Mon,17 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Bukankah Kemerdekaan dan Peradaban Bangsa Lahir Dari Pendidikan?

Bukankah Kemerdekaan dan Peradaban Bangsa Lahir Dari Pendidikan?

bukankah-kemerdekaan-dan-peradaban-bangsa-lahir-dari-pendidikan?
Bukankah Kemerdekaan dan Peradaban Bangsa Lahir Dari Pendidikan?
service

Mubadalah.id – Setiap 17 Agustus, bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan dengan penuh sukacita. Namun, di balik euforia itu, terselip satu pertanyaan yang menggugah nurani. Benarkah sebuah bangsa telah merdeka apabila pendidikan nya masih menyisakan begitu banyak persoalan?

Bicara dinamika pembelajaran di Indonesia, sama saja ngobrolin masa ‘remaja’ nya bangsa. Bagi saya, relasi antara pendidikan, masyarakat, dan negara merupakan cikal bakal lahirnya peradaban dunia.

Seperti adagium Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan harus berakar pada kebudayaan dan kehidupan masyarakat. Dari fondasi inilah lahir kesadaran intelektual yang mengantarkan bangsa Indonesia pada kemerdekaan.

Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Mahbub Junaidi, dan para tokoh nasional lainnya menjadi bukti bahwa kemerdekaan bukan sekadar hasil perjuangan fisik, melainkan juga buah dari pendidikan yang melahirkan pemikiran besar.

Ironisnya akhir-akhir ini sebuah perkataan yang mengganggu nalar pikir keluar dari suara pemimpin negara tercinta:

Kalau ada orang-orang pintar bahwa ada yang lebih penting dari perut yang lapar ya saya persilakan Saudara-saudara, yang saya tahu dari sejarah ribuan tahun peradaban manusia tidak ada masyarakat yang bertahan tanpa pangan, punah, peradaban punah kalau tidak makan”.

Padahal, negara maju seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi lebih maju karena mementingkan pendidikan, meskipun makanan juga penting. Selaras juga dengan perkataan Ibnu Khaldun, aktivitas ajar-mengajar tidak hanya berupa simbolisme, ia mengungkap esensi kemanusiaan, dan pencipta peradaban serta mengembangkan nalar kritis.

Jangan Sampai Pendidikan Bukan Lagi Prioritas

Sebuah wanti-wanti yang genting apabila pendidikan terpinggirkan oleh program lain dari suatu negara. Sebab, setiap kebijakan yang menggeser perhatian negara dari pendidikan sejatinya sedang menggeser arah masa depan bangsa itu sendiri.

Pendidikan di Indonesia masih menghadapi persoalan anggaran, kesejahteraan pendidik, kekerasan di sekolah, serta hambatan administratif yang membatasi inovasi pembelajaran.

Maka, tidak heran lagi ketika sekolah atau universitas hanya menjadi terminal nafas akademik yang befungsi sebagai lokus istirahat sementara.

Jika keadaan ini terus berlangsung, Indonesia memang dapat memiliki lebih banyak gedung sekolah, lebih banyak lulusan, bahkan lebih banyak program ajar. Namun, semua itu belum tentu melahirkan masyarakat yang berpengetahuan, berkarakter, dan mampu membangun peradaban.

Kemuliaan Guru, Memanusiakan Murid, dan Peradaban Yang Maju

Sebagai taukid dari bab sebelumnya, memuliakan guru, memanusiakan murid dan membangun peradaban adalah sebuah harapan akhir untuk mewujudkan kemerdekaaan berpikir dan berpendidikan dengan lebih leluasa.

Menjaga kemuliaan guru atau dosen berarti secara jujur menghargai keprofesionalannya sebagai pengajar dan transmitter ilmu pengetahuan.

Hakikatnya, pengajar perlu terbebas dari beban administratif agar dapat berinovasi dan berfokus pada esensi mengajar. Sejalan dengan itu, memanusiakan murid berarti menempatkan peserta didik sebagai subjek yang memiliki daya nalar, keunikan, serta kebebasan berpikir, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Pendidikan yang memanusiakan adalah perpaduan antara pengetahuan dan praktik. Ia mempertajam pendengaran agar bijaksana, berkata baik, melatih keterampilan, serta meninggikan nurani untuk mengabdi demi kehormatan, hak, agama, dan cinta tanah air.

Kaitannya dengan membangun peradaban, pendidikan lahir berbentuk navigator sebuah bangsa. Jika dalam sebuah negara terdapat tirani yang menganggap akal kritis sebagai ancaman, padahal ia tertatih di jalur pendidikan, maka bagi Al-Kawakibi, itu adalah ciri negara yang tidak punya pondasi keilmuan.

Pada akhirnya, kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh kenyangnya perut, melainkan oleh pendidikan yang melahirkan akal budi dan peradaban yang bermartabat. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.