Selama ini, penggunaan antibiotik masih menjadi pilihan utama dalam pengendalian penyakit. Tak hanya di manusia, tapi juga bagi sektor akuakultur.
Namun, menurut Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Sri Nuryati, pendekatan ini dinilai tidak lagi efektif dalam jangka panjang. Terutama karena meningkatnya risiko resistensi antimikroba serta potensi residu pada produk perikanan.
“Penggunaan antibiotik itu paradigma lama. Harus dikurangi bahkan ditinggalkan, karena dampaknya tidak baik untuk jangka panjang,” ujarnya dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University di Kampus IPB Dramaga, 25 April 2026.
Sri menegaskan masa depan akuakultur harus berorientasi pada sistem yang lebih aman dan berkelanjutan. “Ke depan, akuakultur harus menjamin aspek keamanan pangan dan kesehatan organisme. Paradigmanya bukan lagi mengobati penyakit, tetapi mencegah sejak awal,” kata dia menegaskan.
Ia mengatakan, alternatif pendekatan berbasis pencegahan antara lain pemanfaatan imunostimulan, probiotik, hingga vaksinasi. Negara seperti Norwegia, terbukti berhasil dalam mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik melalui penerapan vaksin.
“Di Norwegia, hampir 99 persen akuakultur sudah tidak menggunakan antibiotik lagi. Mereka beralih ke vaksinasi, dan itu terbukti efektif meningkatkan kelangsungan hidup ikan,” jelasnya.
Vaksin bekerja dengan melatih sistem imun organisme budi daya agar lebih siap menghadapi patogen. “Prinsipnya sama seperti vaksin pada manusia. Organisme dilatih terlebih dahulu, sehingga saat patogen datang, responsnya sudah lebih cepat dan kuat,” katanya.
Menariknya, ucap dia, pengembangan vaksin kini juga mulai diarahkan pada udang, yang sebelumnya dianggap tidak dapat divaksin karena hanya memiliki sistem imun bawaan (innate immunity). Namun, penelitian terbaru menunjukkan adanya mekanisme trained immunity yang memungkinkan udang memberikan respons protektif terhadap infeksi berulang.
Menurut dia, memang dulu dianggap tidak bisa, karena udang tidak punya sel memori. Tapi sekarang kita tahu bahwa imunitasnya bisa dilatih. “Ini membuka peluang besar untuk pengembangan vaksin udang,” ungkapnya.
Di tengah ketidakpastian iklim dan meningkatnya risiko penyakit, transformasi menuju sistem akuakultur berbasis pencegahan dinilai semakin mendesak. Integrasi antara inovasi teknologi, praktik budi daya yang baik, serta kesiapan pelaku usaha menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan sektor ini.
“Ke depan, kunci utamanya adalah pencegahan. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Itu yang harus menjadi arah pengembangan akuakultur kita,” tuturnya.





Comments are closed.