Mubadalah.id – Ada satu kalimat yang terus terngiang setelah saya mendampingi istri menjalani persalinan: menghadirkan bayi ke muka bumi bukan tanggung jawab satu pihak.
Tubuh yang mengandung dan melahirkan memang tubuh perempuan. Rasa sakit kontraksi, proses pembukaan, tindakan medis, hingga pemulihan setelah persalinan berlangsung di tubuhnya. Namun, kehamilan dan kelahiran anak tidak semestinya dipahami sebagai beban yang hanya menjadi urusan perempuan.
Ada pasangan yang menjalani proses tersebut bersama-sama. Ada keluarga yang ikut memberikan dukungan dan ada tenaga kesehatan yang bekerja memastikan keselamatan ibu dan bayi. Juga ada pula lingkungan sosial dan negara yang seharusnya memastikan setiap perempuan mendapatkan layanan kesehatan yang layak.
Di situlah saya mulai memahami bahwa persalinan bukan hanya tentang bagaimana seorang perempuan bertahan menghadapi rasa sakit. Ia juga menjadi ruang untuk melihat sejauh mana laki-laki, keluarga, masyarakat, dan negara bersedia berbagi tanggung jawab dalam merawat kehidupan.
Bukan Sekadar Cerita
Sebelum mengalami sendiri, pemahaman saya tentang persalinan lebih banyak berasal dari cerita orang lain dan berbagai informasi yang saya temukan di media sosial.
Dalam banyak tayangan, proses melahirkan sering terlihat sederhana. Seorang perempuan mengejan, suami berada di sampingnya, tenaga medis memberikan arahan, lalu bayi lahir dengan selamat. Namun, kenyataan di ruang persalinan jauh lebih kompleks.
Ketika mendampingi istri, saya melihat bahwa persalinan tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga keputusan yang cepat, komunikasi yang baik, kesiapan mental, dan dukungan dari orang-orang di sekitar ibu.
Ketuban istri pecah sebelum pembukaan pertama. Karena kontraksi belum berkembang sebagaimana yang diharapkan, ia kemudian mendapatkan induksi untuk merangsang kontraksi.
Sejak sekitar pukul delapan pagi hingga sore, tubuhnya terus menghadapi kontraksi. Awalnya ia masih dapat menahannya. Namun, semakin waktu berjalan, rasa sakit semakin kuat. Rintihan berubah menjadi tangisan dan teriakan setiap kali kontraksi datang.
Saya berada di sampingnya, tetapi saya tahu bahwa saya tidak bisa menggantikan rasa sakit yang sedang ia alami. Kesadaran itu justru membuat saya berpikir bahwa pendampingan tidak boleh berhenti pada kehadiran fisik.
Mendampingi berarti ikut memahami informasi, mendengarkan keinginan pasangan, berdiskusi dengan tenaga kesehatan, dan bersama-sama mengambil keputusan berdasarkan kondisi yang sedang dihadapi.
Ketika Keputusan Harus Diambil Bersama
Sekitar pukul lima sore, pembukaan masih berada pada tahap awal. Istri mulai merasa tidak sanggup melanjutkan proses persalinan normal. Kami kemudian berkonsultasi dengan bidan.
Secara medis, proses persalinan masih mungkin dilanjutkan. Namun, ada risiko bahwa tenaga istri semakin terkuras apabila proses berlangsung lebih lama.
Pada saat itu, kami dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana. Haruskah menunggu proses persalinan berjalan lebih jauh atau mengambil tindakan operasi?
Keputusan tersebut tidak seharusnya menjadi pertarungan antara keinginan suami, keluarga, atau bahkan pandangan sosial tentang persalinan yang dianggap “lebih baik”.
Yang utama adalah keselamatan ibu dan bayi. Saya kemudian bertanya kepada istri apakah ia masih sanggup. Ia menggeleng.
Jawaban itu menjadi bagian penting dalam pertimbangan kami. Tubuhnya yang mengalami proses tersebut harus didengarkan. Namun, keputusan juga perlu dibicarakan bersama tenaga kesehatan berdasarkan kondisi medis yang ada.
Akhirnya, sekitar pukul tujuh malam, istri menjalani operasi sesar atau Sectio Caesarea. Tidak ada yang perlu dirayakan sebagai kemenangan dan tidak ada pula yang perlu dianggap sebagai kegagalan. Persalinan normal maupun operasi sesar bukan ukuran keberanian seorang ibu.
Seorang perempuan tidak menjadi lebih kuat hanya karena melahirkan secara normal. Sebaliknya, perempuan yang menjalani operasi sesar juga tidak menjadi kurang hebat.
Setiap persalinan memiliki kondisi dan pertimbangannya sendiri. Yang paling penting adalah keselamatan ibu dan bayi.
Setelah Bayi Lahir, Tanggung Jawab Justru Bertambah
Sekitar 34 menit kemudian, bayi perempuan kami lahir. Tangisan bayi itu menghadirkan kelegaan setelah ketegangan panjang sejak pagi.
Namun, kelahiran anak bukan akhir dari perjuangan. Bagi ibu, proses pemulihan baru dimulai.
Istri harus menghadapi rasa sakit akibat luka operasi, sementara bayi membutuhkan perhatian hampir sepanjang waktu. Bayi harus disusui, digendong, diganti popok, ditenangkan ketika menangis, dan dirawat sepanjang hari.
Pada saat yang sama, ibu membutuhkan istirahat dan pemulihan. Di sinilah saya semakin memahami bahwa pembagian peran dalam keluarga tidak boleh berhenti pada slogan.
Ketika ibu sedang memulihkan tubuhnya, pasangan perlu mengambil bagian dalam pekerjaan yang dapat dilakukan. Menggendong bayi, mengganti popok, menyiapkan makanan, mencuci perlengkapan bayi, membersihkan rumah, menemani kontrol, atau sekadar memastikan ibu dapat tidur beberapa jam merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
Merawat bayi bukan “membantu istri”. Itu adalah tanggung jawab orang tua.
Begitu pula pekerjaan rumah tangga bukan pekerjaan perempuan yang sesekali dibantu laki-laki. Pekerjaan tersebut merupakan kebutuhan keluarga yang seharusnya dikerjakan bersama sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.
Bagi saya, hal ini penting karena bahasa yang kita gunakan sering kali tanpa sadar memperlihatkan bagaimana kita memahami relasi dalam keluarga.
Ketika laki-laki mengganti popok anak disebut “membantu istri”, misalnya, seolah-olah anak tersebut adalah tanggung jawab utama ibu. Padahal, anak adalah tanggung jawab bersama.
Pentingnya Menerapkan Kesalingan
Pengalaman tersebut membuat saya melihat kembali makna relasi suami dan istri.
Dalam perspektif mubadalah, hubungan laki-laki dan perempuan tidak dibangun atas dasar siapa yang paling dominan dan siapa yang harus melayani. Keduanya merupakan subjek yang memiliki martabat dan tanggung jawab untuk saling memberi manfaat, saling menjaga, dan saling menguatkan.
Prinsip ini menjadi sangat penting dalam menghadapi kehamilan, persalinan, dan pengasuhan. Perempuan memang mengalami perubahan biologis yang tidak dialami laki-laki. Karena itu, laki-laki tidak dapat mengatakan bahwa kehamilan adalah urusan perempuan hanya karena proses biologisnya terjadi di tubuh perempuan.
Sebaliknya, perbedaan biologis tersebut justru menuntut pembagian tanggung jawab yang lebih adil. Ketika perempuan mengalami mual, kelelahan, atau nyeri, pasangan perlu hadir. Ketika perempuan harus menjalani persalinan, pasangan perlu terlibat dalam pengambilan keputusan.
Bahkan, ketika perempuan membutuhkan pemulihan setelah melahirkan, pasangan perlu mengambil porsi pengasuhan dan pekerjaan domestik yang lebih besar sesuai kebutuhan.
Dan ketika bayi lahir, keduanya perlu belajar menjadi orang tua bersama-sama. Kesalingan bukan berarti membagi semua pekerjaan secara matematis menjadi 50:50 dalam setiap keadaan.
Ada masa ketika salah satu pihak membutuhkan dukungan lebih besar. Ketika istri baru menjalani operasi, misalnya, tentu porsi pekerjaan yang suami lakukan bisa menjadi lebih banyak.
Pada kesempatan lain, ketika suami mengalami kondisi tertentu, pasangan juga dapat mengambil porsi lebih besar. Kesalingan berarti bersedia membaca kebutuhan satu sama lain dan berbagi tanggung jawab secara adil.
Tidak Semua Ibu Memiliki Support System
Setelah proses persalinan selesai dan keadaan mulai tenang, pikiran saya justru mengarah kepada perempuan lain yang menjalani pengalaman serupa tanpa dukungan yang memadai.
Bagaimana seorang ibu melewati rasa sakit ketika tidak ada pasangan yang mendampingi? Bagaimana ia mengurus bayi ketika tubuhnya sendiri belum pulih? Lalu bagaimana ia mendapatkan makanan yang cukup, layanan kesehatan, waktu istirahat, dan dukungan menyusui?
Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kesalingan tidak cukup hanya kita bangun di dalam rumah. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab.
Perempuan yang melahirkan membutuhkan layanan kesehatan yang aman, informasi yang benar, dan ruang untuk mengambil keputusan berdasarkan kondisi tubuhnya.
Keluarga juga perlu berhenti membandingkan pengalaman satu ibu dengan ibu lainnya. Kalimat seperti “dulu saya melahirkan normal dan baik-baik saja” mungkin terdengar mudah. Namun, pengalaman satu orang tidak dapat kita jadikan ukuran untuk menentukan pengalaman orang lain.
Begitu pula keputusan operasi sesar tidak seharusnya menjadi bahan stigma. Sebab, setiap perempuan memiliki kondisi kesehatan, kehamilan, dukungan, dan keputusan medis yang berbeda.
Perempuan Lebih Sulit
Pengalaman mendampingi persalinan juga membuat saya memikirkan perempuan yang menjalani kehamilan, persalinan, dan pengasuhan dalam situasi yang jauh lebih sulit. Salah satunya adalah perempuan yang sedang menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan.
Hukum tetap memiliki fungsi. Pelanggaran hukum tetap memiliki konsekuensi. Namun, penghukuman tidak seharusnya menghapus martabat dan kebutuhan dasar manusia.
Perempuan yang hamil tetap membutuhkan pemeriksaan kehamilan. Bahkan, perempuan yang melahirkan tetap membutuhkan layanan persalinan yang aman. Ibu yang menyusui tetap membutuhkan dukungan kesehatan dan nutrisi.
Dan bayi yang lahir tetap memiliki hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak, terlepas dari status hukum ibunya.
Di sinilah perspektif kesalingan menjadi lebih luas. Kita tidak hanya berbicara tentang hubungan suami dan istri, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan manusia.
Mereka yang memiliki kekuatan memiliki tanggung jawab untuk memastikan mereka yang berada dalam posisi rentan tetap mendapatkan perlindungan.
Merawat Kehidupan adalah Tanggung Jawab Bersama
Pengalaman persalinan akhirnya mengubah cara saya memahami kata “pengorbanan”. Selama ini, pengorbanan seorang ibu sering dipuji sebagai sesuatu yang luar biasa. Namun, pujian saja tidak cukup.
Jika kita mengakui beratnya perjuangan seorang ibu, maka pengakuan tersebut semestinya kita terjemahkan menjadi dukungan nyata.
Suami berbagi pekerjaan rumah dan pengasuhan. Keluarga memberikan dukungan tanpa menghakimi. Tenaga kesehatan memberikan layanan yang aman dan menghormati keputusan pasien. Masyarakat menciptakan lingkungan yang ramah bagi ibu dan anak. Negara memastikan layanan kesehatan dapat semua orang mengaksesnya .
Inilah bentuk kesalingan dalam kehidupan sehari-hari. Persalinan memang berlangsung di tubuh perempuan, tetapi kehidupan yang lahir darinya bukan tanggung jawab perempuan seorang diri.
Anak yang lahir menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya. Keluarga yang terbentuk menjadi ruang untuk saling merawat.
Dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap keluarga menjalani proses tersebut dengan aman dan bermartabat.
Karena itu, setelah melewati pengalaman tersebut, saya tidak lagi melihat persalinan semata-mata sebagai kisah tentang seorang ibu yang bertaruh nyawa. Saya melihatnya sebagai pengingat bahwa kehidupan selalu lahir dari relasi.
Ada tubuh perempuan yang bekerja keras. Ada pasangan yang mendampingi dan ada tenaga kesehatan yang merawat. Juga ada keluarga yang menopang. Dan ada masyarakat yang seharusnya memastikan semua proses itu berlangsung dengan aman. []





Comments are closed.