Serangkaian banjir bandang dan longsor di Sumatera pada November–Desember 2025 menewaskan lebih dari seribu orang dan merusak ribuan rumah. Bencana ini memperlihatkan bagaimana deforestasi, pembukaan hutan, dan lemahnya perlindungan daerah tangkapan air telah memperparah dampak hujan ekstrem. Pada 27 Desember 2004, saya duduk menatap layar komputer di kantor saya di Jakarta. Pikiran saya saat itu masih sibuk merencanakan pesta Tahun Baru bersama teman-teman beberapa hari kemudian. Tak lama, telepon di meja saya berdering tanpa henti. Beberapa kolega menelepon dengan nada cemas—kantor kami di Sumatera Utara tak dapat dihubungi—lalu meminta saya memeriksa berita daring. Apa yang semula saya kira akan menjadi penutup tahun yang menyenangkan perlahan berubah menjadi kenyataan yang mengerikan. Gempa megathrust memicu tsunami raksasa yang meluluhlantakkan Aceh. Laporan resmi menyebutkan lebih dari 200.000 orang kehilangan nyawa. Pada November 2025, mimpi buruk itu seakan terulang. Musim hujan datang lebih awal. Sejak September, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan potensi bencana hidrometeorologi—banjir dan longsor—di sejumlah provinsi, dengan November–Desember sebagai puncak musim hujan di Sumatera dan Kalimantan. Namun, peringatan itu nyaris seperti diacuhkan. Berbagai video banjir beredar di media sosial, tetapi satu video pada 26 November 2025 benar-benar menghantui saya. Rekaman video buram itu memperlihatkan puluhan orang berjongkok di lereng hutan, diguyur hujan lebat, tubuh mereka terbungkus jas hujan plastik. “Pak bupati, tolong kami di sini. Kami sudah di tengah hutan. Kiri-kanan sudah longsor,” teriak perekam video, sebelum sambungan terputus. Sehari sebelumnya, lebih dari 50 orang terjebak selama dua malam di kawasan hutan Tapanuli, Sumatera Utara, akibat banjir dan…This article was originally published on Mongabay
Opini: Bencana Sumatera 2025 dan Deforestasi, Mengapa Ini Harus Menjadi Titik Balik dan Harapan?
Opini: Bencana Sumatera 2025 dan Deforestasi, Mengapa Ini Harus Menjadi Titik Balik dan Harapan?





Comments are closed.