Sun,10 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Top News
  3. Paviliun Indonesia di Venice Biennale Arte hadirkan karya 7 perupa

Paviliun Indonesia di Venice Biennale Arte hadirkan karya 7 perupa

paviliun-indonesia-di-venice-biennale-arte-hadirkan-karya-7-perupa
Paviliun Indonesia di Venice Biennale Arte hadirkan karya 7 perupa
service

Jakarta (ANTARA) – Paviliun Indonesia di Venice Biennale Arte 2026 hadirkan pameran bertajuk “Printing the Unprinted” yang menampilkan karya terbaik dari tujuh perupa tanah air lintas generasi dalam medium seni cetak grafis.

Dikutip dari siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu, pameran ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Danantara Indonesia Trust Fund, dengan kurator Aminudin TH Siregar, berlangsung di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia.

Para seniman menghadirkan narasi pelayaran abad ke-15 untuk menghidupkan kembali kisah pelayaran selama 14 tahun (1472-1486) yang diciptakan secara bersama atas kolaborasi tujuh seniman, di antaranya Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.

Pertama, terdapat karya yang bercerita tentang perjalanan armada yang dikisahkan melalui sudut pandang Datu Na Tolu Hamonangan, seorang arsiparis imajiner dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra, bertolak dari Danau Toba, menyusuri pesisir Sumatra Barat, Malaka, Teluk Benggala, Gujarat, Hormuz, Laut Merah, Aleksandria, hingga akhirnya mencapai Venesia dan Eropa Tengah.

Baca juga: Kemenbud dorong memperkuat seni rupa RI di Venice Biennale 2026

Ia mendokumentasikan perjalanan ini dalam manuskrip Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage.

Selama berabad-abad, manuskrip ini menyimpan misteri, yaitu himpunan cetakan etsa, gambar, sketsa dan teks yang menunggu untuk ditemukan dan dimaknai. Manuskrip ini memuat 21 etsa yang dibagi ke dalam 8 babak membentuk narasi yang kaya dari berbagai sudut pandang.

Kisah kedua dengan tema Sea Power and Navigation berkisah tentang Sang Admiral yang memimpin armada. Admiral Mangaraja Laut Mangiring pada 1472, mempelajari rute bintang dan peta-peta Arab dari Malaka sebelum bertolak mengikuti angin monsun barat daya bersama navigator Batak, juru mudi Melayu, penerjemah Tamil, dan astronom Persia.

Kapalnya menghadapi badai dahsyat di Selat Hormuz, dan empat belas tahun kemudian, sang admiral pulang dengan rambut yang telah memutih dan membawa pulang pengetahuan bahwa laut menghubungkan dunia-dunia yang jauh menjadi satu.

Perjalanan ini divisualisasikan oleh R.E. Hartanto melalui tiga lembar etsa berjudul Departure Under the Southwest Monsoon Wind (1472); Storm Off Hormuz; dan The Aging Admiral’s Face.

Bagian ketiga menggambarkan kisah Sang Navigator dengan tema Maps and Astronomy yang dibuat oleh Syahrizal Pahlevi yang membuat visualisasi dalam tiga lembar etsa berjudul Rewriting the Circle of the World; Library of Florence; dan The Inversion of the World Map.

Babak keempat menceritakan tentang Sang Naturalis dengan tema Flora and Fauna, yang divisualisasikan oleh Rusyan Yasin dalam tiga etsa berjudul Camphor Specimens and Andalas Wood; Encounters in the Alps; dan Garden of Two Climates.

Baca juga: Sapta Nirwandar nilai Venice Biennale strategis untuk diplomasi budaya

Babak selanjutnya, yang kelima, mengangkat tema Faces and Culture yang bercerita tentang Masyarakat. Pelayaran ini juga adalah pertemuan manusia dengan manusia.

Di Pelabuhan Malaka, bahasa Arab, Tamil, Melayu, dan Tionghoa bercampur dalam situasi perdagangan global. Di pasar musim dingin Venesia, digambarkan orang-orang Eropa menyentuh kain ulos, pelaut Batak mencicipi keju dan roti gandum, dan anak-anak Eropa, dilukiskan oleh Mariam Sofrina melalui tiga lembar etsa berjudul Port of Malacca; Winter Market in Venice; dan West Gorga.

Sementara itu, pada bagian keenam, mengangkat tema Technology and Symbolism yang dieksplorasi oleh Nurdian Ichsan bercerita tentang para Seniman dan Perajin. Melalui tiga etsa berjudul Forging Iron at Lake Toba; Glass and Mechanical Clocks; dan The Hybrid Emblem of Harajaon, dikisahkan pertukaran budaya yang semakin mendalam, para perajin membentuk teknologi dan simbol-simbol baru.

Babak terakhir mengisahkan tentang Kaum Intelektual yang digambarkan Theresia Agustina Sitompul dalam tiga etsa berjudul Pre-Departure Ritual, Cathedral and the Echo of Gondang dan Return to Silence menggambarkan lapisan terdalam perjalanan ini yang mengalirkan sebuah perenungan spiritual.

Dalam rangkaian program ini sepanjang residensi, para perupa, selain menghasilkan karya etsa yang terinspirasi dari manuskrip fiksi ini, juga menciptakan karya individual.

Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 tidak hanya menghadirkan praktik seni cetak grafis sebagai medium artistik, tetapi juga sebagai ruang pembacaan ulang sejarah, pengetahuan, dan imajinasi kolektif Nusantara.

Keikutsertaan Indonesia di Venesia menegaskan peran kebudayaan sebagai jembatan dialog, pertukaran gagasan, dan penguatan posisi Indonesia dalam percaturan seni internasional.

Baca juga: Dua karya Indonesia di Venice Biennale angkat tradisi Melayu

Baca juga: Indonesia kembali tampil di pameran Venice Biennale 2026

Baca juga: Fadli: Venice Biennale ajang promosi budaya Indonesia pada dunia

Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.