Mubadalah.id – Setiap 17 Agustus, bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan dengan penuh sukacita. Namun, di balik euforia itu, terselip satu pertanyaan yang menggugah nurani. Benarkah sebuah bangsa telah merdeka apabila pendidikan nya masih menyisakan begitu banyak persoalan?
Bicara dinamika pembelajaran di Indonesia, sama saja ngobrolin masa ‘remaja’ nya bangsa. Bagi saya, relasi antara pendidikan, masyarakat, dan negara merupakan cikal bakal lahirnya peradaban dunia.
Seperti adagium Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan harus berakar pada kebudayaan dan kehidupan masyarakat. Dari fondasi inilah lahir kesadaran intelektual yang mengantarkan bangsa Indonesia pada kemerdekaan.
Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Mahbub Junaidi, dan para tokoh nasional lainnya menjadi bukti bahwa kemerdekaan bukan sekadar hasil perjuangan fisik, melainkan juga buah dari pendidikan yang melahirkan pemikiran besar.
Ironisnya akhir-akhir ini sebuah perkataan yang mengganggu nalar pikir keluar dari suara pemimpin negara tercinta:
“Kalau ada orang-orang pintar bahwa ada yang lebih penting dari perut yang lapar ya saya persilakan Saudara-saudara, yang saya tahu dari sejarah ribuan tahun peradaban manusia tidak ada masyarakat yang bertahan tanpa pangan, punah, peradaban punah kalau tidak makan”.
Padahal, negara maju seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi lebih maju karena mementingkan pendidikan, meskipun makanan juga penting. Selaras juga dengan perkataan Ibnu Khaldun, aktivitas ajar-mengajar tidak hanya berupa simbolisme, ia mengungkap esensi kemanusiaan, dan pencipta peradaban serta mengembangkan nalar kritis.
Jangan Sampai Pendidikan Bukan Lagi Prioritas
Sebuah wanti-wanti yang genting apabila pendidikan terpinggirkan oleh program lain dari suatu negara. Sebab, setiap kebijakan yang menggeser perhatian negara dari pendidikan sejatinya sedang menggeser arah masa depan bangsa itu sendiri.
Pendidikan di Indonesia masih menghadapi persoalan anggaran, kesejahteraan pendidik, kekerasan di sekolah, serta hambatan administratif yang membatasi inovasi pembelajaran.
Maka, tidak heran lagi ketika sekolah atau universitas hanya menjadi terminal nafas akademik yang befungsi sebagai lokus istirahat sementara.
Jika keadaan ini terus berlangsung, Indonesia memang dapat memiliki lebih banyak gedung sekolah, lebih banyak lulusan, bahkan lebih banyak program ajar. Namun, semua itu belum tentu melahirkan masyarakat yang berpengetahuan, berkarakter, dan mampu membangun peradaban.
Kemuliaan Guru, Memanusiakan Murid, dan Peradaban Yang Maju
Sebagai taukid dari bab sebelumnya, memuliakan guru, memanusiakan murid dan membangun peradaban adalah sebuah harapan akhir untuk mewujudkan kemerdekaaan berpikir dan berpendidikan dengan lebih leluasa.
Menjaga kemuliaan guru atau dosen berarti secara jujur menghargai keprofesionalannya sebagai pengajar dan transmitter ilmu pengetahuan.
Hakikatnya, pengajar perlu terbebas dari beban administratif agar dapat berinovasi dan berfokus pada esensi mengajar. Sejalan dengan itu, memanusiakan murid berarti menempatkan peserta didik sebagai subjek yang memiliki daya nalar, keunikan, serta kebebasan berpikir, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Pendidikan yang memanusiakan adalah perpaduan antara pengetahuan dan praktik. Ia mempertajam pendengaran agar bijaksana, berkata baik, melatih keterampilan, serta meninggikan nurani untuk mengabdi demi kehormatan, hak, agama, dan cinta tanah air.
Kaitannya dengan membangun peradaban, pendidikan lahir berbentuk navigator sebuah bangsa. Jika dalam sebuah negara terdapat tirani yang menganggap akal kritis sebagai ancaman, padahal ia tertatih di jalur pendidikan, maka bagi Al-Kawakibi, itu adalah ciri negara yang tidak punya pondasi keilmuan.
Pada akhirnya, kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh kenyangnya perut, melainkan oleh pendidikan yang melahirkan akal budi dan peradaban yang bermartabat. []





Comments are closed.