Sat,29 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Novel ‘The Handmaid’s Tale’, Tubuh Perempuan Dirampas dan Dijadikan Alat Prokreasi

Novel ‘The Handmaid’s Tale’, Tubuh Perempuan Dirampas dan Dijadikan Alat Prokreasi

novel-‘the-handmaid’s-tale’,-tubuh-perempuan-dirampas-dan-dijadikan-alat-prokreasi
Novel ‘The Handmaid’s Tale’, Tubuh Perempuan Dirampas dan Dijadikan Alat Prokreasi
service

“Aku ingin terus hidup, dalam bentuk apa pun. Aku menyerahkan tubuhku dengan rela demi kepentingan-kepentingan orang-orang lain. Mereka bisa melakukan apa pun yang mereka mau terhadapku. Aku hina.”

Kalimat dalam The Handmaid’s Tale karya Margaret Atwood tersebut memperlihatkan salah satu persoalan paling mendasar dalam novel distopia ini: ketika perempuan kehilangan hak atas tubuhnya sendiri. Tubuh perempuan tidak lagi dipandang sebagai bagian dari diri yang memiliki kehendak dan agensi, melainkan direduksi menjadi alat untuk satu fungsi—prokreasi.

The Handmaid’s Tale mengeksplorasi bagaimana sistem patriarki dapat bekerja secara sistematis untuk merampas kepemilikan perempuan atas tubuhnya. Dalam Republik Gilead, negara totalitarian dan teokratis yang menjadi latar cerita, perempuan tidak dipandang sebagai individu yang memiliki hak penuh atas hidupnya. Nilai mereka justru ditentukan berdasarkan peran dan fungsi reproduktifnya. Rahim menjadi ukuran kegunaan seorang perempuan.

Atwood juga memperlihatkan bagaimana agama dapat digunakan sebagai instrumen represi sosial. Dengan mengatasnamakan moralitas dan nilai-nilai keagamaan, pemerintah Gilead membangun sistem yang mengatur hampir seluruh aspek kehidupan perempuan—dari cara berpakaian, ruang gerak, pekerjaan, relasi sosial, hingga fungsi reproduksi mereka. Kekuasaan laki-laki kemudian dilegitimasi melalui hukum dan institusi negara.

Baca Juga: Lewat The Handmaid’s Tale, Kita Membaca Indonesia dan Tubuh Perempuan di Bawah Kuasa Negara

Dalam hierarki Gilead, laki-laki menjadi pemegang kekuasaan utama. Mereka yang berada di posisi tertinggi disebut Commander, para petinggi Republik Gilead, tokoh politik, dan pembuat kebijakan. Para Commander memiliki kekuasaan atas masyarakat, termasuk hak untuk memiliki seorang Handmaid yang ditempatkan di rumah mereka demi menghasilkan keturunan.

Cerita disampaikan melalui sudut pandang orang pertama dari Offred, seorang Handmaid. Cara Offred bercerita cenderung apa adanya, sarkastik, bahkan sesekali sinis. Melalui pengamatannya, pembaca diajak melihat bagaimana perempuan menjalani kehidupan sehari-hari dalam sistem yang menjadikan tubuh mereka sebagai milik negara dan laki-laki yang berkuasa.

“Sesuatu dapat ditukar, kita pikir, beberapa perjanjian dibuat, beberapa penjualan, kita masih bisa memiliki tubuh kita. Itulah angan-angan kita.”

Perampasan itu tidak terjadi dalam satu malam. Atwood justru memperlihatkan bagaimana hilangnya kebebasan perempuan dapat berlangsung secara perlahan. Perempuan kehilangan akses terhadap akun bank pribadi, mengalami pemecatan massal, dan secara bertahap dipaksa kembali ke ruang domestik. Kemandirian ekonomi dan sosial mereka dirampas sedikit demi sedikit hingga akhirnya perempuan tidak lagi memiliki kontrol atas kehidupannya sendiri.

Dalam kondisi tersebut, perempuan tidak lagi diperlakukan sebagai manusia dengan kehendak dan pilihan, melainkan sebagai objek yang dapat digunakan sesuai kebutuhan sistem. Bagi Handmaid, tubuh terutama berarti rahim. Ketika tubuh perempuan hanya dihargai berdasarkan kemampuannya untuk hamil dan melahirkan, kegagalan reproduksi pun diperlakukan seperti kerusakan sebuah benda.

Baca Juga: ‘Marni: The Story of Wewe Gombel’ Gugat Rahim Patriarki yang Memaksa Korban Kekerasan Jadi Monster

Salah satu hal yang membuat sistem Gilead begitu mengerikan adalah cara Atwood memperlihatkan bahwa patriarki tidak selalu bekerja melalui laki-laki secara langsung. Sistem tersebut juga dapat dipertahankan melalui perempuan yang ditempatkan dalam posisi tertentu untuk mengawasi, mendisiplinkan, bahkan menindas perempuan lain.

Selain Handmaids, terdapat para istri Commander dan Aunts. Para Aunts memiliki kewenangan untuk mendisiplinkan dan menghukum Handmaids yang dianggap tidak patuh. Mereka menjadi bagian penting dari mekanisme kontrol terhadap tubuh dan perilaku perempuan.

Atwood menunjukkan bagaimana perempuan dapat diperalat untuk menjalankan sistem yang pada akhirnya juga merugikan mereka sendiri. Sebagaimana tergambar dalam narasi, “cara terbaik dan paling efisien untuk mengendalikan para perempuan untuk kepentingan reproduksi dan kepentingan lainnya adalah melalui para perempuan itu sendiri.”

Perempuan kemudian memiliki posisi yang kontradiktif: mereka sama-sama hidup dalam sistem patriarki, tetapi ditempatkan dalam tingkatan yang berbeda. Ada yang ditindas secara langsung, ada pula yang diberi sedikit kuasa untuk memastikan perempuan lain tetap tunduk. Namun, kuasa tersebut tidak membuat mereka benar-benar bebas.

Hal ini terlihat pada Serena Joy, istri seorang Commander. Sebelum Republik Gilead berdiri, Serena Joy merupakan seorang penyanyi dan figur publik yang aktif menyampaikan gagasan tentang pentingnya perempuan berada di rumah. Namun, setelah sistem yang ia dukung berkuasa, ia justru kehilangan kebebasan untuk menjalani kehidupannya sendiri.

Baca Juga: Mengapa Rhaenyra Ditolak dalam ‘House of The Dragon’? Melihat Politik Patriarki Bekerja

“Dia tidak lagi bernyanyi saat itu, dia membuat pidato. Dia begitu mahir dalam membuat pidato. Pidatonya adalah tentang kesakralan rumah, tentang bagaimana para perempuan harus tinggal di rumah.”

Ironinya, gagasan yang dahulu ia sebarkan kemudian menjadi penjara bagi dirinya sendiri. Serena Joy tidak lagi memiliki ruang untuk menentukan kehidupannya. Ia tinggal di rumah, geraknya terbatas, dan ruang sosialnya praktis hanya berada di antara para istri Commander lainnya.

“Dia tidak membuat pidato lagi. Ia telah menjadi tanpa suara. Ia tinggal di rumah, namun sepertinya itu tidak cocok dengannya. Ia pasti begitu marah, sekarang bahwa orang-orang menanggapi ucapannya dengan sungguh-sungguh.”

Di sinilah kritik Atwood terasa kuat: sistem patriarki tidak hanya mengambil kebebasan dari perempuan yang secara langsung ditempatkan sebagai objek reproduksi. Perempuan yang terlihat memiliki status lebih tinggi pun tetap harus tunduk kepada laki-laki yang berada di puncak hierarki.

Bahkan ketika seorang Commander gagal membuat seorang perempuan hamil, beban kegagalan tersebut tetap diarahkan kepada perempuan. Tekanan, tuntutan, dan hukuman secara sistematis diarahkan kepada mereka. Perempuan yang tidak mampu hamil dianggap tidak berguna dan dapat disingkirkan.

Dengan demikian, semua perempuan membayar harga untuk mempertahankan sistem Gilead—melalui tubuh, kebebasan, dan agensi mereka.

Baca Juga: Ester Pandiangan: Ini Proses Saya Menulis Buku ‘Bau Tubuh Perempuan’

“Kemudaan mereka menyentuh hati, tetapi aku tahu bahwa aku tidak bisa tertipu olehnya. Mereka yang masih muda sering kali adalah yang paling berbahaya, paling fanatik, yang paling mudah gugup dengan senjata mereka. Mereka belum belajar tentang kehidupan melalui waktu. Kau harus berhati-hati dengan mereka. Minggu lalu mereka menembak seorang perempuan, tepat di sekitar sini.”

Melalui pengamatan Offred, Atwood juga memperlihatkan bagaimana sistem yang represif membentuk manusia di dalamnya. Kekerasan tidak hanya dilakukan oleh mereka yang secara langsung memegang kekuasaan. Anak-anak muda dan laki-laki biasa pun dapat menjadi bagian dari sistem karena mereka dibesarkan dalam struktur yang menormalisasi kekerasan, kepatuhan, dan kontrol terhadap perempuan.

Namun, penting untuk melihat bahwa The Handmaid’s Tale tidak meromantisasi relasi kuasa tersebut. Adegan-adegan seksual dalam novel justru digambarkan secara kering dan klinis. Offred tidak menceritakan pengalaman kekerasan seksualnya sebagai sesuatu yang romantis atau erotis. Ia mengalaminya secara impersonal dan terdisosiasi—sebagai pengalaman traumatis yang harus dilewati untuk bertahan hidup.

Tidak ada upaya untuk menjadikan Commander sebagai pasangan romantis atau membenarkan kekerasan seksual yang dilakukan atas nama reproduksi. Offred tidak melihatnya sebagai hubungan yang setara. Ia memahami bahwa tubuhnya sedang digunakan oleh seseorang yang memiliki kekuasaan jauh lebih besar darinya.

Baca Juga: Novel Makhluk Bumi: Saat Rahim, Patuh, dan Luka Jadi Medan Kontrol atas Tubuh Perempuan

Karena itu, Commander tidak pernah ditempatkan sebagai korban dalam relasi tersebut. Ia tetap menjadi penguasa, sementara Offred berada dalam posisi yang tidak memiliki kebebasan untuk menolak. Relasi mereka dibentuk oleh hukum, struktur sosial, dan ketimpangan kuasa yang ekstrem.

Justru melalui relasi inilah Atwood memperlihatkan bagaimana hukum dapat digunakan untuk merampas hak tubuh dan agensi perempuan. Ketika negara memiliki kewenangan untuk menentukan siapa yang boleh menggunakan tubuh perempuan, kapan perempuan harus hamil, dan bagaimana perempuan harus menjalani kehidupannya, kekerasan tidak lagi menjadi tindakan individual semata. Ia menjadi kekerasan yang dilembagakan.

Pada akhirnya, The Handmaid’s Tale bukan hanya cerita tentang perempuan yang kehilangan hak atas tubuhnya. Novel ini juga merupakan kritik terhadap sistem yang mampu membuat perampasan tersebut terlihat normal, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang bermoral.

Baca Juga: Refleksi Novel ‘The Little Prince’, Apalah Arti Usia Saat Anak Lebih ‘Dewasa’ dari Orang Dewasa?

Perempuan dikondisikan untuk merelakan tubuh mereka. Sebagian perempuan diberi peran untuk memastikan perempuan lain patuh. Mereka yang menentang akan dihukum. Sementara laki-laki ditempatkan sebagai pemimpin, penguasa, dan “pemberi benih”. Dalam sistem semacam ini, manusia direduksi menjadi fungsi yang harus mereka jalankan.

“Aku kecewa. Saat itu, aku ingin menjadikannya seperti seorang kakak, seorang sosok ibu, seseorang yang akan mengerti dan melindungiku.”

Ketiadaan solidaritas antarsesama perempuan juga menjadi bagian penting dari kritik Atwood. Sistem yang menempatkan perempuan dalam posisi saling mengawasi membuat mereka sulit membangun kepercayaan dan solidaritas. Bahkan ketika mereka sama-sama mengalami penindasan, struktur yang ada memaksa mereka untuk saling mencurigai.

Namun, justru di tengah sistem yang berusaha menghapus agensi tersebut, suara Offred menjadi penting. Ia mengingat, mengamati, mempertanyakan, dan menceritakan. Narasinya menjadi bentuk perlawanan terhadap sistem yang ingin menjadikannya sekadar tubuh tanpa suara.

The Handmaid’s Tale pada akhirnya memperlihatkan bahwa perampasan hak atas tubuh perempuan tidak pernah berhenti pada tubuh itu sendiri. Ketika tubuh dikendalikan, kebebasan, pekerjaan, ekonomi, relasi sosial, dan suara perempuan ikut dikendalikan. Begitu pula ketika laki-laki diposisikan semata-mata sebagai penguasa, mereka pun kehilangan sisi kemanusiaannya.

Baca Juga: ‘My Crazy Feminist Girlfriend’ Menantang Male Gaze Asia Timur dan Panik Maskulin Atas Feminisme

Gilead adalah sistem yang melakukan dehumanisasi terhadap semua orang, tetapi tidak dalam posisi yang sama. Perempuan menanggung beban penindasan yang jauh lebih besar karena tubuh dan reproduksi mereka dijadikan pusat kontrol negara. Karena itu, kritik terhadap Gilead bukan sekadar kritik terhadap laki-laki atau agama, melainkan terhadap sebuah sistem kekuasaan yang menggunakan keduanya untuk membenarkan penghilangan hak dan kebebasan manusia.

Dan mungkin, di situlah kekuatan utama The Handmaid’s Tale: ia mengingatkan bahwa tubuh perempuan tidak pernah seharusnya menjadi milik negara, agama, laki-laki, atau sistem apa pun. Tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

(sumber foto: Goodreads, Poetry Foundation)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.