manhattan ditukar dengan Rhun. Inggris bersedia. Manhattan pun menjadi milik Inggris, Rhun menjadi milik Belanda.

Belanda puas: bisa memiliki pulau-pulau penghasil pala sepenuhnya. Perdagangan pala pun dimonopoli Belanda. Harga pala di Eropa dibuat sendiri oleh Belanda. Boleh dikata Belanda bisa makmur berkat pala dari Banda dan sekitarnya.

Kini, sekian ratus tahun kemudian, Manhattan berubah drastis jadi kota dengan ekonomi terbesar di dunia. Rhun tetap jadi Rhun apa adanya. Kelak di tahun 1776 Inggris kehilangan Manhattan. Amerika Serikat merdeka. Belanda di tahun 1945 kehilangan Rhun. Indonesia merdeka.

Tidak. Tidak hanya Manhattan yang berubah. Kini Rhun juga sudah berubah. Hanya berubahnya tidak banyak.

Pokoknya Rhun juga sudah berbeda dari Rhun tahun 1667. Dulu tidak ada penduduknya. Kini sudah ada satu kampung nelayan dengan semua rumah beratap seng.

Semua penduduk Rhun dari suku Buton –pendatang dari Sulawesi Tenggara. Tidak ada penduduk asli. Mereka hidup dari mencari ikan di laut dan dari pohon pala di kebun.

Kalau Manhattan kini punya jalan utama yang disebut fifth avenue yang gegap gempita dan penuh gedung pencakar langit, kampung di Rhun punya satu jalan utama: lebarnya 1,5 meter, terbuat dari semen.

Di Rhun tidak ada sumber air tawar. Semua rumah punya bak beton untuk menampung air hujan yang jatuh ke atap mereka.

Saya mampir ke rumah Pak Kamaruddin. Terlihat perahu ikan parkir di pantai di belakang rumahnya. Mesin perahu itu Yamaha 40 PK yang kelihatan masih bagus. Mesin itu seharga Rp 47 juta –dibeli dengan uang kontan. Uangnya dimasukkan tas kresek untuk dibawa ke toko mesin di Ambon sana –delapan jam naik kapal Pelni. “Saya masih punya mesin satu lagi ukuran 15 PK. Kadang saya pakai dua mesin sekaligus,” ujarnya.

Kami ngobrol di belakang rumah itu sambil melihat luasnya laut Banda. Kamaruddin tidak henti-hentinya merokok. “Satu hari satu pack,” ujarnya. “Kalau lagi melaut sehari dua pack,” tambahnya. Berarti pengeluarannya untuk beli rokok saja Rp 80.000 per hari.

“Rokok adalah teman satu-satunya di tengah laut,” ujar Kamaruddin seperti ingin agar saya memahami kesendiriannya. Ia selalu sendirian ke tengah laut. Pagi berangkat, sore pulang. Tuna besar hasil tangkapannya dijual ke Pulau Banda –45 menit dari Rhun. Tidak ada pedagang ikan yang punya cold storage di pulau Rhun.

New Rhun

Membeli bensin pun harus ke Pulau Banda. Saat jual ikan itu sekalian mampir beli Pertamax: satu liter Rp 18.000.

Nelayan di Pulau Rhun tidak ada yang miskin. Rumah mereka bata. Buatan sendiri. Batanya terbuat dari pasir dan semen. Harga semen Rp 110.000/sak.

Rumah Kamaruddin hanya berukuran sekitar 6×12 meter, tapi sangat baik. Keramiknya mengilap. Bersih. Catnya rapi. Pengerjaan rumah ini tidak asal-asalan. Plafonnya juga dikerjakan dengan sangat baik. Finishing-nya mengalahkan bangunan masjid Negara di IKN.

Hampir semua rumah di Rhun seperti itu. Tidak ada yang kumuh. Pekarangan rumah mereka meski sempit tapi rapi. Kelihatan selalu disapu.

Kamaruddin sudah 20 tahun di Rhun. Ia masih lahir di Buton. Istrinya yang sudah kelahiran Rhun. Mereka punya satu anak, wanita, yang baru lulus SMA. Dia akan kuliah di jurusan sejarah Sekolah Tinggi Banda Naira.

Nelayan di Rhun punya dua jenis penghasilan: suami cari ikan di laut, istri memetik pala di kebun.

Pemandangan perahu-perahu nelayan di Pulau Rhun yang sedang sandar.–

Kalau sedang tidak musim pala –pohon pala berbuah tiga kali setahun– mereka mencari biji kenari yang berceceran di sekitar pohonnya yang menjulang tinggi.

Kenari tidak pakai musim. Selalu ada biji kenari yang jatuh ke tanah setelah dagingnya dimakan kelelawar. Kadang ketika kelelawar baru sedikit memakan dagingnya buah kenarinya sudah jatuh ke tanah.

Di kebun pala memang selalu ada pohon kenari. Disengaja seperti itu. Fungsi pohon kenari untuk menahan angin agar tidak merusak pohon pala. Juga sebagai pelindung panas untuk pohon pala yang masih kecil.

Maka banyak rumah di Rhun yang di halamannya ada jemuran pala dan kenari. Dua jam saya berada di ”Manhattan”-nya Maluku. Ternyata beginilah Rhun yang saya impikan itu.


Jalan satu-satunya di Rhun.–


Rhun yang di Kepulauan Banda itu kini memang tidak gegap gempita seperti Manhattan di New York. Tapi penduduk Rhun kelihatan damai, rukun, dan tidak perlu tergesa-gesa mengejar kereta bawah tanah untuk ke tempat kerja.

Bedanya hanya satu: penduduk Rhun bermimpi bisa ke New York, penduduk New York tidak bermimpi bisa ke Rhun. Ups…tidak. Penduduk Rhun tidak bermimpi ke New York. Mereka lebih bermimpi ke Makkah.(Dahlan Iskan)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.