Wed,15 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Oyode Shadat: Puji-pujian Lawas dan Kearifan Doa di Tajug

Oyode Shadat: Puji-pujian Lawas dan Kearifan Doa di Tajug

oyode-shadat:-puji-pujian-lawas-dan-kearifan-doa-di-tajug
Oyode Shadat: Puji-pujian Lawas dan Kearifan Doa di Tajug
service

Anda mungkin pernah dengar dari para mubalig bahwa fenomena akhir zaman yaitu semakin ramainya acara konser dan hiburan serta semakin surutnya jamaah di langgar (musala) sekitar.

Pernyataan itu tanpa isapan jempol belaka karena memang faktanya demikian. Di tempat saya (Indramayu-Jabar) langgar atau musala biasa kami sebut tajug. Kata tajug telah berkembang lama era Sunan Gunung Jati bahkan hingga saat ini.

Tak heran jika tajug-tajug begitu nampak sepi. Jika kita lihat tajug-tajug di desa paling isinya hanya imam dan dua makmum, itu juga satunya adalah anak kecil yang belum balig (cukup umur). Paling populer yaitu imam dan makmumnya hanya seorang diri bahkan tak jarang kita jumpai semua dari mulai membersihkan tajug, azan iqamat, imam dan makmum semua dirangkap oleh satu orang.

Memang sangat miris keadaan seperti ini. Tajug sebagai tempat ibadah hanya dimonopoli oleh mbah-mbah sepuh yang bagi kaum muda sudah wayahnya menghadap kepada sang pencipta. Sehingga tak aneh jika yang banyak ibadah yaitu kalangan generasi old. Lalu ke mana generasi mudanya? tentu saya tidak tau, coba tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Selama ada orang sepuh selama itu pula tajug masih dikatakan aman walaupun antara hidup dan mati. Setidaknya masih ada yang mengumandangkan azan. Selain azan salah satu yang tak hilang di tajug adalah puji-pujian khasnya. Biasanya pujian itu dilantunkan setelah selesai dikumandangkannya azan.

Pastinya pujian lawas itu hanya orang tua sepuh saja yang masih melantunkannya. Walau dengan suara seadanya mereka masih mendengungkan syiiran itu dengan penuh penghayatan. Berbeda dengan anak sekarang yang sudah gandrung dengan syiiran Arab kontemporer yang entah apakah paham artinya atau tidak. Tapi semua tak masalah, sebab intinya mengajak kepada kebaikan.

Di tajug tempat saya ngaji dan salat dulu bahkan hingga saat ini masih sering saya dapati puji-pujian khas menunggu imam dan jamaah lain datang. Pujian tersebut diberi judul “Oyode Shadat”. Begini teks lengkapnya:

Oyode shadat, wit e iman godonge sholat

Woh e dzikir, kembange puji-pujian

ya Allah

Duh gusti, kula nyuwun pangampura

Sekatahe dosa kawula

Lan dosane tiyang sepuh kali kula

Lan dosane dulur Islam sedaya

Ayun-ayun badan, badan siji dadi susahe ati

Wong ing dunya sugih dosa, ning akherat dipun siksa

Laailaahaillah.. laailaahaillah.. laailaahaillah

Mukammadur Rasululloh

Kurang lebih artinya begini:

Akarnya shadat, pohonya iman daunya sholat

buahnya dzikir, bunganya puji-pujian

Ya Allah

Ya Allah, saya memohon pengampunan

Karena banyaknya dosa saya

Dan dosanya kedua orang tua saya

Dan dosanya saudara Islam semuanya

Menimang-nimang badan, badan yang satu jadi susahnya hati

Orang di dunia banyak dosa, di akhirat akan disiksa

Laailaahaillah.. laailaahaillah.. laailaahaillah

Mukammadur Rasululloh

Mendengar syiir pujian yang dilantunkan sebelum salat tersebut tentu mengingatkan kita akan makna yang terkandung di dalamnya. Pujian tersebut memiliki kearifan bahwa memuji Tuhan tidak melulu dengan bahasa Arab melainkan boleh dengan bahasa apapun. Karena Tuhan maha mengerti apa yang diucapkan hambanya sekalipun berada dalam hati.

Pujian itu juga menjelaskan tentang keimanan seseorang yang diilustrasikan lewat bagian pepohonan. Sejak awal sebagai penguat dasar agama bahwa orang Islam harus dilandasi dengan syahadat. Sebab syahadatlah kunci pembuka bahwa seseorang dinyatakan masuk Islam. Setelah Islam mereka lalu menuju ke tahap selanjutnya yaitu menumbuhkan iman, menegakkan salat, melahirkan zikir dan pujian (syukur).

Selanjutnya permohonan ampunan bahwa manusia tempatnya salah dan dosa. Memohonkan ampunan adalah hal yang mendasar bagi setiap mahluk baik disadari atau tidak. Kecenderungan memohon ampunan salah satu faktornya karena rasa takut bahwa di akhirat nanti manusia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.

Sifat khauf memang salah satu yang mendasari orang-orang giat dalam ibadah hal ini seperti tercermin pada era kezuhudan sebelum istilah tasawuf berkembang. Pada zaman ini orang menghamba kepada Tuhan karena rasa takut yang berlebihan. Menganggap bahwa Allah itu al Jalal (perkasa lagi menghukum) padahal sifat Allah yang lain adalah al Jamal (maha indah) dan al ghofur (maha pengampun). Maka dari itu seiring berjalannya waktu cara ketaatan seperti ini dikritik oleh banyak pihak seperti halnya dulu dengan kemunculan Rabi’ah Adawiyah yang memberi pengertian bahwa ibadah semata-mata karena rasa cinta, bukan karena pahala atau kavelingan surga.

Terakhir, dalam syiir pujian tersebut terdapat doa yang ditujukan kepada orang tua, guru dan saudara sesama muslim. Doa tersebut sengaja dialamatkan kepada mereka sebagai wujud syukur dan terima kasih atas apa yang telah diberikan selama ini. Akan tetapi secara eksklusif doa hanya diberikan kepada sesama muslim ini artinya bahwa doa hanya milik mereka yang memiliki kesamaan dalam keyakinan.

Mereka meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang wajib disembah dan menciptakan. Sehingga sebagai sesama yang meyakini tentang keesaan Allah sebagai Tuhan yang absolut maka perlu adanya legitimasi doa tersebut. Berbeda lagi dengan orang di luar Islam karena perbedaan keyakinan itulah doa tersebut tidak diperuntukkan buat mereka.

Puji-pujian tersebut sesungguhnya telah didesain sebagai sebuah syiiran bahwa persatuan sesama muslim harus terus dipupuk dan dipertahankan. Sebab diakhir zaman ini masih banyak kelompok yang menaruh sinisme terhadap Islam. Mereka terus berupaya membenturkan Islam dengan segala hal. Maka dari itu persatuan sesama muslim walau berbeda tetap dirawat dengan baik. Karena bagaimanapun keadaannya sesama muslim adalah saudara kita sejak di dunia hingga kelak di akhirat.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.